Buka konten ini

PERSOALAN infrastruktur terjadi di kawasan Punggur. Kondisi Jalan Patimura jalur penghubung Pelabuhan Punggur menuju Simpang Kabil—kian memprihatinkan. Ruas jalan di sekitar pintu masuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Telaga Punggur dipenuhi tanah merah tebal.
Pantauan di lokasi, Senin (15/12), jalan tanah sepanjang hampir satu kilometer itu tampak tidak rata dan mudah tergerus. Saat cuaca panas, debu beterbangan dan mengganggu jarak pandang. Sebaliknya, ketika hujan turun, permukaan jalan berubah menjadi lumpur licin.
Arif, pengendara sepeda motor yang setiap hari melintas menuju Kabil, mengaku kondisi tersebut sangat mengganggu aktivitasnya.
“Kalau panas, debunya tebal sekali. Visor helm harus ditutup rapat,” ujarnya.
Menurut Arif, saat hujan risiko kecelakaan justru meningkat. Ia mengaku sering melihat pengendara motor hampir terjatuh akibat jalan licin. “Kalau hujan, tanahnya jadi lumpur. Motor gampang oleng,” katanya.
Keluhan juga datang dari pengguna mobil. Nabila menilai Jalan Patimura sudah tidak layak dilalui, padahal menjadi akses utama dari pelabuhan menuju pusat kota.
“Kalau hujan, ban seperti tidak menggigit jalan. Kalau panas, debunya luar biasa. Mobil lewat sekali langsung kotor,” ujarnya.
Ia juga menyoroti padatnya lalu lintas kendaraan berat, terutama truk pengangkut sampah dan tanah, yang melintas hampir tanpa jeda dan memperparah kerusakan jalan.
Warga sekitar pun terdampak. Debu kerap masuk ke rumah, menempel di perabot, dan dikhawatirkan berdampak pada kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Para pengguna jalan berharap pemerintah segera turun tangan melakukan penanganan, baik melalui pembersihan rutin maupun perbaikan permanen.
Ini jalur penting dari pelabuhan ke kota. Jangan tunggu ada korban baru diperhatikan,” tutup Nabila.
Sementra itu banjir kembali melanda belasan titik di kawasan Batuaji dan Sagulung, Batam, menyebabkan perumahan tergenang dan arus lalu lintas lumpuh. Air bahkan mencapai setinggi lutut orang dewasa, disertai tumpukan sampah yang terbawa dari saluran drainase.
Imron, warga Senawangi, Batuaji, menilai banjir yang terjadi beberapa hari terakhir tak lepas dari buruknya kondisi drainase yang tersumbat sampah. Menurutnya, saluran air di perumahan sempit dan dipenuhi limbah rumah tangga.
“Drainasenya sempit dan tersumbat. Akhirnya banjir bercampur sampah,” ujarnya.
Ia juga menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Di sekitar jalan perumahan, kata dia, masih banyak tumpukan sampah, bahkan pengendara kerap membuang sampah ke lahan kosong.
“Kalau sudah banjir, yang disalahkan drainase. Padahal warga sendiri kurang menjaga kebersihan,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Lisa, warga Mantang, Sagulung. Ia menyebut drainase di kawasan tersebut dipenuhi sampah sehingga hujan lebat beberapa menit saja sudah memicu genangan.
“Warga masih buang sampah sembarangan. TPS juga sering penuh, akhirnya sampah ke mana-mana,” ujarnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Camat Batuaji Addi Harnus mengatakan pihaknya akan segera menggelar gotong royong bersama warga untuk membersihkan saluran air dan lingkungan sekitar. “Kami akan segera gotong royong bersama warga. Masalahnya di drainase, dan ini harus dibarengi
kesadaran warga menjaga kebersihan,” tegasnya. (***)
Reporter : YOFI YUHEMDRI – YASHINTA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO