Buka konten ini
BATAM KOTA (BP) – Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menggelar kegiatan Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Kepri dengan tema Navigating Investment Opportunities and Challenges in Riau Islands, Selasa (22/4), di Ruang Raja Ali Fisabilillah, Gedung BI Kepri di Batam Center. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk membahas kondisi terkini perekonomian Kepri sekaligus merumuskan langkah kolaboratif dalam mengoptimalkan potensi investasi daerah.
Kepala Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto, mengungkapkan bahwa perekonomian Kepri terus menunjukkan geliat positif, bahkan melampaui rata-rata pertumbuhan regional.
“Pada triwulan IV 2024, ekonomi Kepri tumbuh sebesar 5,14 persen year on year (yoy), lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan wilayah Sumatra yang berada di angka 4,60 persen,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sektor industri pengolahan, perdagangan, dan pertambangan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Batam, sebagai pusat industri utama Kepri, memiliki kontribusi signifikan dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah dan mempertahankannya di atas rata-rata nasional.
Kinerja ekspor turut mempercepat laju pertumbuhan, seiring membaiknya aktivitas global, meskipun secara umum pertumbuhan ekonomi dunia masih menunjukkan ketidakpastian yang tinggi.
Sektor jasa juga mulai menggeliat, meski masih membutuhkan dorongan tambahan agar mampu memberi kontribusi optimal. BI Kepri mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat layanan dan daya saing sektor jasa melalui infrastruktur dan inovasi.
“Batam dekat dengan Singapura dan Malaysia. Ini peluang besar yang harus dimanfaatkan, terutama di sektor jasa yang potensial tumbuh pesat,” tambahnya.
Namun demikian, Rony mencatat adanya perlambatan pada realisasi pendapatan dan belanja pemerintah daerah Kepri di akhir 2024. Penurunan ini terutama terjadi pada pos pendapatan transfer dan belanja modal akibat kebijakan efisiensi.
Dari sisi inflasi, Kepri mencatat angka sebesar 2,09 persen (yoy) pada triwulan IV 2024, menurun dari 2,53 persen pada triwulan sebelumnya. Angka tersebut masih berada dalam rentang target nasional sebesar 2,5±1 persen.
Penurunan inflasi dipengaruhi oleh turunnya harga kelompok peralatan rumah tangga, pendidikan, serta jasa keuangan dan komunikasi. Hal ini dinilai berdampak positif terhadap daya beli masyarakat dan kestabilan harga kebutuhan pokok.
Di sektor keuangan, peningkatan penyaluran kredit—terutama di sektor korporasi dan UMKM—menunjukkan tren positif. Risiko kredit relatif terkendali, meski ada sedikit peningkatan pada segmen rumah tangga.
Transaksi pembayaran, baik tunai maupun non-tunai, terus meningkat. Penggunaan QRIS makin meluas, mencerminkan preferensi masyarakat terhadap sistem pembayaran digital yang efisien dan inklusif.
Indikator kesejahteraan masyarakat juga menunjukkan perbaikan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kepri meningkat, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurun, dan Nilai Tukar Petani (NTP) naik, yang menandakan meningkatnya daya beli petani.
BI Kepri optimistis perekonomian daerah akan semakin menguat pada 2025. Konsumsi rumah tangga dan investasi diproyeksikan menjadi penopang utama pertumbuhan, dengan inflasi yang tetap terkendali.
“Yang paling penting adalah menjaga stabilitas harga dan memperluas basis industri serta konsumsi. Kepri punya potensi kuat untuk menjadi kawasan ekonomi yang tangguh dan inklusif,” pungkas Rony. (*)
Reporter : Arjuna
Editor : RATNA IRTATIK