Buka konten ini

NONGSA (BP) – Menjelang peringatan Hari Jadi Kota Batam (HJB) ke-196, nuansa khidmat menyelimuti Masjid At-Taqwa Nongsa, Jumat (12/12) pagi. Makam Zuriat Nong Isa—tokoh penting yang menandai awal sejarah Batam—menjadi pusat kegiatan ziarah yang digelar Pemerintah Kota (Pemko) Batam.
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, bersama Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra memimpin langsung prosesi tersebut. Mereka hadir bersama jajaran Forkompinda serta tokoh zuriat. Kegiatan sederhana namun sarat makna itu menjadi bentuk penghormatan terhadap perjalanan panjang Batam sejak masa awal.
Ziarah ini bukan sekadar agenda rutin tahunan. Bagi Pemko Batam, kegiatan tersebut merupakan ruang untuk merawat memori kolektif mengenai kelahiran Batam—jauh sebelum kota ini menjelma menjadi kawasan industri dan investasi strategis seperti sekarang.
Di sela prosesi, Amsakar kembali mengenang proses panjang penetapan Hari Jadi Batam. Ia menjelaskan bahwa keputusan itu melalui diskusi intens dengan berbagai pihak dan penelusuran historis terhadap sejumlah tokoh, mulai dari Temenggung Abdul Jamal hingga Raja Ali Kelana.
Perdebatan akhirnya mengerucut pada sosok Nong Isa atau Raja Isa. Dokumen Arsip Nasional menjadi bukti penentu, terutama catatan Sultan Abdurrahman dan Raja Jakfar yang menugaskan Nong Isa pada 22 Jumadil Akhir 1245 Hijriah atau 18 Desember 1829.
“Diskusinya panjang, tiga kali pertemuan besar dan dua seminar. Keputusan akhirnya kita temukan dalam dokumen yang jelas menyebut tanggal dan mandat itu,” ujar Amsakar.
Ia menambahkan, sejak penugasan itulah Batam mulai membentuk struktur pemerintahan lokal. Pada masa awal, Batam dikenal sebagai tempat singgah para musafir yang hendak menunaikan ibadah haji melalui Singapura. Dari titik itu lahir pemukiman, aktivitas perdagangan, hingga perkembangan tata kelola pemerintahan.
Status Batam kemudian meningkat menjadi wakil schap pada era kolonial dan berkembang menjadi pusat pemerintahan lokal pada 1882. Setelah kemerdekaan, perjalanan panjang itu berlanjut melalui pembentukan Otorita Batam yang memacu industrialisasi hingga melahirkan Batam sebagai kota otonom dan pusat industri, logistik, pariwisata, serta investasi nasional.
Tahun ini, peringatan Hari Jadi Batam mengusung tema “Unggul dan Berdaya Saing”. Unggul menggambarkan penguatan pelayanan publik dan sumber daya manusia, sementara berdaya saing menegaskan visi Batam sebagai kawasan berdaya tarik ekonomi internasional.
“Yang kita perlukan sekarang adalah bergerak bersama. Bukan lagi membahas hal-hal kontraproduktif. Fokus kita adalah masa depan Batam,” tegas Amsakar.
Ia juga mengajak para tokoh zuriat dan masyarakat mempererat kebersamaan menjelang usia dua abad Batam. “Kita harus berjalan seirama. Mari gunakan momentum hari jadi ini untuk mempertautkan hati,” tambahnya.
Wakil Wali Kota Li Claudia turut menyampaikan apresiasi. Menurutnya, ziarah seperti ini penting dilestarikan agar generasi muda memahami akar sejarah Batam.
“Kegiatan seperti ini harus terus dijaga. Anak-anak muda perlu tahu dari mana Batam bermula. Kita tidak boleh melupakan sejarah,” ucapnya.
Prosesi ziarah ditutup dengan doa bersama. Para peserta tampak membawa harapan serupa, menjadikan Batam semakin maju, solid, dan siap menghadapi berbagai tantangan zaman. (*)
Reporter : ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO