Buka konten ini

PRAHA (BP) – Putra Tri Ramadani mencatat sejarah baru bagi panjat tebing Indonesia setelah merebut medali emas nomor lead pada ajang World Climbing Series Prague 2026 di Ceko, Minggu (7/6) waktu setempat. Prestasi tersebut sekaligus mengakhiri penantian panjang Indonesia untuk meraih medali di nomor lead pada level dunia.
Atlet yang akrab disapa Srondeng itu tampil luar biasa pada partai final. Menghadapi tujuh pemanjat elite dunia, ia berhasil mengumpulkan skor 43 dan menjadi satu-satunya atlet yang mampu mencapai catatan tersebut. Hasil itu mengantarkannya berdiri di podium tertinggi sekaligus menorehkan sejarah bagi Merah Putih.
Tampil sebagai pemanjat keenam, Srondeng terlebih dahulu mempelajari jalur yang disusun route setter sebelum memulai aksinya. Dengan penuh ketenangan, ia menyusun strategi dan bergerak mantap menaklukkan setiap pegangan yang tersedia di lintasan final yang dikenal sangat menantang.
Meski mengakui jalur final cukup sulit, terutama pada bagian atas yang menguras tenaga, pemanjat asal Jawa Timur tersebut mampu menjaga fokus hingga akhir pemanjatan.
“Ini adalah final kedua saya dan emas pertama saya. Saya sangat bahagia. Jalur final sangat sulit, terutama di bagian atas sampai tangan saya pump,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Meski berhasil meraih gelar juara, Srondeng tetap memilih rendah hati. Ia menilai masih ada sejumlah aspek yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan konsistensi penampilannya pada kompetisi berikutnya.
“PR-nya adalah saat orientasi jalur dan mengatasi rasa grogi,” katanya.
Dalam final tersebut, Srondeng bersaing dengan sejumlah nama besar dunia, di antaranya Sorato Anraku, Neo Suzuki, dan Satone Yoshida dari Jepang, Adam Ondra dari Ceko, Luka Potocar dari Slovenia, Filip Schenk dari Italia, serta Jakob Schubert dari Austria.
Neo Suzuki harus puas membawa pulang medali perak setelah mencatat skor 39, sedangkan Jakob Schubert meraih medali perunggu dengan skor 37.
Keberhasilan ini menjadi pencapaian penting dalam karier Srondeng. Sebelumnya, ia juga pernah menembus final World Climbing Series di Koper, Slovenia, pada September 2025. Namun saat itu ia hanya mampu finis di posisi keenam dengan skor 40+ dan belum berhasil membawa pulang medali.
Manajer Tim Nasional Panjat Tebing Indonesia, Wahyu Pristiawan Buntoro, menyebut medali emas tersebut merupakan hasil dari proses pembinaan panjang yang melibatkan atlet, pelatih, ofisial, dan seluruh tim nomor lead Indonesia.
“Emas dari Srondeng ini memberi gambaran kerja keras seluruh tim di Pelatnas. Ini menjadi catatan sejarah bahwa nomor lead berhasil menjadi juara dunia. Momentum ini harus menjadi pemacu untuk meningkatkan kemampuan atlet-atlet muda di nomor lead,” ujarnya.
Pada seri Praha kali ini, Srondeng menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang berhasil menembus final nomor lead putra. Dua atlet lainnya, Raviandi Ramadhan dan Ravianto Ramadhan, terhenti di babak kualifikasi.
Sementara pada sektor putri, Alma Ariella Tsany berhasil melaju hingga semifinal, sedangkan Lintang Cahyani Sukma harus mengakhiri langkahnya di fase kualifikasi.
Medali emas yang diraih Srondeng bukan hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga tonggak penting bagi perkembangan nomor lead Indonesia di kancah internasional. Setelah bertahun-tahun dikenal kuat di nomor speed, kini Indonesia mulai menunjukkan daya saingnya pada disiplin lead, bahkan hingga mencapai podium tertinggi dunia. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO