Buka konten ini
AMERIKA (BP) – Federal Reserve (The Fed) kembali memangkas suku bunga acuannya pada Rabu (10/12) waktu setempat atau Kamis (11/12) WIB. Fed Funds Rate (FFR) diturunkan 0,25 persen ke kisaran 3,5–3,75 persen, level terendah sejak September 2022.
Namun bank sentral AS memberi sinyal akan berhati-hati sebelum melakukan pemangkasan lanjutan, terutama karena inflasi masih bertahan di level tinggi dan kondisi pasar tenaga kerja belum sepenuhnya jelas.
Menurut laporan Reuters, proyeksi setelah pertemuan FOMC (Federal Open Market Committee) dua hari menunjukkan sebagian besar pejabat The Fed hanya memperkirakan satu kali penurunan 0,25 persen pada 2026—tidak berbeda dari proyeksi September.
Mereka memprediksi inflasi bergerak turun ke 2,4 persen, pertumbuhan ekonomi meningkat menjadi 2,3 persen, dan tingkat pengangguran tetap stabil di 4,4 persen.
“Dalam menentukan besaran dan waktu penyesuaian berikutnya, Komite akan terus mencermati perkembangan data,” demikian pernyataan FOMC. Kalimat tersebut umum digunakan sebagai penanda masa jeda kebijakan. Proyeksi itu kontras dengan ekspektasi pasar yang mengantisipasi dua kali pemangkasan suku bunga tahun depan.
Ketua The Fed, Jerome Powell, menekankan bahwa kebijakan moneter kini berada pada kisaran netral setelah rangkaian penurunan total 0,75 persen sejak September 2024. “Kami kini berada pada posisi untuk menunggu dan melihat arah pergerakan ekonomi. Kebijakan tidak berada pada jalur yang sudah ditentukan,” ujarnya.
Analis dari B. Riley Wealth, Art Hogan, menilai keputusan tersebut cenderung agresif. Sebanyak enam anggota FOMC disebut sebenarnya ingin mempertahankan suku bunga pada pertemuan kali ini. Pemangkasan yang diputuskan menghasilkan tiga dissenting votes: Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee dan Presiden Fed Kansas City Jeffrey Schmid memilih mempertahankan suku bunga, sementara Gubernur Fed Stephen Miran mendorong pemangkasan lebih dalam, yakni 0,5 persen. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO