Buka konten ini
BATAMKOTA (BP) – Sebanyak 26 anak didik pemasyarakatan (andikpas) di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Batam mendapat remisi khusus Idulfitri 1446 Hijriah. Pemotongan masa hukuman ini diberikan sebagai bentuk penghargaan atas perilaku baik mereka selama menjalani masa pembinaan.
Pemberian remisi digelar dalam sebuah upacara sederhana di halaman LPKA, dan secara simbolis diserahkan kepada perwakilan andikpas. Kepala LPKA Batam, Faizal Gerhani Putra, menyebut, momen ini sekaligus menjadi saat spesial bagi anak-anak untuk berkumpul bersama orang tua mereka.
“Remisi ini bukan hanya soal pengurangan masa hukuman, tapi juga momen kemanusiaan. Kami ingin anak-anak ini merasa tetap punya harapan, dan dukungan dari keluarga adalah bagian penting dari proses pembinaan mereka,” kata Faizal.
Dari 26 anak yang mendapatkan remisi, sebanyak 23 orang mendapat pemotongan masa tahanan selama 15 hari, sementara tiga lainnya menerima pengurangan 30 hari. Pemberian remisi ini telah melalui proses penilaian dan memenuhi syarat administratif serta substantif.
“Penilaian dilakukan oleh Tim Penilai Pemasyarakatan (TPP). Salah satu syarat utama adalah berkelakuan baik selama masa pembinaan,” ucap Faizal.
Saat ini, LPKA Kelas II Batam menampung 58 anak binaan, terdiri dari 56 laki-laki dan dua perempuan. Mereka menjalani pembinaan yang mencakup aspek kepribadian dan kemandirian, untuk membekali mereka kembali ke tengah masyarakat.
Faizal berharap, anak-anak yang bebas lebih awal karena remisi bisa membawa bekal positif dari masa pembinaannya. “Kami berharap mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, mandiri, dan diterima kembali di masyarakat. Jangan anggap mereka sebagai beban. Negara hadir untuk membina, bukan menghukum semata,” ujarnya.
Program pembinaan kepribadian mencakup kegiatan keagamaan, olahraga, pengembangan intelektual, hingga peningkatan wawasan kebangsaan. Sementara itu, pembinaan kemandirian diarahkan agar mereka memiliki keterampilan praktis yang berguna.
“Pelatihan yang mereka ikuti antara lain perkebunan, pangkas rambut, dan menyablon. Harapannya, anak-anak ini punya bekal keterampilan saat kembali ke luar,” ujar Faizal.
Ia menegaskan, bahwa suasana pembinaan di LPKA tetap dijalankan dengan pendekatan kekeluargaan. Pendampingan dilakukan oleh petugas yang bertindak sebagai pembina sekaligus mentor.
“Kami ingin mereka tumbuh dengan rasa percaya diri. Di sini mereka bukan dihukum, tapi sedang dipersiapkan menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri,” ungkap Faizal. (*)
Reporter : YOFI YUHENDRI
Editor : FISKA JUANDA