Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Hujan lebat diperkirakan masih mengguyur sebagian wilayah Indonesia sampai akhir bulan ini. Meskipun tidak sebesar pada Maret lalu, hujan di bulan ini tetap harus diwaspadai. Khususnya di daerah aliran sungai serta dataran tinggi yang berpotensi terjadi bencana alam.
Analisa cuaca itu disampaikan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Erma Yulihastin. Dia mengatakan, ada sedikit perbedaan pemicu hujan pada Maret dan April ini. “Bulan lalu disebabkan aktivitas pusaran-pusaran badai yang ramai terbentuk di Samudera Hindia,” katanya, Senin (7/4). Sedangkan hujan bulan ini lebih disebabkan gelombang di atmosfer yang meningkat.
Gelombang atmosfer yang dia maksud itu adalah Kelvin, Madden Julian Oscillation (MJO), Rossby, dan tekanan udara yang rendah. Dia menjelaskan, terjadi pertemuan gelombang Kelvin dan MJO di utara khatulistiwa, tepatnya di sekitar Sumatra Utara dan Aceh. Pertemuan gelombang ini terjadi pada pekan pertama April dan memicu pembentukan awan konventif. Awan ini membawa potensi hujan di wilayah Sumatra.
Di sisi lain, fenomena teka-nan udara rendah terbentuk di Kalimantan hingga Laut Jawa bagian utara Jawa Timur. Kondisi ini menyebabkan klaster awan masih dapat terbentuk di Kalimantan bagian tengah dan selatan. “Pembentukan awan bisa meluas sampai Jawa Timur,” katanya.
Sedangkan untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya, hujan intensitas tinggi diperkirakan terjadi pada 10 hari terakhir April. Pemicunya adalah pertemuan gelombang Kelvin dan Rossby di wilayah Sumatra bagian selatan.
Sementara itu, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muharin mengatakan, sejumlah bencana hidrometeorologi basah yang didominasi oleh kejadian banjir melanda beberapa wilayah Indonesia. “Per hari ini, Senin (7/4), BNPB mencatat beberapa kejadian bencana signifikan yang dilaporkan oleh BPBD,” paparnya.
Banjir dan angin kencang dilaporkan terjadi di Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah. Tepatnya di Desa Tabalu, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, pada Minggu (6/4) pukul 4.30 WITA. Banjir dan angin kencang berdampak pada sedikitnya 115 rumah warga. “Kondisi terkini, banjir berangsur surut, warga mulai melakukan pembersihan rumah dan memperbaiki atap yang rusak akibat angin kencang,” terangnya.
Banjir juga dilaporkan oleh BPBD Kota Padangsidimpuan, Provinsi Sumatra Utara. Banjir terjadi di beberapa titik. Antara lain di tiga kelurahan di Kecamatan Padangsidimpuan Selatan dan dua desa di Kecamatan Padangsidimpuan pada Minggu (6/4) pukul 16.15 WIB. “Petugas masih terus melakukan pendataan, namun sedikitnya ada 15 kepala keluarga yang terdampak,” ujarnya.
BNPB juga terus memantau penanganan kejadian tanah longsor di Pacet, Kabupaten Mojokerto, yang mengakibatkan 10 korban meninggal. Tanah longsor membuat akses penghubung Mojokerto dan Kota Batu (Jalan Raya Pacet – Cangar) terdampak. Material longsor setinggi 50 meter dan kedalaman 70 meter membuat jalan ditutup sementara. “Hingga Minggu malam masih hujan, petugas kesulitan melakukan evakuasi. Pembersihan material longsor akan dilakukan pada hari ini, Senin (7/4) dengan melibatkan unsur terkait,” tuturnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO