Buka konten ini

KEBOCORAN pipa distribusi utama berdiameter DN 500 milimeter di kawasan Simpang Kepri Mall, Batam Kota, menyebabkan gangguan pasokan air bersih bagi sekitar 50 ribu hingga 60 ribu pelanggan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Batam. Di saat bersamaan, warga Kelurahan Tanjung Sengkuang yang telah lebih dari 100 hari menghadapi krisis air bersih juga dihadapkan pada kendala distribusi air tangki akibat masalah pasokan bahan bakar pada sebagian armada pengangkut.
Hingga Senin (8/6) siang, tim teknis PT Air Batam Hilir (ABH) masih melakukan perbaikan di titik kebocoran yang berada di depan Gedung Informa Custom Furniture, Jalan Jenderal Sudirman, Baloi Permai. Sejumlah alat berat dan perlengkapan konstruksi tampak beroperasi untuk mempercepat proses penanganan.
Pipa yang mengalami kerusakan merupakan salah satu jalur distribusi utama dengan kapasitas suplai mencapai 600 liter per detik. Demi menjaga keselamatan pekerjaan dan stabilitas jaringan, aliran air pada jalur tersebut terpaksa dihentikan sementara.
Akibatnya, sejumlah wilayah mengalami tekanan air rendah bahkan tidak mendapatkan pasokan sama sekali. Kawasan yang terdampak antara lain Taman Niaga, Temenggung, Plamo Garden, Dutamas, Anggrek Sari, kawasan Industri Batam Centre, Citra Batam, Batu Batam, Kintamani, Bengkong, Central Sukajadi, Orchid Park, Rosedale, Marchelia, serta sejumlah kawasan permukiman lainnya.
Corporate Communication PT Air Batam Hilir, Ginda Amlamsyah, mengatakan kebocoran mulai teridentifikasi pada Minggu (7/6). Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, lokasi kebocoran berada pada jaringan distribusi utama yang diduga terdampak kondisi tanah yang tidak stabil.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan, lokasi kebocoran berada pada jaringan distribusi utama yang diduga terdampak kondisi tanah yang tidak stabil. Saat ini tim teknis masih fokus melakukan perbaikan sekaligus investigasi lanjutan untuk memastikan faktor penyebab secara menyeluruh,” ujar Ginda melalui keterangan tertulis.
Menurut dia, proses perbaikan tidak dapat dilakukan secara sederhana karena menyangkut jaringan utama yang melayani puluhan ribu pelanggan. Pekerjaan dimulai dari pengurangan hingga penghentian sementara aliran air, dilanjutkan dengan penggalian area kerja, pembukaan baut spool piece pada kedua sisi pipa, pemotongan bagian pipa yang rusak, pemasangan flange adaptor, pemasangan spool piece pengganti, hingga penyambungan kembali jaringan distribusi.
Selain kompleksitas pekerjaan teknis, tim di lapangan juga menghadapi tantangan berupa kondisi tanah yang tidak stabil dan berpotensi longsor. Faktor cuaca turut menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan pekerjaan.
“Setiap tahapan harus dilakukan sesuai standar teknis agar hasil perbaikan dapat berfungsi optimal dan meminimalkan risiko gangguan berulang,” katanya.
Terkait penyebab pasti kebocoran, ABH menyatakan masih melakukan investigasi dan belum dapat menyimpulkan apakah kerusakan dipicu faktor usia pipa, kualitas material, atau penyebab teknis lainnya. Perusahaan juga belum merinci frekuensi gangguan serupa yang pernah terjadi di ruas Simpang Kepri Mall dalam beberapa tahun terakhir.
Namun demikian, ABH menyebut evaluasi kondisi jaringan dilakukan secara berkala. Program pemeliharaan, rehabilitasi, dan peremajaan aset juga terus dilaksanakan berdasarkan tingkat prioritas, usia aset, kondisi teknis, serta kebutuhan pengembangan sistem.
Sementara itu, mengenai volume air yang hilang akibat kebocoran maupun potensi kerugian yang ditimbulkan, perusahaan masih melakukan penghitungan pasca-perbaikan.
ABH mengakui kebocoran jaringan distribusi menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW), yang selama ini menjadi fokus pembenahan perusahaan. Meski demikian, angka NRW terkini belum dipublikasikan.
Perusahaan memastikan fokus utama saat ini adalah menyelesaikan perbaikan secepat mungkin agar distribusi air dapat kembali dipulihkan. Namun ABH mengingatkan bahwa normalisasi pasokan tidak akan berlangsung secara serentak.
Setelah pekerjaan fisik selesai, sistem akan memasuki tahap pemulihan aliran. Pelanggan yang berada di ujung jaringan distribusi, wilayah dengan elevasi lebih tinggi, maupun kawasan yang jauh dari sumber distribusi diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama hingga tekanan air kembali normal.
Untuk mempercepat proses tersebut, tim operasional melakukan pengeluaran udara yang terjebak di dalam jaringan melalui air valve, pemeriksaan jaringan distribusi, serta pemantauan tekanan di berbagai titik pelayanan.
Sebagai langkah darurat, ABH juga menyiagakan mobil tangki air guna membantu pelanggan yang terdampak gangguan distribusi.
“Kami memahami kesulitan yang dialami pelanggan akibat gangguan ini. Seluruh tim PT Air Batam Hilir terus bekerja maksimal untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan dan memastikan suplai air dapat kembali normal secara bertahap kepada seluruh pelanggan terdampak,” kata Ginda.
Distribusi Air Tangki ke Tanjungsengkuang Tersendat
Di tengah upaya perbaikan jaringan distribusi, warga Kelurahan Tanjungsengkuang, Kecamatan Batuampar, kembali menghadapi persoalan baru dalam krisis air bersih yang telah berlangsung lebih dari 100 hari.
Distribusi air menggunakan mobil tangki yang selama ini menjadi tumpuan warga dilaporkan mengalami keterlambatan akibat kendala pasokan solar yang dialami sebagian armada vendor pengangkut air.
Ketua RW 08 Tanjungsengkuang, Arofah, mengatakan distribusi air tidak berhenti sepenuhnya, tetapi jumlah pasokan yang diterima warga mengalami penurunan.
“Macet total sih tidak. Tapi memang pasokannya agak kurang. Biasanya dari sekitar 16 permintaan yang diajukan, yang datang hanya sekitar 10 tangki,” ujarnya.
Menurut Arofah, para sopir mengaku kesulitan memperoleh solar sehingga waktu distribusi menjadi lebih lama karena harus mengantre di sejumlah lokasi pengisian bahan bakar.
“Kata sopir beberapa hari ini memang solar susah didapat. Mereka harus antre panjang. Tadi pagi saya hubungi lagi, jawabannya masih antre solar. Jadi memang distribusi agak tersendat,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Kapolsek Batuampar, Kompol Amru Abdullah, menjelaskan kendala pasokan BBM hanya dialami armada milik vendor yang membantu distribusi air. Sementara armada milik ABH masih beroperasi normal.
“Kendala BBM ini hanya pada mobil tangki dari vendor. Untuk mobil tangki ABH masih lancar. Memang ada ketersendatan jumlah pasokan tangki, tetapi secara umum kebutuhan air masyarakat masih ter-cover,” ujarnya.
Menurut Amru, keterlibatan vendor diperlukan karena armada milik ABH belum mencukupi untuk melayani seluruh wilayah yang terdampak krisis air.
“ABH selaku pengelola air bersih memang kekurangan armada mobil tangki, sehingga dibantu oleh vendor. Nah, yang mengalami kesulitan BBM ini adalah armada vendor tersebut.
Namun kami terus melakukan pemantauan terhadap pendistribusian air di lapangan,” katanya.
Meski distribusi darurat masih berlangsung, warga berharap solusi permanen segera diwujudkan. Hasmi, salah seorang warga Tanjungsengkuang, mengatakan masyarakat ingin pasokan air kembali mengalir normal melalui jaringan perpipaan sehingga tidak lagi bergantung pada mobil tangki.
“Kami berharap masalah ini segera diatasi. Air bisa kembali mengalir melalui pipa seperti di kawasan lain, sehingga masyarakat tidak lagi menunggu mobil tangki setiap hari,” ujarnya.
Memasuki lebih dari 100 hari krisis air bersih, harapan warga Tanjung Sengkuang masih tertuju pada percepatan normalisasi jaringan distribusi agar kebutuhan air bersih dapat terpenuhi secara berkelanjutan dan tidak lagi bergantung pada bantuan darurat. (***)
Reporter : EUSEBIUS SARA – M SYA’BAN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO