Buka konten ini
BRUSSELS (BP) – Para menteri perdagangan Uni Eropa menggelar pertemuan Senin (7/4) membahas langkah-langkah balasan terhadap Amerika Serikat, yang baru-baru ini mengumumkan tarif baru, termasuk bea masuk sebesar 20 persen untuk produk asal Uni Eropa.
“Meski solusi yang dinegosiasikan secara konstruktif tetap menjadi preferensi Uni Eropa, para menteri juga akan membahas kemungkinan tindakan balasan apabila situasi mengharuskannya,” demikian pernyataan layanan pers dari Dewan Uni Eropa.
Komisi Eropa saat ini tengah melakukan pembahasan dengan negara-negara anggota mengenai langkah selanjutnya, yang terutama menyangkut tanggapan atas tarif AS terhadap baja, aluminium, mobil, serta sejumlah produk Eropa lainnya. “Tujuannya adalah memastikan bahwa pendekatan Uni Eropa tetap terukur dan efektif, melindungi kepentingan ekonomi kami, sekaligus terbuka pada solusi yang saling menguntungkan,” lanjut pernyataan tersebut dilansir Antara
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan penerapan tarif “timbal balik” terhadap impor dari negara-negara lain.
Tarif dasar ditetapkan sebesar 10 persen, namun akan disesuaikan berdasarkan kebijakan tarif masing-masing negara terhadap produk AS — yakni setara dengan separuh dari tarif yang diberlakukan negara tersebut terhadap barang-barang Amerika.
Menurut Trump, kebijakan itu merupakan bentuk “dek-larasi kemerdekaan ekonomi” bagi Amerika Serikat dan akan digunakan untuk membayar utang nasional senilai “triliunan dolar.” Untuk impor dari negara-negara Uni Eropa, tarif yang dikenakan adalah sebesar 20 persen.
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen menyatakan bahwa Brussels tetap ingin melakukan negosiasi dengan Washington mengenai tarif tersebut, tetapi juga menyiapkan langkah-langkah balasan jika pembicaraan tersebut menemui jalan buntu.
Amerika Serikat merupakan mitra dagang utama Uni Ero-pa. Negara itu menyumbang lebih dari 20 persen dari total ekspor Uni Eropa.
Produk-produk utama yang diekspor negara-negara Uni Eropa ke AS meliputi mobil, peralatan konstruksi, mesin industri, serta produk farmasi. Pada 2023, total nilai perdagangan barang dan jasa antara Uni Eropa dan Amerika Serikat mencapai 1,6 triliun euro (sekitar 1,76 triliun dolar AS atau sekitar Rp29 kuadriliun).
Nilai ekspor barang dari Uni Eropa ke AS mencapai 531,6 miliar euro (sekitar Rp9,9 kuadriliun), sementara impor dari AS mencapai 333,4 miliar euro (sekitar Rp6,2 kuadriliun).
Sementara itu, nilai impor jasa Uni Eropa dari Amerika Serikat tercatat sebesar 427,3 miliar euro (sekitar Rp7,9 kuadriliun), sedangkan ekspor jasa ke AS mencapai 318,7 miliar euro (sekitar Rp5,9 kuadriliun), menurut data resmi.
50 Negara Minta Negosiasi Tarif
Lebih dari 50 negara yang terdampak tarif impor baru AS sudah berkomunikasi dengan Washington untuk meminta negosiasi terkait pencabutan tarif, demikian menurut seorang pejabat Gedung Putih. “Saya mendapat laporan dari (Perwakilan Dagang AS) tadi malam bahwa sudah lebih dari 50 negara berkomunikasi dengan presiden kita untuk meminta negosiasi,” ucap Ketua Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih Kevin Hassett, Minggu (6/4).
Dalam wawancara bersama George Stephanopoulos dari acara berita This Week oleh ABC News, Hassett mengatakan bahwa negara-negara tersebut marah dan berusaha membalas, namun mereka “juga mau datang ke meja negosiasi”. “Mereka melakukannya karena paham mereka menanggung banyak sekali tarif,” kata dia.
Hassett menganggap bahwa pemberlakuan tarif tak akan berdampak besar bagi konsumen di AS, karena negara-negara tersebut “memiliki suplai yang sangat tidak elastis” sehingga AS “mengalami defisit dagang yang berkepanjangan dan berlangsung lama”.
Sementara itu, eks menteri keuangan AS Lawrence Summers yang juga hadir dalam acara tersebut mengatakan, tarif impor membawa dampak buruk bagi ekonomi.
Menurut Summers, tarif impor mengakibatkan kenaikan harga dan meningkatnya inflasi.
Kondisi tersebut, kata dia, menyebabkan daya beli masyarakat menurun sehingga “pekerjaan jadi berkurang”.
Sementara itu, pasar saham Asia anjlok pada Senin (7/4 setelah Tiongkok menghantam Amerika Serikat dengan tarifnya yang tinggi, meningkatkan perang dagang yang dikhawatirkan banyak orang dapat memicu resesi. (*)
Reporter : JP Group
Editor : andriani susilawati