Buka konten ini

TEHERAN (BP) – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Iran meluncurkan rentetan rudal balistik ke Israel, Minggu (7/6) malam sebagai balasan atas serangan udara Israel ke kawasan Beirut selatan, Lebanon, yang menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai 11 lainnya.
Serangan tersebut menjadi eskalasi paling serius sejak kedua pihak menjalani gencatan senjata rapuh beberapa bulan terakhir. Situasi itu bahkan memicu kekhawatiran dunia internasional akan pecahnya konflik yang lebih luas di kawasan.
Di tengah meningkatnya tensi, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump turun tangan. Ia mengaku akan langsung menghubungi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar tidak membalas serangan Iran demi mencegah perang yang lebih besar.
“Saya akan menelepon Bibi (Benjamin Netanyahu) sekarang juga dan mengatakan kepadanya untuk tidak membalas. Masing-masing sudah melakukan aksinya. Israel telah melancarkan serangan, dan Iran juga telah melancarkan serangan.
Kita tidak membutuhkan serangan lainnya,” kata Trump kepada Axios.
Trump menilai serangan Iran tidak menimbulkan dampak signifikan karena seluruh rudal berhasil dicegat sistem pertahanan udara Israel. Karena itu, menurut dia, tidak ada alasan bagi Tel Aviv untuk melancarkan serangan balasan.
“Serangan Iran tidak melukai siapa pun,” ujarnya.
Ia khawatir aksi saling serang justru menggagalkan peluang tercapainya kesepakatan baru antara Washington dan Teheran yang saat ini disebut berada pada tahap akhir perundingan.
“Kami sangat dekat dengan kesepakatan final dengan Iran. Ini akan menjadi kesepakatan yang baik. Saya tidak ingin semuanya gagal karena apa yang sedang terjadi sekarang,” tegas Trump.
Sementara itu, militer Israel menyatakan sirene peringatan serangan udara berbunyi di sejumlah wilayah setelah rudal-rudal Iran diluncurkan sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Israel mengklaim seluruh rudal berhasil dicegat sehingga tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan berarti.
Bagi Teheran, serangan tersebut merupakan respons langsung atas operasi militer Israel yang kembali menyasar kawasan Dahiyeh di Beirut selatan. Wilayah itu dikenal sebagai basis kuat Hizbullah.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyebut serangan rudal tersebut diarahkan ke Pangkalan Udara Ramat David di Israel. Menurut IRGC, operasi itu merupakan peringatan keras atas serangan Israel yang terus berlanjut di Lebanon meski sebelumnya telah ada kesepakatan gencatan senjata.
“Operasi malam ini adalah sebuah peringatan. Jika agresi kembali terulang, respons kami akan lebih luas dan mencakup seluruh target Amerika-Zionis di kawasan,” demikian pernyataan IRGC.
Markas Khatam al-Anbiya milik IRGC bahkan menilai Israel telah melampaui seluruh garis merah dengan kembali menggempur Beirut selatan.
“Kami sebelumnya telah memperingatkan bahwa jika kejahatan di pinggiran Beirut meluas, kami akan menyerang target-target di wilayah pendudukan,” tegas mereka.
Ketegangan terbaru bermula ketika Israel melancarkan serangan ke kawasan Dahiyeh pada Minggu sore. Serangan itu menghantam wilayah permukiman padat penduduk dan menyebabkan sedikitnya dua orang tewas serta 11 lainnya luka-luka.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz menyatakan sasaran operasi tersebut adalah pusat komando Hizbullah. Namun Iran menilai tindakan itu sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati Israel dan Lebanon.
Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaee, menegaskan serangan rudal yang diluncurkan Teheran baru sebatas peringatan awal.
“Malam ini para agresor telah menerima jawabannya. Respons ini adalah peringatan untuk menghentikan kejahatan mereka. Setiap tindakan baru akan dibalas dengan respons yang lebih menghancurkan dan biaya yang lebih besar,” ujarnya.
Senada, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan negaranya siap meninggalkan jalur negosiasi apabila serangan terhadap Lebanon terus berlanjut.
Meski belum menimbulkan korban besar, serangan rudal Iran menunjukkan konflik yang sebelumnya berpusat di Lebanon berpotensi berkembang menjadi konfrontasi langsung antara Iran dan Israel. Situasi itu membuat kawasan Timur Tengah kembali berada di titik rawan, dengan risiko eskalasi yang dapat menyeret lebih banyak negara ke dalam konflik terbuka. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK