Buka konten ini
Anambas (BP) – Anambas, daerah terpencil yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Vietnam, menyimpan banyak sejarah serta kekayaan budaya. Hal ini membuat rombongan pelajar asal Denmark memilih Anambas sebagai tempat untuk mendalami ilmu sosial dan budaya.
Rencananya, rombongan yang terdiri dari 12 orang pelajar ini akan menetap di Anambas selama satu bulan penuh sambil mengunjungi tempat pengrajin dan sanggar kesenian.
Pada Senin (3/2), Batam Pos berkesempatan mengikuti kegiatan mereka di Sanggar Seni Tanjung yang terletak di Desa Tarempa Barat.
Di sini, para pelajar sangat antusias berlatih memainkan Gendang Siantan. Meskipun gerakan mereka masih kaku, semangat mereka tidak surut untuk memainkan alat musik tersebut.
Perlu diketahui, Gendang Siantan adalah alat musik tradisional yang berasal dari Kecamatan Siantan. Kesenian ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-13 Masehi.
Gendang Siantan terdiri dari dua buah gendang panjang bermuka dua, biola, dan gong.
”Biasanya, alat musik ini dimainkan untuk mengiringi nyanyian yang berisi pantun, cerita, nasihat, dan imbauan yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam,” ujar pemateri, Syamsir.
Selain belajar Gendang Siantan, para pelajar ini juga diberikan pemahaman tentang tari persembahan Melayu. Bahkan, mereka juga berlatih tari persembahan dengan gerakan yang masih terbata-bata. ”Mereka datang ke sini bukan hanya diberikan materi, tetapi langsung berlatih. Tujuannya agar mereka tahu bahwa budaya kita sangat kaya,” kata Syamsir.
Setelah mengunjungi Sanggar Seni Tanjung, para pelajar melanjutkan perjalanan ke Rumah Anyaman Sulaiman yang terletak di Rekam, Desa Tarempa Barat Daya.
Di sini, rombongan sangat antusias mencoba menganyam kerajinan tangan. Saat itu, mereka akan membuat tas keranjang yang biasa digunakan oleh warga setempat untuk menampung hasil kebun.
”Mereka bertanya-tanya di mana tempat membuat tas atau keranjang karena ingin belajar, jadi kami arahkan ke sini,” ujar Kabid Informasi Diskominfo Anambas, Hani Eska Saragih.
Hani menyampaikan kesan rombongan turis ini ketika pertama kali mencoba menganyam. Meskipun agak sulit, mereka merasa sangat tertarik. ”Karena di negara mereka (Denmark) tidak ada kerajinan anyaman, baru di sini mereka belajar menganyam,” kata Hani.
Anambas, kata Hani, masih memiliki sedikit ruang pelatihan kesenian yang dapat mengajarkan wisatawan mancanegara (wisman). Padahal, mayoritas wisman yang berkunjung ke Anambas ingin belajar tentang kultur budaya.
”Semoga ke depannya akan ada lebih banyak workshop lain yang bisa diikuti. Jadi, wisman akan memiliki lebih banyak pilihan, dan produk-produk yang dihasilkan juga semakin banyak,” pungkas Hani. (*)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI