Buka konten ini
BARCELONA (BP) – Hansi Flick dan Niko Kovac sama-sama pernah menangani Bayern Munchen. Mereka juga menjadikan “Pep Ball” atau gaya permainan Bayern di era Pep Guardiola (2013–2016) sebagai dasar taktik. Kovac menangani klub asal Bavaria tersebut pada 2018–2019 dan disusul Hansi (2019–2021).
Lewat filosofi permainan yang diperoleh di Sabener Strasse –sebutan markas latihan Bayern, Hansi dan Kovac mampu mengaplikasikan dalam tim masing-masing musim ini. Hansi bersama FC Barcelona dan Kovac dengan Borussia Dortmund (BVB).
Di Liga Champions, Barca dan BVB merupakan klub paling produktif dibandingkan kontestan perempat final lainnya. Barca dengan 32 gol dan BVB 28 gol. Filosofi sebagai tim produktif itu pun beradu saat Barca menjamu BVB dalam first leg perempat final di Estadi Olimpic Lluis Companys dini hari nanti (siaran langsung SCTV/beIN Sports 3/beIN Sports Connect/Vidio pukul 02.00 WIB). Pertemuan pertama Hansi dengan Kovac.
Berbicara kepada Sky Deutschland, Kovac menyebut taktik serangan Barca bersama Hansi sebagai yang terbaik. Bukan hanya di Eropa, melainkan juga di dunia. “Taktik itu akan menyulitkan siapa pun lawannya,” kata Kovac.
Berbeda dengan taktik Kovac di BVB yang lebih banyak membangun serangan di kedua sayap, taktik Hansi di Barca mem-build-up serangan dari lini belakang. Yakni, melalui bek kanan Jules Kounde dan bek kiri Alejandro Balde. Tidak heran kalau penyuplai umpan gol Barca di Liga Champions musim ini berasal dari mereka, masing-masing Kounde 3 umpan gol dan Balde 2 umpan gol. “Hansi benar-benar metodis dan tahu caranya mengelola pemainnya,” imbuh Kovac.
Selain duel Hansi versus Kovac, dini hari nanti jadi pertemuan dua asisten pelatih yang masih bersaudara. Toni Tapalovic, 44 tahun, yang menjadi asisten Hansi di Barca dan Filip Tapalovic, 48 tahun, sebagai tangan kanan Kovac di BVB (selain saudaranya, Robert Kovac).
Toni dan Filip membantu Hansi dan Kovac dalam mengasah gaya serangan tim. Toni dengan latar belakang sebagai mantan kiper mematangkan kemampuan portero Barca sebagai awal serangan. Sementara masukan dari Filip adalah untuk gelandang bertahan BVB seba-gai cover di depan lini pertahanan. Filip merupakan eks gelandang bertahan.
Guirassy Mengidolakan Lewy
Pertemuan melawan Borussia Dortmund (BVB) dianggap sebagai momen nostalgia bagi striker FC Barcelona Robert Lewandowski. Hal itu karena Lewy, sapaan akrab Robert Lewandowski, besar namanya ketika membela BVB pada periode 2010–2014.
Sebaliknya, bagi striker BVB Serhou Guirassy, beradu dengan Lewy dini hari nanti (10/4) merupakan momen penting baginya. Dalam wawancaranya dengan surat kabar Prancis L’Equipe, Guirassy menjadikan sosok Lewy sebagai salah satu role model dalam karier profesionalnya.
Guirassy juga mempelajari gaya permainan striker kelas dunia lainnya seperti Ronaldo Luis Nazario de Lima dan Karim Benzema. “Mereka (Lewy, Ronaldo, dan Benzema, red) memahami semua aspek yang dibutuhkan seorang striker,” kata Guirassy. “Mereka bagus dalam dribel, kemampuan mencetak gol, dan mengombinasikannya dengan baik,” sambung striker timnas Guinea kelahiran Prancis 29 tahun lalu itu.
Guirassy yang pernah bermain sebagai gelandang serang dan winger itu sekaligus memiliki kelebihan dalam memanfaatkan bola-bola terobosan. Kemampuan yang membantunya untuk mendulang banyak gol di Liga Champions musim ini. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO