Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Wajah masa depan Jakarta tidak lagi hanya soal deretan gedung pencakar langit atau canggihnya kecerdasan buatan (AI). Lebih dari itu, ibu kota tengah bersiap menjadi kota yang inklusif, di mana setiap warganya punya akses dan kesempatan yang setara.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo menuturkan, tantangan terbesar Jakarta saat ini bukanlah keterbatasan infrastruktur, melainkan penguatan konektivitas antar-elemen kota.
”Jakarta tidak kekurangan gedung, jalan, maupun teknologi. Yang masih perlu diperkuat adalah keterhubungan antara warga dengan layanan, UMKM dengan pasar, investor dengan peluang, serta pemerintah dengan masyarakat,” ujar Agus dalam Jakarta Future Festival 2026 di Taman Ismail Marzuki.
Untuk mengikat seluruh elemen tersebut, Bank Jakarta memosisikan diri sebagai pusat ekosistem keuangan yang terintegrasi, bersanding dengan BUMD transportasi dan layanan publik lainnya. Agus mengibaratkan, jika MRT Jakarta berperan sebagai Mobility Operating System, Transjakarta menjadi platform mobilitas publik, dan PAM Jaya mengelola sistem layanan air, Bank Jakarta ingin menjadi Financial Operating System bagi Jakarta.
Demi mewujudkan visi besar tersebut, Bank Jakarta telah menyiapkan empat strategi utama untuk membangun ekonomi Jakarta yang lebih inklusif dan terkoneksi.
Strategi pertama berfokus pada financial inclusion atau inklusi keuangan. Bank Jakarta berkomitmen memastikan seluruh lapisan masyarakat dapat mengakses layanan keuangan formal secara mudah, aman, dan berbasis digital.
”Faktanya masih banyak warga Jakarta yang belum masuk ke dalam sistem keuangan formal. Ini menjadi pekerjaan besar yang harus kami selesaikan,” kata Agus H. Widodo.
Strategi kedua adalah mendongkrak kelas UMKM. Bank Jakarta memandang dukungan untuk sektor ini harus melompat lebih jauh, tidak sekadar memberikan bantuan modal usaha. Agus menegaskan dukungan kepada pelaku usaha tidak cukup hanya melalui penyaluran kredit, tetapi juga dengan membantu mereka masuk ke ekosistem digital, memperluas akses pasar, serta memperkuat rantai pasok.
”UMKM tidak hanya membutuhkan pinjaman, tetapi juga membutuhkan kesempatan,” ujar Agus H. Widodo.
Masalah papan juga menjadi sorotan utama. Melalui strategi ketiga, yaitu housing inclusion, Bank Jakarta mencoba mengurai benang kusut pembiayaan perumahan bagi generasi muda. Menurut Agus, salah satu tantangan terbesar generasi muda Jakarta saat ini adalah memiliki rumah yang terjangkau.
”Akses pembiayaan rumah harus menjadi bagian dari strategi kota karena banyak anak muda yang kesulitan menjangkau harga rumah di Jakarta,” ungkap Agus H. Widodo.
Terakhir, strategi keempat adalah investment enablement. Strategi ini dirancang untuk membangun kepercayaan para investor agar mau menanamkan modalnya di Jakarta. Agus menilai kota global tidak dapat dibangun hanya mengandalkan APBD, melainkan membutuhkan investasi yang kuat dan berkelanjutan. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI