Buka konten ini

SEKILAS, kunjungan rombongan Badan Pengusahaan (BP) Batam ke Ibu Kota Nusantara (IKN) awal pekan lalu tampak sebagai lawatan teknis biasa. Namun, bagi Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, kunjungan tersebut justru membuka ruang diskusi strategis mengenai arah pembangunan Batam menuju kota modern berbasis efisiensi utilitas, budaya baru transportasi, dan tata ruang yang lebih presisi.
“Ada hal-hal yang IKN unggul, ada juga yang Batam lebih siap. Namun yang jelas, potensi kerja sama jangka panjangnya sangat besar,” ujar Mouris saat ditemui Batam Pos, Minggu (7/12).
Salah satu hal yang paling menarik perhatian Mouris selama berada di IKN adalah penerapan Multi Utility Tunnel (MUT), yakni terowongan utilitas terpadu yang menampung berbagai jaringan vital seperti listrik, air bersih, serat optik, hingga pipa cadangan untuk kebutuhan industri masa depan.
Di area Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, MUT menjadi tulang punggung infrastruktur. Terowongan dengan tinggi sekitar dua meter dan lebar hampir empat meter itu memungkinkan petugas masuk langsung ke dalam untuk melakukan perawatan, pemeriksaan, maupun penambahan jaringan tanpa harus membongkar badan jalan.
“Dalam horizon 30 tahun, model ini jauh lebih efisien. Tidak ada lagi bongkar-pasang jalan, lebih aman dari pergeseran tanah, dan sangat cocok untuk industri baru seperti data center yang membutuhkan suplai air dan listrik besar,” kata Mouris.
Ketertarikan terhadap konsep MUT juga datang dari lembaga pendanaan Jepang, Japan International Cooperation Agency (JICA), yang disebut mulai melirik potensi pengembangan terowongan utilitas terpadu di Batam.
Selain infrastruktur fisik, rombongan BP Batam juga mencatat perubahan budaya perkotaan yang dibangun di IKN. Di antaranya, penerapan hunian vertikal bagi aparatur sipil negara (ASN) untuk meningkatkan efisiensi distribusi utilitas, budaya pemilahan sampah sejak dari rumah tangga, hingga sistem pengelolaan sampah modern melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
Sampah organik diolah menjadi kompos, sebagian didaur ulang, sementara residu dimanfaatkan sebagai sumber energi melalui skema waste to energy (WTE). Di sisi lain, transportasi publik ditetapkan sebagai norma kota, dengan pembatasan kendaraan pribadi bagi ASN non-eselon I, serta penataan jalur pedestrian dan sepeda melalui konsep shared street.
“Ini bukan sekadar soal infrastruktur, tetapi membangun kultur kota baru. Dan itu yang justru paling menarik,” ujarnya.
Saat berbicara mengenai masa depan Batam, Mouris mengungkapkan bahwa BP Batam tengah merancang sebuah kota baru di kawasan Teluk Tering. Konsep yang disiapkan, menurutnya, bahkan lebih canggih dibandingkan IKN. Namun, rencana tersebut masih melalui proses internal.
“Kami sudah merancang kota baru di Teluk Tering. Konsepnya bahkan lebih canggih dari IKN. Tapi masih dalam pembahasan internal. Akan dipublikasikan setelah mendapat persetujuan pimpinan,” katanya.
Kota baru yang berada di jantung Batam itu diproyeksikan menjadi model tata kota modern dengan utilitas terintegrasi serta pemanfaatan ruang yang lebih padat dan teratur. Realisasi pembangunan kawasan tersebut sangat bergantung pada keputusan pimpinan BP Batam serta komitmen investor.
Mouris menyebut 2026 akan menjadi tahun krusial bagi infrastruktur Batam. Dua proyek besar direncanakan mulai berjalan, salah satunya pembangunan Bus Rapid Transit (BRT). Kajian kelayakan proyek ini telah rampung sejak 2021 dan telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
Saat ini, BP Batam tengah menjajaki minat investor, termasuk dari Jepang, untuk mendukung pembiayaan proyek tersebut. Skema yang disiapkan tidak bertumpu pada penambahan utang baru, melainkan kerja sama berbasis bagi hasil guna menjaga beban fiskal tetap terkendali. Jika berjalan sesuai rencana, konstruksi awal BRT Batam ditargetkan dimulai pada 2026. (***)
Reporter : ARJUNA
Editor : RATNA IRTATIK