Buka konten ini

Dosen politik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo; peneliti utama The Republic Institute
Pertemuan diam-diam Prabowo Subianto dengan Megawati Soekarnoputri hampir terlewatkan oleh pantauan publik. Sesungguhnya pertemuan dua tokoh tersebut sangat penting bagi rakyat Indonesia untuk memupuk persatuan dalam menghadapi situasi politik nasional dan perang tarif dagang global.
Itulah pertemuan high politics antara presiden dan presiden ke-5 RI. Karena merupakan pertemuan tokoh kunci, sekaligus sesama ketua umum partai politik, Gerindra dan PDIP, tentu juga beroperasi komunikasi politik tingkat tinggi. Apalagi, itu adalah pertemuan empat mata yang masing-masing tidak ada yang mendampingi. Apa pesan politik yang berkembang, hanya dua tokoh tersebutlah yang mengetahuinya.
Sufmi Dasco selaku petinggi Gerindra mengatakan bahwa pertemuan itu hanya tukar pikiran dan tukar pengalaman dalam menghadapi situasi global. Sebab, Megawati dianggap memiliki pengalaman memimpin Indonesia yang juga pernah mengalami masa-masa krisis. Berbeda halnya pernyataan politisi PDIP sebagaimana yang dijelaskan Guntur Romli. Kedatangan Prabowo tersebut dalam rangka silaturahmi Idulfitri1446 Hijriah.
Perbedaan pernyataan itu menunjukkan bahwa otentisitas pesan politik apa yang terjadi sepenuhnya hanya menjadi domain Prabowo-Megawati. Sementara yang disampaikan para penyokongnya di Gerindra maupun di PDIP tak lebih hanyalah tafsir komunikasi politik atau tak lebih dari dramaturgi komunikasi politik itu sendiri.
Fenomena seperti itu hampir seabad lalu diteorisasikan Erving Goffman (1959) yang dituangkan dalam The Presentation of Self in Everyday Life. Bahwa pertemuan politik itu seperti dramaturgi yang mengandaikan tindakan manusia dalam masyarakat sebagai drama dan teater.
Karena itu, pertemuan Prabowo-Mega tak lebih seperti pertunjukan drama. Karena itu. perlu dilihat secara cermat pesan apa yang sesungguhnya bisa diambil dari panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage) pertunjukan politik Prabowo-Mega dalam pertemuan tersebut.
Panggung depan adalah kondisi ideal yang penuh make-up kosmetik penafsiran sebagaimana yang digambarkan Dasco dan Guntur Romli. Panggung depan merupakan bagian penampilan individu yang secara teratur berfungsi di dalam mode yang umum dan tetap untuk mendefinisikan situasi bagi mereka yang menyaksikan penampilan pertunjukan itu.
Sementara panggung belakang merupakan penampilan individu yang dapat melepas atribut penampilan di panggung depan. Dengan demikian, Prabowo-Mega dapat bercanda atau bercakap sebagai sahabat dan kolega apalagi pernah berpasangan koalisi pada Pilpres 2009.
Perjumpaan Pragmatis
Memang sangat disayangkan bahwa pertemuan besar antartokoh kunci Indonesia itu harus dilaksanakan secara diam-diam. Sebab, pertemuan antartokoh di Indonesia merupakan keharusan untuk memupuk persatuan dan menekan ketegangan konflik sosial. Sebab, masing-masing tokoh menjadi patron bagi pendukungnya. Rukunnya, tokoh panutan mendorong follower masing-masing.
Bisa jadi, pertemuan diam-diam itu dilakukan karena beberapa alasan. Pertama, menjaga perasaan politik Jokowi yang berjasa menjadikan Prabowo sebagai presiden. Pada saat yang sama, Jokowi pascapemecatannya dari PDIP dinilai punya konflik besar dengan Megawati, tokoh sentral bagi Jokowi dalam meraih kekuasaan, dari Solo hingga menjadi presiden ke-7 RI.
Kedua, pertemuan politik Prabowo-Mega itu merupakan pertemuan pragmatis simbiosis mutualisme yang dibungkus momentum Idulfitri 1446 Hijriah. Itulah high politics yang secara pragmatis merupakan pertemuan penjajakan kerja sama politik yang saling menguntungkan.
Bagi Prabowo, keuntungan pragmatis itu adalah dapat menekan kondisi politik yang mengimpit pemerintahannya. Misalnya, gelombang protes Indonesia gelap, sebuah narasi politik yang sulit di-counter pemerintah. Belum lagi gerakan protes atas pengesahan UU TNI yang secara menohok menyerang individu Prabowo yang memang berlatar belakang tentara. Atau, tekanan global atas perang tarif dagang yang dimotori Presiden AS Donald Trump.
Jika PDIP selaku pemenang pemilu bersedia bergabung dalam pemerintahan, atau setidaknya tidak mendeklarasikan diri sebagai partai oposisi, pemerintahan Prabowo akan mendapat dukungan politik yang signifikan. Khususnya di parlemen yang dipimpin Puan Maharani, kader PDIP.
Sementara itu, bagi PDIP, keuntungan pragmatis apabila bekerja sama dengan pemerintahan Prabowo adalah menyelamatkan partai menjelang kongres dalam waktu dekat. Sebagaimana sejarah partai politik di Indonesia, yang berseberangan dengan pemerintah sering kali mengalami pembelahan. Misalnya, yang terjadi di PKB saat pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Golkar dalam pemerintahan Jokowi.
Lebih jauh, dengan kegamangan sikap PDIP yang sampai sekarang belum mendeklarasikan diri sebagai partai oposisi atau pendukung pemerintah, ini merupakan kesempatan bagi Prabowo untuk merangkulnya. Jadi, pertemuan diam-diam Prabowo-Mega itu adalah gayung bersambut politik tingkat tinggi. Wallahu a’lam bishawab. (*)