Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Sebagai Kartini di kursi ”nakhoda kapal” bernama Sintesa Group dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani bertekad kuat untuk menjaga komitmennya sebagai leader. Shinta mengamini, ketidakpastian geopolitik, tekanan inflasi, dan perubahan cepat di teknologi serta supply chain telah berdampak langsung ke dunia usaha.
”Sebagai pemimpin, saya melihat kondisi ini bukan hanya ujian bagi ketahanan bisnis, tapi juga ujian kepemimpinan,” ujarnya.
Berperan bak nakhoda perempuan di tengah badai ujian, Shinta harus tangguh menjadi ”jangkar”. Di Sintesa Group maupun Apindo, dia berpegang pada prinsip kolaboratif dan evidence-based leadership.
”Artinya, setiap keputusan harus berpijak pada data, tapi tetap mempertimbangkan sisi humanis dan keberlanjutan.
Ini penting agar tim tetap solid, adaptif, dan punya rasa kepemilikan terhadap misi bersama,” terangnya.
Bicara soal PHK, Shinta mengakui PHK memang kian marak belakangan ini. ”Data Kemenaker mencatat sekitar 14 ribu pekerja terkena PHK sepanjang awal 2024. Namun, bagi saya, PHK harus menjadi opsi terakhir,” ucapnya.
Di Sintesa Group, strategi yang dijalankan Shinta mendahulukan evaluasi struktur biaya, memanfaatkan otomatisasi, dan memperkuat diversifikasi pendapatan agar bisnis terus bernapas.
Di sektor asosiasi, Shinta membawa Apindo aktif mendorong dialog sosial antara pengusaha dan serikat pekerja agar bisa dicari solusi bersama sebelum mengambil jalan terakhir.
”Prinsipnya, kita jaga dulu manusianya, supaya bisnis bisa pulih bersama,” tegasnya.
Shinta menyebut, hasil riset yang melibatkan 64 ribu responden dari 13 negara yang terangkum dalam The Athena Doctrine karya John Gerzema dan Michael D’Antonio menunjukkan bahwa nilai-nilai yang hakikatnya diasosiasikan lekat dengan perempuan, seperti empati, kolaborasi, komunikatif, transparansi, dan kemampuan mendengar, semakin dianggap penting dalam kepemimpinan masa kini.
”Hasil survei secara gamblang juga menunjukkan bahwa mayoritas orang merasa dunia akan menjadi tempat yang lebih baik jika lebih banyak leader membawa value tersebut dalam kepemimpinan mereka,” urainya.
Dalam praktiknya, Shinta pun menerapkan pendekatan yang menyeimbangkan strategi dengan empati, dengan menciptakan ruang dialog, melibatkan tim dalam pengambilan keputusan, memberi keleluasaan menuangkan ide untuk kreativitas dan inovasi, serta mengutamakan keberlanjutan jangka panjang dibanding keuntungan sesaat.
”Di organisasi seperti Apindo maupun Indonesia Business Council for Women Empowerment yang saya bentuk, saya juga mendorong budaya kerja yang human-centered, karena saya percaya bahwa manusia yang diberdayakan adalah pondasi dari pertumbuhan usaha yang sehat dan berkelanjutan,” bebernya.
Menurut Shinta, bias gender masih kerap dialami perempuan, terutama soal keraguan kapasitas. Belum lagi soal gender stereotyping, anggapan bahwa perempuan dianggap kurang tegas, emosional, atau tidak cocok memimpin. ”Tapi buat saya itu menjadi daya dorong to break the glass ceiling, membuktikan diri melalui hasil kerja dan konsistensi,” ujarnya.
Tantangan lain perempuan adalah double bind dilemma. Dimana perempuan jika terlalu lembut dianggap lemah, tapi kalau terlalu tegas dianggap bossy atau kurang feminin. ”Sehingga saya rasa perempuan belajar menyeimbangkan otoritas dengan empati, memimpin dengan integritas, tanpa harus mengorbankan identitas diri sebagai perempuan,” tegasnya.
Fenomena gender bias ini bukan hanya terjadi dalam interaksi profesional, tapi juga dalam cara perempuan dievaluasi dalam sistem. ”Banyak perempuan harus bekerja lebih keras hanya untuk mendapatkan validasi yang sama. Karena itu, saya sangat mendorong pentingnya kesadaran organisasi dan perusahaan dalam membangun sistem yang lebih adil, mulai dari rekrutmen, promosi, hingga cara kepemimpinan dinilai,” terangnya.
Sering kali orang hanya melihat tantangan menjadi pemimpin perempuan. Padahal, menurut Shinta, banyak keunggulan perempuan yang justru relevan dengan tuntutan dunia kerja hari ini, terutama soal emotional intelligence, kemampuan adaptasi, dan pendekatan kolaboratif.
”Studi Harvard Business Review menunjukkan bahwa dalam 12 dari 16 parameter kepemimpinan, perempuan mendapatkan skor lebih tinggi, terutama dalam hal membangun hubungan, menunjukkan konsistensi, dan menginspirasi tim,” urainya.
Shinta melihat kelebihan itu bukan untuk dibandingkan dengan laki-laki lantas bersaing. Tetapi untuk berkolaborasi saling melengkapi, disertai penekanan bahwa keberagaman gaya kepemimpinan justru bisa memperkuat organisasi.
”Dunia usaha butuh keberanian dan ketegasan, tapi juga empati dan fleksibilitas. Perempuan, secara alami, membawa warna tersebut,” tegasnya.
Menurut Shinta, Hari Kartini sepatutnya menjadi momen reflektif, bahwa perjuangan perempuan Indonesia adalah perjuangan yang berkelanjutan. ”Semangat dan cita-cita yang Kartini tanamkan kini ada di tangan kita semua. Tidak hanya perempuan, tetapi juga laki-laki yang percaya bahwa kemajuan bangsa hanya bisa dicapai jika seluruh potensi rakyatnya diberdayakan secara setara,” ujarnya.
Shinta menambahkan, Kartini memperjuangkan akses terhadap pendidikan, kebebasan berpikir, dan tempat yang layak bagi perempuan dalam masyarakat. Hari ini, perjuangan itu menjelma dalam bentuk yang lebih luas yakni kesetaraan di tempat kerja, partisipasi perempuan di ranah publik, kepemimpinan yang adil gender, hingga perlindungan terhadap hak-hak dasar perempuan.
Kepemimpinan perempuan hari ini harus menjadi daya ungkit perubahan dengan menjadi agent of change dalam menciptakan sistem yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan. ”Memperjuangkan kesetaraan, adalah dengan juga memastikan bahwa semua perempuan, di kota, desa, ruang publik, ruang privat, memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, bermimpi, dan memimpin,” urainya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG