Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Tingkat utilisasi pabrik industri keramik, khususnya tableware dan glassware, masih rendah. Hal itu disebabkan derasnya arus produk impor. Kondisi ini membuat Kementerian Perindustrian terus menegaskan pentingnya penguatan daya saing agar sektor tersebut dapat mengoptimalkan kapasitas produksi dan mempertahankan pasar domestik.
“Kedua subsektor ini memiliki struktur industri yang kuat, berbasis sumber daya lokal, dan potensi pasar yang terus berkembang,” ujar Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, di Jakarta, Kamis (11/12).
Pada 2024, industri tableware memiliki kapasitas terpasang 250 ribu ton, namun utilisasinya hanya 52 persen. Menurut Agus, angka ini masih tertahan karena gempuran produk keramik dan gelas kaca impor yang terus membanjiri pasar. Padahal, pangsa pasar domestik tableware mencapai 78 persen, capaian yang dinilai cukup kuat.
“Namun tingkat konsumsi keramik per kapita di Indonesia masih rendah, sehingga potensi pertumbuhannya masih besar,” tuturnya.
Untuk subsektor glassware, kapasitas produksi mencapai 740 ribu ton per tahun dengan utilisasi 51 persen dan pangsa pasar domestik sekitar 65 persen. Sepanjang 2024, ekspor produk kaca ini menembus USD 97 juta atau 128 ribu ton, dengan Filipina, Brasil, dan Vietnam sebagai pasar utama.
“Permintaan pasar domestik dan ekspor terus tumbuh. Peluang pengembangan industri ceramic–tableware dan glassware masih sangat prospektif. Tapi kita harus waspada terhadap penetrasi impor yang bisa melonjak sewaktu-waktu,” beber Agus.
Kemenperin, lanjutnya, menyiapkan sejumlah kebijakan untuk menjaga iklim usaha, mulai dari penerapan SNI wajib untuk menahan banjir produk nonstandar, kebijakan harga gas bumi tertentu (HGBT) sebesar USD 7 per MMBTU, sertifikasi halal sesuai PP 42/2024, hingga program P3DN.
Menperin mendorong pelaku industri keramik dan kaca memperluas langkah strategis, terutama melalui adopsi teknologi baru, penguatan riset, inovasi desain, serta percepatan transformasi manufaktur.
“Semua itu menjadi kunci memperkuat industri nasional di tengah tekanan impor,” ucapnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO