Buka konten ini
Saat bulan Ramadan yang bermakna tiba, berbagai cara dilakukan umat Muslim untuk menunggu waktu berbuka puasa. Di Tanjungpinang, salah satu tradisi atau aktivitas ngabuburit favorit warga adalah menikmati suasana senja di tepi laut.
Di Indonesia termasuk di Tanjungpinang, Ibu Kota Provinsi Kepri, tradisi ngabuburit (istilah bahasa Sunda yang berarti menunggu waktu berbuka puasa sore hari), menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat saat bulan Ramadan.
Kegiatan menunggu waktu berbuka puasa ini diisi dengan berbagai aktivitas atau kegiatan positif dan berpahala yang mencerminkan kekayaan budaya dan kebersamaan warga setempat.
Ngabuburit menunggu waktu azan Magrib biasanya diisi dengan membaca Al-Qur’an, mengikuti kajian agama atau ceramah di masjid. Ini menjadi cara produktif warga Tanjungpinang untuk menambah wawasan keislaman sekaligus mendapatkan pahala di bulan suci Ramadan.
Kemudian, seiring perkembangan teknologi, cara ngabuburit juga mengalami perubahan. Kini, banyak orang memilih untuk ngabuburit dengan menonton video ceramah, bermain game online, atau berinteraksi di media sosial. Selain itu, ada pula yang mengikuti kelas online atau membaca buku digital sebagai alternatif ngabuburit yang lebih produktif.
Namun ada juga sebagian warga menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di sekitar kota atau mengunjungi pasar dadakan yang menjual aneka makanan berbuka seperti kolak, es cendol, gorengan, dan aneka kue menjadi incaran utama.
Kemudian ada sebagian warga memilih untuk ngabuburit dengan berolahraga ringan, seperti jogging, bersepeda, atau bermain sepak bola.
Ini menjadi cara menyenangkan untuk menunggu berbuka sekaligus menjaga kebugaran tubuh.
Sebagian warga Tanjungpinang yang lain, memilih berkumpul dan bersosialisasi. Ngabuburit sering dijadikan momen untuk berkumpul bersama teman atau keluarga. Banyak yang menghabiskan waktu di taman kota, masjid, atau tempat nongkrong sambil berbincang-bincang ringan.
Salah satu lokasi favorit untuk ngabuburit adalah kawasan tepi laut yang membentang dari Jalan Haji Agus Salim hingga Jalan Hang Tuah Tanjungpinang. Di sini, masyarakat dapat menikmati pemandangan alam laut sambil menunggu waktu berbuka puasa.
Hamparan laut biru yang tenang, semilir angin sepoi-sepoi, serta panorama matahari terbenam menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin melepas penat sambil menanti azan magrib.
Menjelang sore, kawasan tepi laut Tanjungpinang mulai dipadati warga. Ada yang sekadar duduk santai di bangku-bangku taman, ada pula yang berjalan-jalan di sepanjang pinggir laut.
Dua lokasi favorit ngabuburit di tepi laut Tanjungpinang adalah Taman Gurindam 12 dan Taman Tugu Sirih, yang menyuguhkan pemandangan laut luas dengan latar kapal-kapal yang berlalu lalang.
“Kami suka menunggu waktu berbuka puasa di sini karena suasananya adem dan pemandangannya indah. Kalau cuaca cerah, matahari terbenamnya luar biasa cantik,” kata Ayu, salah seorang warga Tanjungpinang yang datang bersama suami dan anaknya, Sabtu (1/3).
Menurut Ayu, ngabuburit menjadi momen kebersamaan. Bagi sebagian orang, ngabuburit bukan hanya sekadar menunggu waktu berbuka, tetapi juga menjadi ajang berkumpul bersama keluarga dan teman-teman.
Saat ngabuburit di tepi laut Tanjungpinang, kata Ayu, banyak kelompok anak muda dan remaja yang terlihat bercengkerama, sementara keluarga menikmati waktu santai bersama anak-anak menunggu waktu berbuka puasa.
”Ada juga yang membawa tenda kecil, tikar dan kursi lipat. Ya sambil bersantai menunggu azan Magrib di tepi laut,” ungkapnya.
Selain menikmati keindahan alam, lanjut Ayu, warga juga memanfaatkan momen ngabuburit untuk berburu takjil. Sepanjang jalan di sekitar kawasan tepi laut, banyak pedagang yang menjajakan berbagai kuliner khas Ramadan, seperti otak-otak, laksa, bubur, hingga aneka es segar dan lain sebagainya.
“Kami akhir pekan ya sering ke sini sama keluarga. Sambil ngobrol, menikmati suasana laut, dan tentu saja berburu makanan enak,” kata Ayu yang berprofesi sebagai pegawai pemerintah ini.
Seiring azan magrib berkumandang, warga yang berkumpul di tepi laut Tanjungpinang segera membatalkan puasa dengan air mineral dan makanan berbuka yang sudah dibeli sebelumnya. Senyum kebahagiaan pun tergambar, menutup hari dengan rasa syukur. Tepi laut Tanjungpinang tak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menjadi tempat penuh kenangan bagi warga yang menghabiskan waktu ngabuburit di tepi laut Tanjungpinang. Ramadan pun terasa semakin bermakna dengan kebersamaan dan kehangatan yang tercipta di setiap senja.
”Alhamdulillah kalau sudah azan Magrib ya kami berbuka sambil menikmati sunset, selesai berbuka kami ke Masjid Raya Al Hikmah untuk salat Magrib,” sebut Ayu.
Tradisi ngabuburit tetap menjadi bagian penting dalam budaya Ramadan di Tanjungpinang. Dengan berbagai aktivitas yang bisa dilakukan, ngabuburit bukan hanya sekadar menunggu waktu berbuka, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat kebersamaan, menambah ilmu, dan menjalani Ramadan dengan penuh makna.
”Yang terpenting adalah mengisi waktu berbuka puasa dengan hal yang bermanfaat dan membawa kebaikan,” tutup Ayu. (***)
Reporter: YUSNADI NAZAR
Editor : RYAN AGUNG