Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Pelaku pasar global tengah mencermati dinamika negosiasi dagang Amerika Serikat (AS) dengan sejumlah mitra strategisnya. Terutama Tiongkok. Potensi pembicaraan lanjutan kedua negara itu memberi angin segar bagi pasar keuangan dunia.
“Indikasi kemajuan negosiasi dagang plus potensi pembicaran AS dengan Tiongkok menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan,” kata analis pasar modal Hans Kwee, Minggu (20/4).
Selain negosiasi dagang, arah kebijakan bank sentral utama menjadi variabel penting dalam pembentukan sentimen pasar. The Federal Reserve (The Fed) bakal menahan diri memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Namun, ketidakpastian meningkat setelah muncul kabar bahwa Presiden AS Donald Trump ingin mengganti Jerome Powell dari kursi gubernur bank sentral AS itu. “Ini akan merusak kepercayaan di pasar AS,” imbuh dosen Magister Fakultas Ekonomi Bisnis Unika Atma Jaya itu.
Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada peluang Indonesia menjalin kesepakatan dagang yang lebih baik dengan AS. Hans optimistis Indonesia akan lebih mudah menjalin kerja sama perdagangan bilateral yang saling menguntungkan. ”Kami perkirakan Indonesia relatif lebih mudah mendapatkan kesepakatan dagang dengan AS,” ucapnya.
Di sisi lain, rencana BPJS Ketenagakerjaan untuk menambah porsi investasi di instrumen saham menjadi faktor pendukung bagi penguatan pasar modal. Per Februari 2025 dana kelolaan BPJS Ketenagakerjaan mencapai Rp790,8 triliun dengan porsi 6,41 persen di instrumen saham. Jauh lebih rendah dibandingkan 2021 yang mencapai 15,9 persen.
Menurut Hans, kebijakan yang stabil dan sentimen positif dari faktor eksternal, membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) berpeluang menguat sepekan ke depan. “Dengan support di level 6.400 sampai 6.149 dan resistance di 6.510 hingga 6.632,” terangnya.
Sementara itu, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia manyatakan volatilitas pasar saham yang tinggi masih akan terus berlanjut. IHSG akan bergerak dikisaran 6.000-6.500 dalam jangka pendek. Hal itu seiring dinamika perekonomian global, terutama perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.
“Mungkin juga bisa sampai 6.600,” ucap Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto.
Dia menyarankan para investor untuk tetap waspada dengan fluktuasi yang tinggi. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) patut dicermati selama sentimen tarif Presiden AS Donald Trump. Mengingat, harga komoditas emas yang terus meningkat sehingga emiten tambang dan produsen emas itu bisa dilirik.
“Dalam jangka pendek emas dan mungkin salah satunya emiten yang saat ini harga sahamnya lagi mengalami tren kenaikan itu ANTM. Tapi memang yang masih dalam cover kami itu, jadi kita masih rekomendasi ANTM. Tapi overall secara sentimen pasti juga akan terdapat positif dengan kenaikan harga emas,” jelas Rully. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG