Buka konten ini

BATAM (BP) – Badan Pengusahaan (BP) Batam memastikan persoalan krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah di Kota Batam, khususnya Tanjung Sengkuang dan Batu Merah, akan segera teratasi melalui serangkaian langkah jangka pendek, menengah, hingga pembangunan infrastruktur jangka panjang.
Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, menanggapi aksi unjuk rasa warga di depan Kantor BP Batam, Kamis (22/1).
Ariastuty mengatakan, persoalan air sebenarnya telah ditangani sejak tahun lalu. Pada 8 September 2025, BP Batam menerima perwakilan warga Tanjung Sengkuang dan Batu Merah dalam RDP (Rapat Dengar Pendapat) di DPRD Batam.
“Setelah RDP tersebut kami langsung turun ke lapangan. Kami paparkan apa saja yang akan kami lakukan dan mulai menyiapkan langkah-langkah penanganan jangka pendek, menengah dan panjang,” ujar Ariastuty.
BP Batam, kata Ariastuty, sudah memetakan permasalahan dan membuat berbagai solusi. Dalam jangka pendek, BP Batam fokus pada pemenuhan kebutuhan air melalui pengiriman truk tangki dan pemasangan toren/tangki air di titik-titik teringgi elevasi perumahan warga.
Saat ini, terdapat 24 unit toren yang telah dipasang. Namun, di lapangan masih ditemui kendala karena tidak semua warga teraliri air karena air hanya mengalir di bagian level terendah saja.
Meski demikian, dari hasil kajian BP Batam, toren tersebut tetap sangat dibutuhkan karena menjadi titik distribusi air ke perumahan dengan mengikuti elevasi jalur pipa tetapi pengisiannya harus sekaligus terisi penuh untuk beberapa toren.
Saat ini BP Batam telah menyiapkan 12 unit truk tangki khusus untuk wilayah terdampak. Dari hasil koordinasi dengan 17 RW dan 46 RT, kebutuhan riil di lapangan mencapai 103 trip per hari.
“Kami baru tahu kebutuhannya sebesar itu. Kami akomodir semaksimal mungkin. Kendalanya, total truk tangki di Batam hanya sekitar 25 unit dan akan menambah jumlah truk tangki terlebih untuk menghadapi bulan Ramadan dan Lebaran nanti,” ungkap Ariastuty.
Sementara itu, untuk jangka menengah, BP Batam melakukan penambahan booster pompa di beberapa wilayah yang mengalami tekanan air rendah. Namun, Ariastuty mengakui muncul persoalan sosial di lapangan.
“Kalau booster dipasang di satu wilayah, wilayah lain tidak dapat air. Bahkan ada yang sampai dicabut karena kecemburuan sosial,” katanya.
Selain itu, BP Batam juga melakukan interkoneksi jaringan pipa, yakni menyambungkan jalur distribusi antar perumahan agar suplai air bisa lebih merata, namun di lokasi tertentu interkoneksi pipa pun diputus.
Ia mengatakan, solusi permanen krisis air akan dilakukan melalui pembangunan jalur pipa baru dari Sukajadi menuju M3G (Simpang Jam), lalu ke Ozon (untuk megisi tangki air bukit Ozon) hingga Bukit Senyum (mengisi tangki Bukit Semyum).
”Proyek ini telah dianggarkan pada tahun 2026 dan saat ini telah siap dilelang. Proses lelang skitar 1 bulan lebih,” ucap Ariastuty.
Jika sesuai jadwal, pekerjaan fisik akan dimulai pada Maret 2026 dan ditargetkan rampung Juni/Juli 2026.
“Insyaallah Juni/Juli selesai. Jalur ini akan ada penambahan air sebesar 100 lpd utk memenuhi layanan air di Tanjung Sengkuang, Batu Merah dan wilayah sekitarnya,” ujarnya.
Ariastuty menuturkan, BP Batam terus mengawal seluruh proses penanganan krisis air dan meminta masyarakat untuk bersabar. “Kami akomodir dengan pengiriman truk tangki, kami turun langsung ke lapangan, koordinasi dengan RT/RW. Proyek ini butuh proses, tapi kami pastikan tidak tinggal diam,” katanya.
Ia menambahkan, hingga pembangunan pipa selesai, distribusi air melalui truk tangki akan terus dilakukan.
“Sampai nanti proyek rampung sekitar Juni/Juli, kami akan terus kirim air. Kami mohon masyarakat bisa bersabar, kami kawal penuh proses ini,” ujar Ariastuty. (*)
Reporter : M SYA’BAN
Editor : RATNA IRTATIK