Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Pasar batu bara disebut sedang meredup. Namun, di tengah kondisi yang lesu itu Hineni Seven Resources DMCC masih bisa melakukan penjualan ke perusahaan Vietnam. Nilainya mencapai USD 35,7 juta.
Dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (27/3), Hineni Seven Resources DMCC sebagai penjual telah menandatangani perjanjian jual beli batu bara dengan VIMC Shipping Company, pada Selasa (26/3). Volume kontrak jual-beli batu bara mencapai 500.000 metrik ton (MT) senilai USD 35,7 juta.
Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap PT Sumber Global Energy (SGER) Tbk selaku induk Hineni Seven Resources DMCC masih menguat. Sehingga, wajar jika perusahaan yang berdiri pada 17 Maret 2008 itu semakin cuan pada tahun ini.
Buktinya tahun ini, penjualan batu bara SGER mencapai Rp14 triliun. Pasar ekspor perusahaan trading batu bara yang berdiri pada 2008 itu meluas hingga Tiongkok, Malaysia, India, Filipina, dan Bangladesh.
“Pada 2020 setelah kita listing di Bursa Efek Indonesia, omset kita naik terus sampai tahun lalu, kita mencapai Rp 14 triliun,’’ kata Direktur Utama SGER Welly Thomas di Graha BIP, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III-2024, pendapatan SGER mencapai Rp10,88 triliun atau mengalami kenaikan sebesar 14,30 persen ketimbang kuartal III-2023 sebesar Rp9,52 triliun.
Kenaikan pendapatan dalam sembilan bulan 2024 didorong kenaikan penjualan batu bara dan nikel. Terdiri dari penjualan batu bara sebesar Rp 10,65 triliun, atau naik 12,84 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Sedangkan penjualan nikel SGER juga melesat 211,96 persen menjadi Rp 228,52 miliar ketimbang kuartal III-2023 sebesar Rp73,25 miliar.
Welly masih optimistis batu bara masih diperlukan sebagai salah satu sumber energi baik di Indonesia maupun luar negeri. Khusus Indonesia, masih akan membutuhkan batu bara hingga 15-20 tahun ke depan. Karena, batu bara merupakan sumber energi termurah hingga saat ini.
“Ini (batu bara) adalah source listrik yang paling murah dan banyak situasi geopolitik yang akan mendukung penggunaan batu bara. Misalnya, Amerika Serikat akan bersaing dengan China. Di mana, Amerika tetap mendukung penggunaan batu bara,’’ tuturnya.
Terkait cadangan batu bara di Indonesia, Welly bilang, masih sangat besar. Untuk itu, SGER berkomitmen untuk memberikan kontribusi nyata.
Selain itu, perseroan ingin menjadi bagian dari pengembangan bisnis hijau dengan sumber-sumber energi alternatif berkelanjutan, serta membangun bisnis yang sustainable.
“PT SGE selalu berusaha untuk mengantisipasi dan mengambil potensi atau peluang green energy. Kami memutuskan untuk lebih proaktif, masuk lebih awal supaya punya fundamental yang baik di bidang ini. Sehingga kami memiliki kompetensi yang unggul dalam industri green energy seperti di industry batu bara,’’ jelas Welly.(*)
Reporter : JP Group
Editor : gustia benny