Buka konten ini
SEKUPANG (BP) – Upaya menekan penyebaran HIV/AIDS di Kota Batam kini dilakukan lebih agresif. Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam tak lagi hanya mengandalkan layanan kesehatan di fasilitas resmi, tetapi menerapkan strategi jemput bola dengan turun langsung ke lokasi yang sulit dijangkau, termasuk kawasan tempat hiburan malam (THM).
Kepala Dinas Kesehatan Batam, Didi Kusmarjadi, menegaskan pendekatan ini bukan sekadar mengejar target skrining, melainkan mematahkan stigma yang selama ini membuat masyarakat enggan memeriksakan diri.
“Banyak orang malu datang ke puskesmas karena takut dipandang berbeda. Dengan turun ke lapangan bersama komunitas, mereka merasa lebih nyaman,” ujarnya, Selasa (9/12).
Melalui kolaborasi dengan berbagai komunitas pendamping, petugas melakukan pemeriksaan langsung di lokasi yang dekat dengan populasi kunci—seperti pekerja seks, waria, hingga kelompok rentan lain. Menurut Didi, keberanian untuk melakukan tes adalah langkah awal menyelamatkan lebih banyak nyawa.
Hingga Oktober 2025, Dinkes Batam mencatat 573 kasus HIV dari 15.060 orang yang menjalani skrining. Dari jumlah tersebut, 438 adalah laki-laki dan 135 perempuan. Rentang usia 25–49 tahun menjadi kelompok paling terdampak dengan 399 kasus.
Mayoritas kasus ditemukan pada kelompok pekerja dengan jumlah 331 orang, sementara 285 lainnya tidak teridentifikasi jenis pekerjaannya.
Meski angka tersebut lebih rendah dibanding 2024 yang mencapai sekitar 700 kasus, Didi menegaskan penurunan itu bukan berarti ancaman mereda.
“Semakin banyak skrining dilakukan, berarti program berjalan. Kalau angka temuan tinggi, itu justru menunjukkan makin banyak yang berani diperiksa dan bisa segera ditangani,” jelasnya.
Selain pemeriksaan, Dinkes memastikan warga yang dinyatakan positif dapat langsung diarahkan menjalani pengobatan ARV serta mendapat pendampingan psiko-sosial.
“Tujuan utama bukan hanya menemukan kasus, tetapi memastikan mereka tidak sendirian dan memperoleh akses pengobatan sedini mungkin,” tegas Didi. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO