Buka konten ini

JAKARTA (BP) – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menargetkan pertumbuhan kredit pada 2026 berada di kisaran 10 hingga 12 persen. Proyeksi tersebut ditopang oleh dua penggerak utama, yakni penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) berskema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) serta Kredit Usaha Rakyat sektor perumahan atau Kredit Program Perumahan (KPP) yang dinilai memiliki potensi peningkatan.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, mengatakan, FLPP dan KPP menjadi dua produk andalan perseroan dalam mendorong ekspansi kredit tahun depan. Menurutnya, kontribusi FLPP saja berpotensi menyumbang pertumbuhan kredit sekitar 8–9 persen, yang kemudian diperkuat oleh KPP sehingga total pertumbuhan diyakini bisa menembus dua digit.
“Untuk tahun depan, BTN memiliki dua motor pertumbuhan kredit, yaitu FLPP dan KPP. FLPP saja sudah mampu mendorong 8–9 persen. Jika ditambah KPP, saya optimistis kredit bisa tumbuh 10–12 persen,” ujar Nixon saat ditemui di Jakarta, Kamis (18/12).
Selain kredit, BTN juga menargetkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dapat melampaui laju pertumbuhan kredit. Sementara itu, laba perusahaan diharapkan tetap meningkat secara dua digit.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Network & Retail Funding BTN, Rully Setiawan, menegaskan bahwa perseroan akan memperkuat basis dana murah atau current account savings account (CASA), khususnya tabungan dan giro tanpa skema suku bunga khusus.
“CASA yang menjadi fokus kami adalah tabungan dan giro non-special rate. Itu yang menjadi target utama BTN pada tahun depan,” kata Rully.
BTN pun berharap rasio CASA dapat terus meningkat. Rully menyebutkan, perseroan menargetkan kenaikan rasio CASA setidaknya sekitar 5 persen dari posisi saat ini, dengan sasaran mendekati level 60 persen.
Hingga November 2025, BTN mencatat pertumbuhan kredit dan pembiayaan sebesar 8,74 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp386,47 triliun. Sementara DPK tumbuh lebih tinggi, yakni 15,77 persen yoy menjadi Rp423,96 triliun.
Kinerja tersebut turut mendorong kenaikan total aset BTN sebesar 12,16 persen yoy menjadi Rp503,99 triliun. Capaian ini melampaui target aset Rp500 triliun yang dipatok perseroan pada awal 2025.
Menjelang akhir tahun, BTN tetap memfokuskan penyaluran kredit pada sektor perumahan, baik KPR subsidi maupun non-subsidi, guna memenuhi kebutuhan hunian nasional. Di samping itu, perseroan juga menggenjot kredit korporasi ke sektor-sektor pendukung perumahan, seperti real estat, listrik, gas, air, serta perdagangan besar.
Dari sisi pendanaan, BTN melanjutkan strategi peningkatan DPK berbiaya rendah, terutama yang bersumber dari nasabah ritel dan institusi menengah. Upaya tersebut diperkuat melalui pengembangan layanan digital, termasuk super apps Bale by BTN dan Bale Korpora, untuk mempercepat penurunan biaya dana perseroan. (*)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO