Buka konten ini

BATAM (BP) – Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Khusus Batam memfokuskan upaya pencarian dan pengamanan kontainer yang hanyut di perairan Batam pascatenggelamnya kapal kargo MV Golden Star 1 di Selat Singapura. Keberadaan kontainer yang terapung maupun setengah tenggelam dinilai berpotensi membahayakan kapal yang melintas di salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia tersebut.
Kontainer-kontainer tersebut berasal dari MV Golden Star 1, kapal kargo berbendera Tanzania yang tenggelam pada Jumat (5/6) malam di kawasan Traffic Separation Scheme (TSS) Selat Singapura. Kapal dengan Gross Tonnage (GT) 1.479 itu berlayar dari Singapura menuju Pasir Gudang, Malaysia.
Berdasarkan informasi awal, kapal mengalami kebocoran hebat pada bagian forepeak yang menyebabkan kapal kehilangan daya apung. Dalam waktu kurang dari 15 menit setelah kebocoran terdeteksi, kapal akhirnya tenggelam dan 107 kontainer yang diangkutnya terlepas ke laut.
Kepala KSOP Khusus Batam, M. Takwim Masuku, mengatakan keselamatan pelayaran menjadi prioritas utama saat ini. Pasalnya, sebagian ”kotak besi” tersebut terbawa arus menuju wilayah perairan Indonesia, termasuk Batam.
“Fokus kami saat ini adalah penanganan kontainer yang hanyut untuk memastikan alur pelayaran Indonesia, khususnya Batam, tetap aman,” ujar Takwim saat konferensi pers, Sabtu (6/6).
Menurut Takwim, penyebab pasti tenggelamnya kapal masih dalam proses pendalaman karena kapal tersebut berangkat dari Singapura dan tidak berasal dari pelabuhan Indonesia. Namun, upaya pengamanan jalur pelayaran tidak bisa menunggu hasil investigasi.
Untuk mengantisipasi risiko kecelakaan pelayaran, KSOP Batam bersama Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Kelas II Tanjunguban, Distrik Navigasi, serta nelayan setempat melakukan operasi pencarian dan pengamanan kontainer yang ditemukan di laut.
Keberadaan kontainer yang hanyut menjadi perhatian serius karena benda berukuran besar tersebut dapat membahayakan kapal niaga, tanker, maupun kapal penumpang yang melintas. Risiko semakin besar apabila kontainer berada dalam posisi setengah tenggelam sehingga sulit dideteksi oleh radar maupun pengamatan visual.
Hingga Sabtu (6/6), sebanyak 18 kontainer telah berhasil ditemukan dan dikandaskan sementara di kawasan Pulau Putri. Operasi pencarian masih terus berlangsung karena sebagian besar kontainer belum ditemukan.
“Kami berharap kontainer tersebut tetap mengapung sehingga bisa ditemukan dan diamankan. Jika tenggelam, justru akan lebih berisiko karena dapat menjadi ancaman bagi keselamatan pelayaran,” kata Takwim.
Selain melakukan pencarian di lapangan, KSOP Batam juga mengaktifkan sistem peringatan navigasi melalui Vessel Traffic Service (VTS) Batam. Informasi mengenai keberadaan kontainer hanyut terus disiarkan kepada kapal-kapal yang melintasi Selat Singapura dan perairan Batam.
Broadcast Navigational Warning disampaikan secara berkala setiap jam melalui frekuensi VHF Channel 16 agar seluruh kapal meningkatkan kewaspadaan saat melintas di kawasan tersebut.
“Kami memberikan informasi melalui VTS kepada seluruh kapal yang melintas di jalur ini agar berhati-hati dan terus memantau kondisi perairan,” ujarnya.
KSOP Batam bersama instansi terkait juga melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi perairan untuk mengantisipasi kemungkinan dampak lingkungan akibat tenggelamnya kapal. Hingga saat ini, belum ditemukan indikasi pencemaran signifikan yang berasal dari kapal maupun muatannya.
“Sejauh ini kami belum melihat adanya potensi pencemaran lingkungan, khususnya dari bahan bakar akibat kecelakaan tersebut. Namun, kami tetap menyiapkan langkah antisipasi. Jika ditemukan indikasi pencemaran yang masuk ke wilayah Batam, kami akan segera melakukan penanganan,” tegasnya.
KSOP Batam juga telah berkoordinasi dengan otoritas Singapura terkait penanganan kontainer yang hanyut. Koordinasi tersebut diperlukan untuk menjaga keselamatan pelayaran sekaligus menentukan langkah penanganan terhadap kontainer yang menjadi tanggung jawab pemilik muatan.
Dalam insiden tersebut, seluruh awak kapal berhasil diselamatkan. Golden Star 1 dinakhodai Ageng Sulistiawan dan diawaki sembilan warga negara Indonesia.
Informasi kondisi darurat kapal diterima KSOP Batam sekitar pukul 21.30 WIB. Menindaklanjuti laporan tersebut, KSOP segera mengerahkan Kapal Negara KN P-376 menuju lokasi kejadian untuk melaksanakan operasi penyelamatan.
“Seluruh awak kapal yang berjumlah sembilan orang berhasil dievakuasi dan diselamatkan dalam keadaan selamat oleh KN P-376 KSOP Khusus Batam,” ujar Takwim.
Setelah dievakuasi, para kru dibawa ke Dermaga Bintang 99 Batuampar untuk menjalani pemeriksaan oleh Balai Kekarantinaan Kesehatan Batam. Selanjutnya mereka diserahkan kepada Polairud Polresta Barelang untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan lanjutan di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepri.
Hingga kini, penyebab pasti kebocoran yang mengakibatkan Golden Star 1 tenggelam masih dalam proses investigasi.
Sementara itu, operasi pencarian kontainer dan pemantauan jalur pelayaran terus dilakukan guna memastikan aktivitas pelayaran di Selat Singapura dan perairan Batam tetap aman serta tidak mengganggu arus logistik internasional yang melintasi kawasan tersebut. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA – EUSEBIUS SARA
Editor : RATNA IRTATIK