Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Huawei menyebut pembatasan teknologi yang diterapkan Amerika Serikat justru menjadi pemicu lahirnya inovasi dan percepatan perkembangan industri semikonduktor di Tiongkok.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Bergilir sekaligus Wakil Ketua Huawei, Xu Zhijun, saat menjawab pertanyaan mengenai keberhasilan Huawei mengembangkan arsitektur chip baru bernama LogicFolding. Menurut Xu, tekanan dari Washington memaksa perusahaan-perusahaan Tiongkok untuk mencari terobosan teknologi sendiri.
“Jika Amerika Serikat tidak memaksa negara kami, perusahaan kami, dan industri kami, kami tidak akan melakukan hal seperti ini. Tetapi kami juga berterima kasih kepada AS karena telah memungkinkan rantai industri semikonduktor negara kami untuk benar-benar berkembang,” kata Xu Zhijun seperti dikutip dari Toms Hardware, Minggu (7/6). “Sekarang momentumnya sangat bagus, dan semua orang mengakui dan mendukungnya,” lanjutnya.
Huawei menjadi salah satu perusahaan teknologi Tiongkok pertama yang terkena pembatasan besar-besaran dari AS. Pada 2019, pemerintahan Presiden Donald Trump memasukkan Huawei ke dalam daftar hitam perdagangan, yang secara efektif membatasi akses perusahaan tersebut terhadap teknologi dan pasar Amerika Serikat.
Kebijakan pembatasan kemudian diperluas pada 2022 ketika Presiden Joe Biden memberlakukan kontrol ekspor terhadap chip dan GPU kecerdasan buatan (AI) canggih. Aturan tersebut membuat perusahaan-perusahaan Tiongkok tidak lagi leluasa memperoleh produk unggulan seperti Nvidia A100, H100, maupun AMD Instinct MI250 dan MI250X.
Sebagai respons, Nvidia dan AMD sempat mengembangkan versi chip dengan spesifikasi lebih rendah agar tetap dapat dijual ke pasar Tiongkok. Namun situasi kembali berubah ketika pemerintahan Trump periode kedua menerapkan larangan yang lebih ketat terhadap ekspor chip AI. Kebijakan itu membuat Nvidia harus menghapus aset GPU senilai USD 5,5 miliar, sementara AMD kehilangan potensi penjualan sekitar USD 800 juta.
Meski kemudian AS melonggarkan aturan dengan membuka peluang ekspor chip tertentu melalui mekanisme lisensi khusus, kondisi industri semikonduktor global sudah terlanjur berubah. Banyak perusahaan Tiongkok mulai beralih ke produk dalam negeri sebagai alternatif.
Di tengah keterbatasan akses terhadap teknologi Amerika, sejumlah perusahaan memilih mengembangkan solusi lokal. Walaupun performa dan efisiensinya belum sepenuhnya menyamai produk Nvidia maupun AMD, chip buatan domestik dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.
Peralihan tersebut memberi keuntungan bagi produsen chip Tiongkok karena meningkatkan pendapatan mereka. Dana yang diperoleh kemudian digunakan kembali untuk penelitian dan pengembangan (R&D), sehingga kemampuan teknologi lokal terus meningkat dan mulai mampu bersaing dengan produk Amerika dalam hal performa, meski masih menghadapi tantangan dari sisi konsumsi daya.
Perkembangan itu juga didukung oleh strategi pemerintah Beijing yang mendorong kemandirian industri semikonduktor nasional. Selain memberikan dukungan kepada produsen lokal, pemerintah Tiongkok dilaporkan mengarahkan perusahaan-perusahaan teknologi untuk lebih mengutamakan penggunaan chip buatan dalam negeri.
Bahkan, otoritas setempat disebut memperketat pengawasan terhadap masuknya chip AI dan GPU tertentu dari luar negeri, termasuk beberapa produk terbaru Nvidia yang sebelumnya dirancang khusus untuk pasar Tiongkok.
Sementara itu, CEO Nvidia, Jensen Huang, sejak lama mengkritik kebijakan pembatasan ekspor chip AI. Ia menilai kehadiran teknologi Amerika di pasar global merupakan cara efektif untuk mempertahankan pengaruh teknologi AS.
Menurut Huang, pembatasan yang terlalu ketat justru akan mendorong perusahaan-perusahaan Tiongkok mempercepat inovasi dan mengembangkan alternatif yang mampu bersaing dengan produk Amerika. Prediksi tersebut mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir, ketika pangsa pasar Nvidia di sektor chip AI Tiongkok terus menyusut, sementara produsen lokal semakin berkembang.
Meski pembatasan ekspor sempat memperlambat kemajuan industri AI Tiongkok, kebijakan tersebut pada akhirnya memacu perusahaan-perusahaan domestik untuk membangun ekosistem teknologi yang lebih mandiri.
Kini, hasil investasi dan pengembangan yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir mulai terlihat melalui kemunculan berbagai produk dan inovasi baru yang mampu menjadi alternatif bagi teknologi asal Amerika Serikat. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI