Buka konten ini

TEHERAN (BP) – Sebuah kapal kargo berbendera Thailand dilaporkan diserang saat melintas di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, Rabu (12/3). Insiden tersebut memicu operasi penyelamatan setelah kapal terbakar dan sebagian awak terpaksa meninggalkan kapal.
Angkatan Laut Thailand menyebut kapal yang diserang adalah Mayuree Naree, kapal pengangkut curah (bulk carrier) yang tengah berlayar dari Pelabuhan Khalifa di Uni Emirat Arab menuju Kandla, India.
Foto yang dirilis Royal Thai Navy memperlihatkan asap hitam tebal membumbung dari lambung dan bangunan atas kapal. Beberapa sekoci darurat terlihat mengapung di sekitar kapal, menandakan awak melakukan evakuasi darurat.
Mengutip laporan France24, Angkatan Laut Thailand mengonfirmasi kapal tersebut “diserang saat melintasi Selat Hormuz”. Namun hingga kini penyebab maupun detail serangan masih dalam penyelidikan. “Rincian spesifik dan penyebab serangan saat ini masih dalam proses investigasi,” demikian pernyataan militer laut Thailand.
Operasi penyelamatan segera dilakukan oleh Angkatan Laut Oman. Sebanyak 20 awak kapal berhasil dievakuasi dengan selamat.
“Angkatan Laut Oman telah menyelamatkan 20 pelaut. Saat ini upaya masih dilakukan untuk mengevakuasi tiga awak lainnya,” kata pihak Angkatan Laut Thailand.
Data pelacakan kapal menunjukkan Mayuree Naree berada di perairan dekat pantai Oman ketika insiden terjadi. Setelah serangan, kapal tersebut hanya bergerak sekitar satu knot.
Kapal sepanjang sekitar 178 meter dengan kapasitas muatan sekitar 30 ribu ton itu dimiliki perusahaan pelayaran Thailand Precious Shipping yang berbasis di Bangkok.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz—salah satu rute distribusi energi paling vital di dunia.
Belum dapat dipastikan apakah serangan terhadap Mayuree Naree berkaitan dengan tiga insiden kapal dagang lain yang sebelumnya dilaporkan oleh United Kingdom Maritime Trade Operations pada hari yang sama.
Spanyol Tarik Duta Besar dari Israel
Pemerintah Spanyol mengambil langkah diplomatik tegas dengan menarik duta besarnya dari Israel di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah.
Keputusan tersebut mempertegas posisi Madrid yang selama ini menjadi salah satu kritik paling vokal di Eropa terhadap perang di Gaza serta serangan terhadap Iran yang dilakukan Israel bersama Amerika Serikat.
Langkah itu diumumkan melalui lembaran resmi negara pada Rabu (10/3). Dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa pemerintah menghentikan penugasan Ana María Salomon Perez sebagai Duta Besar Spanyol untuk Israel.
“Berdasarkan usulan Menteri Luar Negeri, Uni Eropa dan Kerja Sama, serta setelah pembahasan Dewan Menteri pada pertemuan 10 Maret 2026, dengan ini saya memerintahkan penghentian penunjukan Ana Maria Salomon Perez sebagai Duta Besar Spanyol untuk Negara Israel,” demikian bunyi pengumuman resmi tersebut.
Meski menarik duta besar, Kedutaan Besar Spanyol di Tel Aviv tidak ditutup. Misi diplomatik tetap berjalan dan untuk sementara dipimpin oleh seorang kuasa usaha (charge d’affaires), demikian dikutip dari Reuters.
Langkah ini menandai eskalasi terbaru dalam hubungan diplomatik Madrid dan Tel Aviv.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez sebelumnya mengecam serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ia menyebut operasi militer tersebut tidak dapat dibenarkan dan berbahaya bagi stabilitas global.
Pemerintah Spanyol juga secara konsisten mengkritik operasi militer Israel di Gaza yang oleh sejumlah pihak disebut sebagai genosida.
Sebagai bentuk tekanan politik, parlemen Spanyol pada Oktober lalu bahkan menyetujui undang-undang yang menetapkan embargo senjata total terhadap Israel.
Kebijakan itu melarang penjualan senjata, teknologi penggunaan ganda (dual-use), maupun perlengkapan militer dari Spanyol ke Israel.
Mojtaba Khamenei Dikabarkan Terluka
Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, dilaporkan mengalami luka ringan di tengah rangkaian serangan militer yang menghantam negara tersebut.
Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Mojtaba tetap menjalankan tugas kepemimpinannya meskipun mengalami luka.
Pernyataan itu muncul setelah televisi pemerintah Iran sebelumnya menyebutnya sebagai “korban luka dalam perang”.
Sejak diumumkan sebagai pemimpin tertinggi Iran pada Minggu lalu, Mojtaba belum terlihat tampil di hadapan publik maupun menyampaikan pidato resmi kepada masyarakat.
Ketidakhadirannya memicu berbagai spekulasi, termasuk kabar bahwa ia ikut terluka dalam serangan udara yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat.
Pria berusia 56 tahun itu dipilih oleh majelis ulama untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam gelombang awal serangan pada 28 Februari.
Ali Khamenei sebelumnya memimpin Iran selama beberapa dekade sebagai figur paling berpengaruh dalam struktur politik dan keagamaan negara tersebut.
Media Iran juga melaporkan bahwa serangan udara tersebut menewaskan sejumlah anggota keluarga Mojtaba, termasuk ibunya, saudara perempuan, dan istrinya.
Meski demikian, pejabat Iran menegaskan pemimpin tertinggi yang baru itu tetap menjalankan tugasnya di tengah situasi konflik yang masih berlangsung. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK