Buka konten ini

Dalam memulai usaha, jangan terlalu fokus pada kesempurnaan di awal. Yang terpenting adalah konsistensi dan terus belajar dari setiap pengalaman. Hal itu pula yang dialami Sabil dalam mengembangkan bisnisnya.
Salsabilla, atau akrab disapa Sabil, baru berusia 23 tahun. Ia memulai bisnis kreasi handmade pada masa pandemi tahun 2021, saat masyarakat diwajibkan memakai masker di luar rumah.
”Dari situ saya kepikiran buat strap dan connector masker,” ungkap Sabil.
Kini, usahanya yang diberi nama Sabil.stuff telah menghasilkan berbagai produk berbahan manik-manik, seperti kalung, gelang, cincin, strap HP, gantungan tas, dan lainnya. Setiap produk memiliki desain unik yang bisa disesuaikan dengan selera pelanggan.
”Yang paling sering diincar kaum perempuan adalah gantungan tas dan gelang,” ujarnya.
Selain berbisnis, Sabil juga aktif mengikuti berbagai pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan. Ia bahkan pernah mengisi workshop yang berkolaborasi dengan brand Wardah dan Jendelaris. Baginya, membuat aksesoris bukan sekadar bisnis, tetapi juga tantangan yang menyenangkan dan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas.
”Saya belajar membuat aksesoris secara otodidak, yang tentu saja memerlukan proses panjang dan penuh kesabaran,” kata Sabil.
Salah satu tantangan terbesar dalam pembuatan aksesoris, menurutnya, adalah bekerja dengan manik-manik kecil. Memasukkannya ke dalam tali membutuhkan ketelitian dan presisi tinggi, berbeda dengan manik-manik berukuran besar yang lebih mudah disusun.
Dalam sebulan, jumlah pesanan bisa bervariasi tergantung tren dan permintaan pasar. Pada momen tertentu atau saat ada promosi, ia bisa menerima lebih dari 50 pesanan.
Sabil menggunakan sistem ready stock dan pre-order (PO). Barang yang bersifat custom dibuat dengan sistem PO, yang biasanya memakan waktu sekitar dua hingga lima hari, tergantung kompleksitas desainnya.
”Tapi saya juga selalu sediakan barang ready untuk pelanggan yang membutuhkan produk secara mendadak,” jelasnya.
Saat ini, seluruh proses produksi di Sabil.stuff masih ia kerjakan sendiri, mulai dari desain hingga pembuatan. Namun, jika pesanan meningkat, ia akan merekrut tim sementara untuk membantunya.
Harga produk di Sabil.stuff dibanderol mulai dari Rp3.000, tergantung jenis aksesoris yang dipilih. Untuk produk custom, harga bervariasi sesuai dengan jenis bahan dan tingkat kerumitan desain. Semakin kompleks dan detail, harga akan menyesuaikan dengan kualitas serta jumlah bahan yang digunakan.
”Jadi pelanggan bisa memilih aksesoris sesuai anggaran mereka, baik untuk produk siap pakai maupun yang dibuat khusus sesuai permintaan,” imbuhnya.
Saat pertama kali memulai usaha, modal yang Sabil gunakan sekitar Rp500.000. Kini, omzet per bulan berkisar Rp1.000.000 hingga Rp2.000.000, tergantung jumlah pesanan dan permintaan produk.
Untuk pemasaran, Sabil memanfaatkan platform digital seperti Instagram, TikTok, dan Shopee dengan nama @sabil.stuff. Ke depan, ia berharap usahanya semakin berkembang dengan menambah variasi produk dan memperluas jangkauan pasar.
”Saya ingin Sabil.stuff bisa menciptakan lebih banyak kesempatan kerja dan berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat komunitas kreatif di sekitar saya,” harapnya.
Bagi yang ingin memulai bisnis tapi masih ragu, Sabil menyarankan untuk memulai dari langkah kecil dan tidak takut mencoba.
”Penting memahami pasar dan kebutuhan pelanggan. Jangan terlalu fokus pada kesempurnaan di awal. Yang terpenting adalah konsistensi dan terus belajar dari pengalaman. Percaya pada diri sendiri, karena setiap langkah kecil akan membawa kita lebih dekat ke tujuan,” pungkasnya. (***)
Reporter : TIA CAHYA NURANI
Editor : MUHAMMAD NUR