Buka konten ini
Berlokasi di atas lahan 100 meter persegi, Diimah House tetap bisa terasa lapang, teduh, dan fungsional. Rumah hasil renovasi total ini menghadirkan efisiensi tata ruang, sirkulasi udara yang baik, dan koneksi ruang luar-dalam yang seamless. Sehingga tercipta rasa pulang yang sesungguhnya.
Dari luar, fasad Diimah House tampak tertutup dan dominan berwarna hitam. Kesan misterius muncul pertama kali, sebelum akhirnya perlahan terkuak betapa terbukanya rumah ini dari dalam.
”Klien kami pengin nggak begitu terlihat dari luar, tapi dari dalam tetap lega,’’ kata principal Studio Nadi Nando Rimaldi.
Dengan lahan yang tidak begitu luas, klien mengingin-kan ruangan yang cukup compact. Meliputi 2 kamar anak, 1 master bedroom, 1 kamar tidur ART, gudang, living, dining, kitchen, dan ruang hobi untuk otak atik motor. Namun, masih memiliki penghawaan serta pencahayaan yang baik.
”Di sini kami menerapkan taman GSB (garis sempadan bangunan) yang terletak di depan itu. Biasanya taman GSB cuma bisa dilihat pas masuk rumah saja. Di sini kami buat supaya bisa dinikmati dari dalam juga,” ujarnya.
Maka, posisi living room dibuat bersebelahan dengan taman depan. Sekat kaca folding dan swing menipis-kan batas antara indoor dan outdoor. Terdapat permai-nan leveling pada lantai living room yang dibuat lebih rendah.
”Jadi saat duduk di sofa, level rumput taman sejajar dada atau perut, memberikan feel yang lebih dekat ke tanah, sehingga terasa lebih intim dibandingkan kalau tanah-nya atau rumput itu sejajar kaki,” ungkap Nando.
Rupanya dengan lahan 12,5 x 8 m masih bisa didapatkan taman lain di dalam rumah, bersebelahan dengan ruang otak-atik motor milik klien. Dari sana, si pemilik bisa tetap memantau anaknya bermain atau istrinya memasak sesuai permintaannya. Taman sam-ping itu yang jadi sumber udara lain selain daripada taman depan.
”Nah setelah kita otak-otik denah lagi ternyata ada ke-sempatan juga untuk bikin sumber cahaya dan udara di belakang dapur. Ada jendela sliding dua bilah yang bisa geser kanan kiri jadi kalau lagi masak tinggal buka jendela udaranya ngalir,” lanjutnya.
“Sementara peletakan tangga dekat dapur sengaja disembunyikan dari pandangan. Kalau ditampilkan, tangga itu bisa jadi distraksi visual yang mengganggu,” kata Nando.
Naik ke atas, ruang servis lengkap dengan area cuci, jemur, dan setrika dirancang efisien.
Ada pula lemari yang bisa diakses dari dua sisi: area servis di belakang dan tangga di depan. Solusi ini memungkinkan aktivitas domestik berjalan tanpa mengganggu penghuni utama rumah.
”Kita bikin ekspos supaya jadi view yang menarik dari ruang belajar,’’ ujar Nando.
Di lantai atas ini juga terdapat dua kamar anak, kamar mandi, dan kamar tidur utama yang semuanya menghadap ke arah dalam.
Menariknya, tidak ada jendela di fasad depan. Jendela diletakkan di sisi samping rumah. Keseluruhan fasad menggunakan material atap bitumen yang memungkin-kan ditempel di tingkat kemiringan berapapun.
”Atap bitumen juga less maintanance dan ringan dibanding material atap lain,” tandasnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : gustia benny