Buka konten ini
LINGGA (BP) – Menanggapi pemberitaan terkait Program SIAP-E yang diluncurkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lingga pada 2022 dan dinilai tidak bermanfaat serta hanya membuang anggaran, Kepala Bidang (Kabid) E-Government TIK Dinas Kominfo Kabupaten Lingga, Ady Setiawan, akhirnya angkat bicara.
Ady membantah anggapan bahwa Program SIAP-E tidak berfungsi dan hanya menjadi pemborosan anggaran. Ia menjelaskan bahwa setelah peluncuran aplikasi tersebut, pihak BKD Kabupaten Lingga selaku pengguna utama meminta aplikasi dihentikan sementara guna dilakukan peningkatan (upgrade) dan penambahan fitur.
“Kalau dikatakan Program SIAP-E tidak berfungsi dan buang-buang anggaran, itu tidak benar. Setelah peluncuran, aplikasi sebenarnya sudah bisa digunakan. Namun, dari pihak BKD Lingga sebagai pemilik akun pengguna meminta agar aplikasi dihentikan sementara untuk di-upgrade dan ditambah fitur-fiturnya,” ujar Ady Setiawan saat dikonfirmasi Batam Pos, Rabu malam (9/4).
Ia menyampaikan bahwa saat ini aplikasi sudah siap untuk dilakukan pemeliharaan dan penambahan fitur. Kominfo juga telah berkoordinasi dengan BKD terkait waktu peluncuran kembali aplikasi tersebut.
“Aplikasi ini sudah siap untuk maintenance. Kami hanya menunggu konfirma-si dari BKD terkait kapan bisa mulai diterapkan kembali,” ujarnya.
Ady juga mengonfirmasi bahwa sebelumnya memang ada pemanggilan oleh aparat penegak hukum (APH) terkait aplikasi tersebut, namun menurutnya hanya sebatas permintaan keterangan.
“Benar, kami sempat dipanggil oleh APH terkait kondisi aplikasi pascapeluncuran. Tapi itu hanya untuk dimintai penjelasan, tidak ada masalah serius,” tambahnya.
Meski demikian, masyarakat Kabupaten Lingga masih mempertanyakan kejelasan program ini. Aplikasi yang telah menghabiskan anggaran Rp177,6 juta tersebut hanya berjalan selama satu bulan setelah peluncuran, lalu tidak bisa digunakan lagi.
Publik juga mempertanyakan alasan upgrade dan penambahan fitur yang memakan waktu hingga dua tahun. Jika aplikasi memang sudah siap diperbaiki, mengapa belum juga diaktifkan kembali?
Kritik pun muncul terkait kemungkinan bahwa aplikasi sebenarnya belum siap saat diluncurkan pada 2022 lalu, namun tetap dipaksakan untuk dirilis. Masyarakat menilai seharusnya dilakukan ujicoba terlebih dahulu sebelum peluncuran, agar tidak menimbulkan keraguan atas penggunaan anggaran yang cukup besar tersebut. (*)
Reporter : VATAWARI
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI