Buka konten ini

NONGSA (BP) – Arus penumpang di Bandara Internasional Hang Nadim Batam selama Posko Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) meningkat. Selama 19 hari operasional, mulai 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, total pergerakan penumpang tercatat 244.339 orang atau naik sekitar 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Operasi Bandara Internasional Hang Nadim Batam, Anton Marthalius, menyampaikan bahwa penutupan Posko Nataru berjalan lancar tanpa insiden berarti. Selama masa pelayanan, tidak terjadi pengalihan penerbangan (divert) maupun gangguan serius.
“Alhamdulillah, selama 19 hari posko tidak ada kejadian signifikan. Tidak ada divert, apalagi insiden. Ini berkat kerja keras seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya saat penutupan posko, Senin (5/1).
Anton menjelaskan, keberhasilan pelaksanaan posko merupakan hasil sinergi berbagai pihak. Mulai dari maskapai penerbangan, ground handling, CIQ, Bea Cukai, Imigrasi, Karantina, serta dukungan TNI dan Polri yang menjaga keamanan dan kelancaran operasional bandara.
Dari sisi trafik penerbangan, peningkatan tidak hanya terjadi pada jumlah penumpang, tetapi juga pergerakan pesawat. Selama periode Nataru, tercatat 1.716 pergerakan pesawat, atau naik sekitar 7 persen dibandingkan Nataru 2024.
“Kalau dibandingkan dengan bandara lain, capaian ini termasuk cukup tinggi. Ini menjadi indikator positif bagi Bandara Hang Nadim,” katanya.
Menurut Anton, terdapat dua puncak pergerakan penumpang selama Nataru. Puncak arus keberangkatan terjadi pada 24 Desember 2025 dengan 15.743 penumpang dan 103 pergerakan pesawat. Puncak arus balik terjadi pada 3 Januari 2026 dengan 18.033 penumpang dan 109 pergerakan pesawat.
“Jadi ada dua kali puncak, saat keberangkatan dan saat kepulangan,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang, Bandara Hang Nadim melayani penerbangan tambahan (extra flight). Dari 157 pengajuan penerbangan tambahan oleh maskapai, sebanyak 113 di antaranya terealisasi.
“Ini hal yang biasa. Maskapai mengajukan lebih, tetapi realisasi bergantung pada permintaan penumpang. Kalau tidak terjual, tentu tidak diterbangkan,” terang Anton.
Data bandara menunjukkan, rute tersibuk selama Nataru adalah Cengkareng dengan sekitar 35.000 penumpang. Disusul Kualanamu (20.000 penumpang), Pekanbaru (16.000), Surabaya (8.700), Palembang (8.400), dan Padang (7.700).
Dari sisi maskapai, Lion Air menjadi penyumbang penumpang terbesar dengan porsi 39 persen. Posisi berikutnya ditempati Citilink 24 persen, Super Air Jet 20 persen, Garuda Indonesia 6 persen, dan Batik Air 5 persen. Tingkat keterisian kursi (load factor) rata-rata selama Nataru mencapai 78 persen, sejalan dengan angka nasional.
Anton tidak menampik adanya keluhan selama posko berlangsung. Namun, komplain dinilai masih dalam batas wajar dan umumnya terkait keterlambatan penerbangan.
“Komplain itu terkait delay operasional, seperti juga terjadi di bandara lain. Kami melakukan delay management agar dampaknya bisa diminimalkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, faktor cuaca relatif kondusif sepanjang periode Nataru. Berdasarkan koordinasi dengan BMKG, tidak terjadi cuaca buruk yang mengganggu operasional penerbangan.
“Selama posko tidak ada penerbangan yang dialihkan karena cuaca,” tegasnya.
Usai puncak arus balik, jumlah penumpang diperkirakan kembali normal. Pada hari terakhir posko, pergerakan penumpang diprediksi sekitar 11.800 orang, mendekati rata-rata harian normal di kisaran 10.000 penumpang.
“Biasanya minggu depan sudah kembali stabil,” tutup Anton. (*)
Reporter : YASHINTA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO