Buka konten ini
TANJUNGPINANG (BP) – Kementerian Agama (Kemenag) meluncurkan gerakan penanaman satu juta pohon matoa. Gerakan ini diikuti secara serentak oleh satuan kerja (satker) Kemenag di seluruh Indonesia, termasuk di Kepulauan Riau (Kepri).
Berdasarkan laporan dari Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Kepri yang diwakili oleh Kabag Tata Usaha (TU) Edi Batara, Kepri akan menyum-bang 4.172 bibit untuk me-nyukseskan gerakan ini.
“Alhamdulillah, penanaman pohon matoa sudah dimulai secara simbolis oleh Menteri Agama. Di Provinsi Kepri, insyaallah, kami akan menanam 4.172 pohon matoa dan lainnya. Pada hari ini, di Kanwil Kemenag Kepri, kami menanam pohon matoa secara simbolis sebanyak dua batang yang disaksikan bersama. Penanaman pohon matoa juga dilakukan oleh Kantor Kemenag Kabupaten/Kota, termasuk pesantren, KUA, dan madrasah se-Kepri,” kata Edi Batara, yang didampingi oleh Kepala Bidang dan para Pembimas, Selasa (22/4).
Edi menambahkan, penanaman pohon matoa ini akan dilakukan secara bertahap hingga tercapai target penanaman. Selain mendukung pelestarian alam, penanaman pohon matoa ini juga dapat dimanfaatkan oleh semua orang.
“Insyaallah, terus semangat (menanam pohon matoa hingga target tercapai), berbuah dan enak dimakan bersama-sama,” imbuhnya di lokasi penanaman matoa, halaman Kanwil Kemenag Kepri.
Sementara itu, di pusat melalui sambungan virtual, Sekjen Kemenag RI, Kamaruddin Amin, melaporkan bahwa Kemenag mendistribusikan bibit pohon matoa ke 34 provinsi dan menggandeng 10 ribu mitra keagamaan untuk memastikan keberhasilan gerakan ini.
Peluncuran gerakan penanaman pohon matoa ini juga disesuaikan dengan peringatan Hari Bumi ke-55 sebagai momentum untuk mengajak seluruh elemen bangsa menjaga bumi, sesuai amanah Allah SWT.
Dalam sambutannya, Kamaruddin menyebutkan bahwa penanaman pohon matoa ini masuk dalam rencana aksi nasional. Gerakan ini dilaksanakan berkolaborasi dengan lintas sektor bersama pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, keagamaan, dan komunitas masya-rakat.
“Penanaman matoa ini dilak-sanakan di rumah-rumah ibadah, Kantor Kemenag Kabupaten/Kota, madrasah, pesantren, kampus PTKN, hingga asrama haji, dengan melibatkan kolaborasi lintas sektor agar berjalan massif dan berkelanjutan,” ucap Kamaruddin Amin.
Di sisi lain, Menteri Agama (Menag) RI, Nasaruddin Umar, mengatakan bahwa kegiatan ini bukan sekadar langkah simbolis, tetapi wujud kesungguhan dalam mengintegrasikan agama, pendidikan, dan kepedulian terhadap lingkungan dalam satu tarikan nafas besar, yaitu ekoteologi.
“Ekoteologi adalah narasi besar yang ingin kami dorong melalui Kementerian Agama. Wujud nyatanya nanti akan dimasukkan dalam kurikulum dengan kurikulum cinta,” ungkap Menag.
Menag juga menekankan bahwa agama harus hadir dalam tindakan nyata, salah satunya dengan menjaga bumi untuk generasi mendatang.
“Kerusakan alam adalah pengkhianatan terhadap titipan Tuhan. Agama harus hadir, tidak hanya di mimbar dan kitab, tetapi juga dalam tindakan nyata dengan merawat bumi. Trilogi kerukunan kita sudah bertransformasi, tidak hanya merawat kerukunan antarumat beragama, antarumat beragama, dan umat beragama dengan pemerintah, tetapi sekarang juga mencakup kerukunan manusia dengan sesama, manusia dengan alam semesta, serta manusia dengan lingkungan dan agama,” terangnya. (*)
Reporter : JAILANI
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI