Buka konten ini

ACEH (BP) – Dengan lumpur tebal masih menutup banyak lorong dan genangan air yang belum sepenuhnya surut di kawasan seluas sekitar lima hektare, RSUD Aceh Tamiang tetap menjadi tumpuan harapan warga pascabanjir bandang. Pelayanan kesehatan tetap berjalan meski dengan segala keterbatasan.
Seluruh pelayanan saat ini dipusatkan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang berfungsi layaknya “rumah sakit mini” bagi masyarakat terdampak bencana. Pantauan di lokasi, Senin (15/12), sejumlah fasilitas seperti ruang hemodialisis dan laboratorium masih dalam tahap pemulihan. Sejumlah alat kesehatan tampak dijemur untuk proses pembersihan lanjutan.
“Kalau bicara spesifik rumah sakit, luasannya sekitar lima hektare terendam lumpur seluruhnya.
Banyak alat rusak dan harus diganti karena tidak mungkin kami pilah satu per satu. Itu justru akan memperlambat pelayanan,” ujar Direktur RSUD Aceh Tamiang, Andika Putra.
Ia menjelaskan, sebagian alat kesehatan masih dapat digunakan karena berada di lantai dua saat banjir bandang menerjang tiga pekan lalu. Untuk memastikan pelayanan tetap berjalan, seluruh layanan esensial dialihkan ke IGD.
“Pelayanan gawat darurat, rawat jalan terbatas, hingga rawat inap terbatas kami pusatkan di IGD dengan kapasitas 26 tempat tidur. Jika ada kasus darurat yang tidak bisa ditangani, langsung kami rujuk,” katanya.
Secara bertahap, layanan penting mulai kembali diaktifkan. Dua ruang operasi darurat telah kembali beroperasi. Sementara itu, layanan cuci darah (hemodialisis) direncanakan kembali berjalan setelah proses pembersihan total.
Laboratorium yang sempat terendam juga telah dibersihkan dan kini menunggu kelengkapan alat kesehatan, sebagian besar dengan dukungan pemerintah pusat.
Menurut Andika, operasional IGD mendapat dukungan penuh dari RSUP H Adam Malik Medan, Kementerian Kesehatan, serta relawan medis dari berbagai daerah.
“RSUP Adam Malik yang membuka jalan, lalu dilanjutkan rekan-rekan dari ILUNI, Fakultas Kedokteran UI, FK Universitas Sriwijaya, RS Persahabatan, RS Parmadi, dan relawan lainnya,” ungkapnya.
Nakes Bertahan di Tengah Bencana
Di balik layanan yang terus berjalan, tersimpan kisah pengabdian para tenaga kesehatan (nakes). Saat banjir melanda, lebih dari 20 tenaga medis—perawat, bidan, hingga dokter—terpaksa bertahan di rumah sakit karena akses pulang terputus.
“Sebagian dari mereka bahkan kehilangan rumah akibat terjangan banjir. Ada nakes yang bertahan berhari-hari di rumah sakit,” ujar Andika.
Setelah air surut, para nakes sempat pulang sejenak untuk mengecek kondisi keluarga dan tempat tinggal. Kini, meski belum sepenuhnya pulih dan sebagian staf masih mengungsi, RSUD Aceh Tamiang perlahan bangkit.
Sejumlah layanan spesialis kembali dibuka, mulai dari penyakit dalam, bedah, kandungan, anak, hingga kesehatan jiwa. Layanan kesehatan jiwa kembali diaktifkan menyusul banyaknya warga yang mengalami trauma pascabanjir.
“Kami tahu banyak warga mengalami gangguan kesehatan dan trauma setelah bencana. Selama kami masih bisa berdiri dan melayani, RSUD Aceh Tamiang akan tetap membuka pintu bagi masyarakat,” tegas Andika.
Turun ke Puskesmas
Informasi yang dihimpun, relawan kesehatan juga dikerahkan untuk membantu pemulihan layanan puskesmas di sejumlah titik di Aceh Tamiang, salah satu wilayah yang terdampak paling parah.
Salah satunya dilakukan oleh relawan International Networking for Humanitarian (INH). Dokter relawan, Muhamad Dea Firdaus, mengatakan pihaknya melayani pemeriksaan kesehatan umum bagi sekitar 40 warga dan relawan di Desa Bundar, Kecamatan Karang Baru.
“Keluhan paling banyak batuk dan pilek. Ada juga yang mengeluhkan sesak napas akibat abu serta gangguan kulit,” katanya.
Sementara itu, Direktur Action Humanity, Muhammad Saufi, mengaku telah berada di Aceh Tamiang sejak pekan kedua pascabanjir. Sejak awal, timnya membuka dapur umum untuk mengolah bantuan yang masuk. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK