Buka konten ini
MELBOURNE (BP) – Balapan Formula 1 memang baru berjalan satu seri di Melbourne, Australia pekan lalu. Tapi, dalam waktu relatif singkat itu, FIA sudah ‘memodifikasi’ satu aturan teknis. Badan internasional yang mengatur olahraga balap itu akan melakukan pengujian tingkat fleksibilitas sayap belakang yang lebih ketat mulai GP Tiongkok akhir pekan ini.
FIA sebelumnya telah menerapkan batasan celah main plane dengan flap di sayap belakang maksimal sebesar 2 milimeter. Itu berlaku saat sayap ditimpa beban sebesar 75 kg. Nah, lewat ‘petunjuk teknis’ terbaru yang diumumkan Senin (17/3) lalu, batasan itu dikurangi menjadi hanya 0,5 millimeter.
Lalu, seberapa besar dampak perubahan sayap fleksibel (flexi-wing) itu? Jawabannya masih perlu dilihat akhir pekan ini. Akan tetapi, seperti dilaporkan The Race, Red Bull bisa jadi yang diuntungkan karena pengetatan aturan tersebut. Hal itu berdasar dari pernyataan direktur teknis Red Bull Pierre Wache kepada The Race beberapa waktu lalu.
“Saya pribadi berpikir bahwa sayap fleksibel (flexi-wing) bukanlah bagian dari peraturan,” kata Wache dikutip dari The Race soal FIA yang dinilai terlalu lunak soal aturan flexi-wing musim lalu. “Yang sangat mengejutkan saya adalah bagaimana sistem memungkinkan tiap tim melakukannya,” tuturnya.
Lebih lanjut, Wache juga menilai jika mobil Red Bull selama ini bisa seimbang tanpa adanya bantuan dari flexi-wing. Hal yang menurutnya belum bisa dilakukan oleh tim-tim lain. “Tim lain menggunakan defleksi sayap depan untuk menyeimbangkan mobil, dan karena itu mereka sekarang berada di depan kami,” kata Wache. “Kami dapat menyeimbangkan kembali mobil dengan cara lain, sementara tim lain menggunakan defleksi sayap depan.”
Sementara itu, laporan lain dari Auto Motor und Sport menyebut jika Red Bull adalah pihak yang menekan FIA untuk memperketat aturan sayap belakang. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO