Buka konten ini

LINGGA (BP) — Bubur Asyura atau yang lebih dikenal sebagai bubur lambok menjadi hidangan khas masyarakat Kabupaten Lingga setiap memperingati 10 Muharam dalam kalender Hijriah.
Bubur tradisional ini berbahan dasar sagu mutiara yang dipadukan dengan aneka sayuran, rempah-rempah, serta hasil laut. Proses memasaknya dilakukan secara bergotong royong oleh warga di musala, surau, maupun masjid, menjadikannya tidak sekadar sajian kuliner, tetapi juga simbol kebersamaan.
Saparida, warga Dabo Singkep, mengatakan, tradisi memasak bubur lambok telah menjadi agenda rutin setiap datangnya hari Asyura. Warga bersama pengurus mushala, surau, dan masjid akan mengumpulkan jamaah untuk memasak bubur secara bersama-sama.
“Biasanya sebelum malam 10 Muharam, kami sudah mulai bergotong royong memasak bubur lambok di masing-masing mushala, surau, maupun masjid,” ujar Saparida, Jumat (19/12).
Ia menjelaskan, bubur dimasak sejak pagi hingga siang hari, kemudian disajikan pada malam hari setelah pembacaan doa bersama.
“Bubur yang dimasak sejak pagi itu dihidangkan malam hari untuk disantap bersama setelah doa,” katanya.
Selain disajikan pada peringatan 10 Muharam, bubur lambok juga kerap dijadikan menu berbuka puasa, hidangan hajatan, hingga sajian dalam berbagai kegiatan dan event wisata. “Bubur lambok menjadi simbol rasa syukur kepada Allah SWT, sekaligus harapan akan keselamatan dan kesejahteraan di tahun yang baru,” ungkap Saparida.
Bubur lambok merupakan tradisi turun-temurun sejak masa Kerajaan Lingga dan telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Kuliner khas ini bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. (***)
Reporter : VATAWARI
Editor : GUSTIA BENNY