Buka konten ini

PERINGATAN terkait meningkatnya risiko gempa kuat susulan dicabut pada Senin (15/12) tengah malam waktu setempat, sepekan setelah gempa bermagnitudo 7,5 SR mengguncang wilayah Jepang utara dan timur laut.
Warga tidak lagi diwajibkan bersiaga untuk melakukan evakuasi segera. Namun, otoritas setempat tetap mengimbau mereka untuk menjaga kesiapan menghadapi bencana, termasuk memastikan ketersediaan perlengkapan darurat.
Gempa bermagnitudo 7,5 itu terjadi pada 8 Desember malam, di pesisir Pasifik Prefektur Aomori di kedalaman 54 km. Gempa itu mendorong Badan Meteorologi Jepang (Japan Meteorological Agency/JMA) untuk mengeluarkan peringatan tsunami bagi sejumlah wilayah di Hokkaido serta prefektur Aomori dan Iwate. Lebih dari 40 orang dilaporkan terluka di Jepang utara dan timur laut akibat gempa dahsyat tersebut.
Tak lama setelah gempa, JMA untuk pertama kalinya mengeluarkan peringatan potensi gempa dahsyat di sepanjang palung lepas pantai Pasifik di Jepang timur laut, dengan menyebutkan adanya kemungkinan satu banding 100 bahwa gempa bermagnitudo 8 atau lebih dapat terjadi dalam sepekan berikutnya.
Hingga Senin sore, tidak terjadi gempa besar yang melanda Jepang selama periode satu pekan tersebut, menurut JMA.
Sistem peringatan yang dikenal sebagai “Imbauan Gempa Susulan Lepas Pantai Hokkaido dan Sanriku” mulai beroperasi pada Desember 2022.
Sistem ini dikembangkan berdasarkan pelajaran yang didapat dari gempa dahsyat bermagnitudo 9,0 yang melanda Jepang timur laut pada 11 Maret 2011, disusul oleh gempa bermagnitudo 7,3, demikian dilaporkan Kyodo News, seraya menambahkan bahwa imbauan tersebut tidak mewajibkan evakuasi pencegahan. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY