Buka konten ini
Suara takbir dan tawa anak-anak jadi lantunan paling merdu yang menggema di ruang kunjungan Rutan Batam Kelas II Batam. Tiga hari yang singkat itu menjadi momen langka.
Di balik tembok tinggi dan jeruji besi yang dingin, haru membuncah pada hari pertama Lebaran. Tangis dan tawa tumpah jadi satu ketika para warga binaan akhirnya bisa memeluk orang-orang yang mereka rindukan.
Ada ayah yang mendekap anaknya untuk pertama kali sejak bertahun-tahun, ada ibu yang menyeka air mata sambil menggenggam tangan anaknya erat-erat. Tiga hari lamanya, ruang-ruang kunjungan di Lapas dan Rutan se-Kepri berubah jadi tempat pulang sementara bagi mereka yang sedang menjalani hukuman.
Suasana itu hadir berkat kebijakan kunjungan terbuka selama Hari Raya Idulfitri yang dibuka sejak 1 Syawal lalu. Untuk para warga binaan, ini bukan sekadar pertemuan. Ini adalah pengingat bahwa mereka masih dicintai, masih dinanti. Dalam kunjungan yang berlangsung hingga tiga hari ke depan, ratusan keluarga datang dengan membawa lebih dari sekadar makanan: mereka membawa harapan.
Kementerian Hukum dan HAM melalui Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kepri memberikan kesempatan kepada para warga binaan untuk menerima kunjungan terbuka dari keluarga mereka. Kebijakan ini digelar serentak di seluruh lapas dan rutan Kepri sejak hari pertama Lebaran, dan berlangsung selama tiga hari berturut-turut.
“Silaturahmi adalah bagian dari pembinaan sosial. Kami ingin momen Lebaran ini menjadi ruang pemulihan relasi bagi warga binaan dengan orang-orang yang mereka cintai,” kata Kakanwil Ditjenpas Kepri, Aris Munandar, saat meninjau langsung suasana kunjungan, Sabtu (5/4).
Di tengah penjagaan ketat dan pengawasan berlapis, keluarga datang membawa makanan, senyum, dan air mata. Meski durasi dan barang bawaan dibatasi, namun suasana haru tak bisa disembunyikan. Pelukan-pelukan panjang menggantikan kata, doa-doa terucap lirih di sela pertemuan singkat yang begitu dinantikan.
“Ini momen yang sangat berharga. Kami hanya ingin memastikan mereka tahu bahwa di luar sini, masih ada yang menunggu,” kata seorang ibu yang datang untuk menjenguk anaknya di Rutan Batam.
Di Lapas dan Rutan Kelas II Batam, lonjakan pengunjung tercatat signifikan. Kepala Rutan Batam, Fajar Teguh Wibowo, mengatakan, ada sebanyak 1.417 orang membesuk di hari pertama.
Hari kedua menyusul 1.173 orang, dan hari ketiga sebanyak 1.242 orang. “Alhamdulillah semua berjalan aman dan tertib,” ujarnya.
Pihak Lapas menggandeng aparat TNI-Polri dalam mengawal keamanan kegiatan ini. Makanan diperiksa dengan cermat, dan seluruh pengunjung dilarang membawa barang elektronik seperti ponsel atau alat komunikasi lain ke dalam area kunjungan.
“Aturannya tetap dijaga, tapi semangat silaturahminya kami fasilitasi,” ucap Fajar.
Meski hanya tiga hari, kunjungan terbuka ini memberikan energi baru bagi para warga binaan.
Mereka merasa diperhatikan, diberi ruang untuk menyesap kembali kasih sayang keluarga yang selama ini hanya hadir lewat surat atau panggilan suara.
Setelah masa kunjungan usai, suasana kembali seperti semula. Pada Kamis (3/4), layanan bergeser ke sistem penitipan barang dan komunikasi melalui fasilitas resmi yang berlaku di masing-masing lapas dan rutan.
“Pertemuan itu singkat, tapi cukup membuat semangat kami hidup lagi,” ujar seorang warga binaan.
Kepala Rutan Batam, Fajar menyebut, program kunjungan ini sebagai bagian dari hak asasi narapidana yang berorientasi pada pemulihan dan reintegrasi sosial.
“Kita ingin mereka pulang nanti sebagai pribadi yang lebih baik dan lebih kuat, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga keluarganya,” ujarnya. (*)
Reporter : EUSEBIUS SARA
Editor : FISKA JUANDA