Buka konten ini

Ketika tubuh mulai kehilangan tenaga dan aktivitas sehari-hari terasa makin berat, banyak orang baru menyadari pentingnya rehabilitasi medis. Layanan ini bukan hanya membantu pasien bangkit setelah sakit atau cedera, tetapi juga menjadi langkah awal untuk memulihkan fungsi tubuh agar kembali mandiri.

DI balik prosesnya, rehabilitasi medis bekerja secara terarah dan ilmiah untuk mengembalikan kualitas hidup pasien seoptimal mungkin.
Menurut dr. Kevin Pranata, Sp.KFR, Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medis dari Rumah Sakit Awal Bros Batam, rehabilitasi medis adalah cabang spesialisasi kedokteran yang berfokus pada pemulihan fungsi tubuh.
Selama ini masyarakat lebih mengenal diagnosis medis misalnya stroke, serangan jantung, atau patah tulang. Padahal setiap diagnosis medis selalu berdampak pada diagnosis fungsi, yaitu gangguan kemampuan tubuh dalam bergerak, bernapas, bekerja, atau beraktivitas sehari-hari.
“Manusia pada dasarnya hidup untuk berfungsi. Semua sistem organ harus bekerja agar seseorang bisa menjalankan aktivitasnya dengan baik,” jelas dr. Kevin dalam bincang sehat bertema Langkah Awal Pemulihan: Apa itu Rehabilitasi Medis di live Instagram halloawalbros, Rabu (26/11).
Gangguan fungsi yang tidak ditangani dapat menurunkan kualitas hidup, menimbulkan kecemasan, hingga memicu depresi. Karena itu pemulihan fungsi menjadi kunci utama dalam rehabilitasi medis.
Rehabilitasi medis tidak hanya untuk pasien pascastroke.
“Hampir semua gangguan organ dapat menimbulkan gangguan fungsi, dan itu bisa direhabilitasi,” kata dr. Kevin.
Gangguan tersebut dapat berasal dari: otak dan saraf, sistem pernapasan, jantung,
tulang, otot, dan sendi, fungsi berkemih, bahkan fungsi seksual pada pria.
Saat merasa terjadi gangguan organ atau ketika fungsi tubuh mulai terganggu maka sesegera mungkin rehabilitasi medik.
Pada beberapa kasus, rehabilitasi bahkan dimulai sebelum operasi —misalnya pada pasien yang akan pemasangan ring atau bypass jantung. Tujuannya untuk memaksimalkan kondisi fisik agar pemulihan pascaoperasi lebih cepat.
Rehabilitasi medis juga menjadi penunjang bagi banyak spesialisasi lain, sehingga dokter rehab selalu bekerja sama dengan dokter jantung, bedah tulang, saraf, dan sebagainya.
Rehabilitasi medis bukan hanya fisioterapi. Banyak orang menyebut dokter rehab sebagai “dokter fisioterapi”. Istilah itu kurang tepat.
“Fisioterapis adalah tenaga kesehatan, sama seperti perawat. Mereka bagian dari tim rehabilitasi medis, bukan dokternya,” tegas dr. Kevin.
Tim Rehabilitasi Medis Terdiri dari:
1. Fisioterapis – fokus pada terapi fisik.
2. Okupasi terapis – melatih motorik halus, fungsi tangan, aktivitas harian.
3. Terapis wicara – menangani gangguan bicara, termasuk speech delay pada anak.
4. Perawat rehabilitasi medis.
5. Pekerja sosial medis – membantu asesmen kebutuhan rumah, donasi, hingga edukasi keluarga.
6. Psikolog – mendampingi pasien dengan gangguan psikologis terkait penyakit.
7. Ortotik-prostetik – membuat alat bantu, termasuk brace skoliosis dan kaki palsu.

Berapa lama atau durasi proses rehabilitasi tidak sama untuk setiap orang. Dokter harus menilai: seberapa berat gangguannya, pekerjaan pasien, target fungsi yang ingin dicapai.
Pada pasien dewasa, evaluasi umumnya dilakukan setiap 1 bulan. Pada anak, evaluasi dilakukan setiap 1–3 bulan.
“Programnya sangat individual. Dua pasien dengan keluhan yang sama bisa punya program rehabilitasi yang berbeda tergantung kebutuhan dan aktivitas harian,” jelasnya.
Karena itu pasien perlu sabar, konsisten, dan aktif bertanya mengenai rencana terapi serta perkembangannya.
Adakalanya pasien sering berhenti di tengah jalan.
Contoh klasik adalah pasien pascaoperasi pergelangan kaki. Setelah nyeri hilang, pasien merasa sudah sembuh dan berhenti datang, padahal penguatan otot dan pemulihan fungsi belum selesai. Hal ini berisiko membuat pasien kembali cedera.
“Kunci utamanya komunikasi. Tanyakan timeline dan target rehab kepada dokter agar tidak berhenti sebelum waktunya,” ujar dr. Kevin.
Setiap tindakan medis memiliki risiko, termasuk risiko dalam rehabilitasi medis. Namun, menurut dr. Kevin, risiko pada rehabilitasi medis umumnya rendah. Misalnya iritasi ringan pada penggunaan laser atau ketidaknyamanan pada saat latihan tertentu. Semua dilakukan dengan pengawasan ketat untuk meminimalkan risiko.
dr. Kevin Pranata menjelaskan peran dokter rehabilitasi medik serta pentingnya penanganan dini pada berbagai gangguan fungsi tubuh, termasuk kasus saraf terjepit atau HNP (Herniated Nucleus Pulposus).
Menurut dr. Kevin, kesadaran masyarakat terhadap rehabilitasi medik semakin meningkat seiring bertambahnya minat masyarakat dalam olahraga.
“Banyak yang aktif berolahraga, dan cedera tidak bisa dihindari. Dari situ, orang mulai mengenal rehabilitasi medik,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan bahwa rehabilitasi medik jauh lebih luas daripada yang dipahami sebagian besar masyarakat.
“Saya dan teman-teman juga terus mengedukasi melalui media sosial supaya masyarakat paham. Dokter rehab itu menangani apa? Kerjaannya apa? Itu yang ingin kami luruskan,” jelasnya.
Dokter Rehabilitasi Menentukan Program Terapi
Dalam menjalankan tugasnya, dokter rehabilitasi medik bertindak sebagai pengarah utama dalam menentukan jenis terapi yang dibutuhkan pasien.
“Jika pasien membutuhkan fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara, atau lainnya, semuanya harus berdasarkan evaluasi dokter terlebih dahulu,” kata dr. Kevin.
Selain memberikan obat antinyeri, dokter rehabilitasi juga memberikan “resep terapi” berupa:
– penggunaan alat terapi,
– latihan penguatan otot,
– latihan peregangan (stretching),
– serta program latihan mandiri di rumah.
Evaluasi dilakukan secara berkala. “Rata-rata sebulan sekali, tetapi untuk kasus tertentu bisa dua minggu sekali jika progresnya cepat,” tambahnya.
Pada kasus HNP atau saraf terjepit, dokter rehabilitasi medik akan bekerja sama dengan dokter spesialis saraf.
“Pertama kita harus tahu seberapa berat HNP-nya. Biasanya dokter saraf membaca hasil MRI dan menentukan lokasi masalahnya. Setelah itu kami menyusun program rehatnya,” kata dr. Kevin.
Jika diperlukan operasi, maka pasien akan ditangani oleh dokter bedah saraf lebih dahulu sebelum masuk ke tahap rehabilitasi.
Menguatkan Otot Inti Adalah Kunci
Pada kasus saraf terjepit, fokus terapi adalah mengurangi beban pada tulang belakang. Cara termudah adalah dengan menguatkan otot inti (core).
“Core itu bukan hanya otot perut. Core adalah otot yang mengelilingi pinggang, dari punggung hingga depan,” jelasnya.
Otot inti yang kuat akan membantu menopang beban tubuh sehingga tekanan pada tulang belakang berkurang.
Perubahan struktur otot membutuhkan waktu. Karena itu proses terapi tidak bisa cepat.
“Minimal satu sampai tiga bulan. Kurang dari itu biasanya belum optimal,” ujarnya.
dr. Kevin berharap masyarakat semakin memahami kapan saatnya harus datang ke dokter rehabilitasi.
“Lebih mudah menangani pasien saraf terjepit yang masih bisa berjalan dibandingkan yang sudah kesulitan berjalan. Waktu terapinya juga jauh berbeda,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya tidak menunda pengobatan. “Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang pemulihan,” ujarnya. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : GUSTIA BENNY