Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Empat awak kapal KM Pelangi 15 akhirnya ditemukan selamat setelah sempat hilang selama empat hari. Mereka ditemukan di sekitar Pulau Pengikik, Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Kamis (11/12).
Keempat korban yang berhasil ditemukan adalah Syaiful Anwar, 54, Juraimi, 46, Abidin, 43, dan Sarip, 38. Mereka merupakan ABK yang berangkat dari Tarempa, Kepulauan Anambas, menuju Pemangkat, Kalimantan Barat. Kapal KM Pelangi 15 sebelumnya dilaporkan hilang sejak Minggu (7/12) malam.
Kapal tersebut diketahui mengangkut ikan segar untuk dijual di Pemangkat. Namun, dalam perjalanan, kapal diduga mengalami masalah akibat kondisi cuaca laut yang buruk.
Upaya pencarian dilakukan oleh tim gabungan dan nelayan setempat. Titik terang muncul ketika nelayan Tambelan melihat seorang pria mengapung di laut pada Rabu (10/12) sekitar pukul 18.30 WIB. Nelayan tersebut mengevakuasi pria itu, yang ternyata adalah Juraimi, salah satu ABK KM Pelangi 15.
Dalam kondisi lemah, Juraimi memberi tahu bahwa masih ada tiga rekannya yang terpisah di laut. Mendapat informasi itu, nelayan dan tim langsung menyisir area sekitar untuk mencari korban lainnya. Pencarian membuahkan hasil sekitar satu jam kemudian.
“Alhamdulillah, berselang satu jam, dua korban ketemu atas nama Sarip dan Abidin,” ujar Camat Tambelan, Asmawi, kepada Batam Pos, Kamis (11/12).
Tiga korban yang sudah ditemukan kemudian diarahkan untuk mendapatkan perawatan medis, namun mereka menolak karena tetap ingin ikut mencari nakhoda kapal, Syaiful Anwar. Pencarian pun dilanjutkan oleh nelayan Tambelan dan tim dari Siantan Timur.
Pencarian berlanjut hingga dini hari. Sekitar pukul 02.00 WIB, Kamis (11/12), Syaiful akhirnya ditemukan mengapung di atas sebuah fiber ikan yang terbawa arus laut. Kondisinya lemah, namun masih sadar.
“Saya sudah suruh petugas medis untuk standby di pelabuhan guna memeriksa kesehatan korban. Tapi mereka memutuskan untuk langsung pulang ke Tarempa,” kata Asmawi.
Asmawi menduga kapal KM Pelangi 15 tenggelam akibat dihempas gelombang tinggi. “Sepertinya tenggelam, infonya seperti itu,” ujarnya singkat.
Di tempat terpisah, Jalis, istri Juraimi, mengaku sangat bersyukur suaminya selamat dari musibah tersebut. Ia mengatakan terus berdoa agar suaminya dan rekan-rekannya kuat menghadapi kondisi laut yang ekstrem.
Menurut Jalis, para ABK mengikat beberapa fiber ikan agar tetap mengapung bersama. Namun, angin kencang membuat ikatan tersebut terlepas sehingga mereka terpisah di laut.
“Fiber ikan diikat, berempat. Mungkin karena angin kuat, ikatannya terlepas,” katanya.
Saat ditemukan nelayan, Juraimi justru menolak untuk langsung diantar ke darat. Ia memilih tetap ikut menyisir laut demi mencari dua rekannya yang masih belum ditemukan.
“Jarak dia dengan dua rekannya itu sekitar satu jam sudah jauh berpisah,” jelas Jalis.
Bahkan saat tim medis meminta para korban untuk segera diperiksa, Juraimi tetap bersikeras melanjutkan pencarian terhadap nakhoda Syaiful Anwar.
“Karena satu perjuangan mencari rezeki, suami saya tetap ngotot ikut mencari kawannya itu. Alhamdulillah semuanya selamat,” kata Jalis. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GUSTIA BENNY