Buka konten ini

PEMAKAIAN bambu sebagai bahan bangunan modern sebenarnya punya peluang besar di Indonesia. Tapi selama ini nasibnya masih “mentok” di rumah tradisional dan kerajinan rumahan. Padahal, tanaman yang tumbuh cepat dan bisa dipanen melimpah itu punya potensi menggantikan kayu yang kian langka.
Potensi itulah yang digarap serius oleh Syamsurizal Munaf. Lewat label Bambulogy, pria yang akrab disapa Rizal itu mendorong bambu naik kelas menjadi material konstruksi modern. Di bawah PT Indonesia Hijau Dwidaya (IHD), ia memproduksi balok-balok bambu press siap pakai—untuk struktur, furnitur, hingga aksesori interior.
“Bukan hal baru. Kita belajar dari yang sudah maju di China,” ujar Rizal saat ditemui di rumah sekaligus kantornya di Pondok Aren, Tangerang Selatan.
Dari sebuah workshop kecil, ia kini membangun pabrik bambu di Sukabumi. Sang putra, Karim Munaf, ikut turun tangan mengelola pabrik sambil kuliah teknologi perkayuan di Kanada. Bambu didapat dari petani sekitar, yang selama ini menganggap bambu sebagai hama. “Sekarang mereka justru punya penghasilan tambahan,” ujarnya. Saat ini, ada 14 petani pemasok rutin.
Lebih Kuat dari Ulin
Balok bambu Bambulogy berukuran 10×10 cm dengan panjang maksimal 2,44 meter. Untuk satu balok, dibutuhkan sekitar 22 batang bambu usia minimal tiga tahun. Serat bambu dipress, diambil dagingnya, kemudian melalui proses carbonizing agar tahan rayap. Setelah direkatkan dan dicetak, jadilah balok bambu padat.
“Balok bambu ini 1,8 kali lebih kuat dari ulin. Jadi bantalan rel kereta pun bisa,” klaim Rizal, insinyur sipil lulusan ITB.
Pabriknya mampu memproduksi 60 meter kubik per 21 hari. Prosesnya menggunakan mesin-mesin berat seperti industri otomotif, bukan mesin pengolahan kayu. “Orang kayu justru kesulitan masuk ke industri ini,” tambahnya.
Struktur Tahan Gempa
Rizal kemudian menguji sendiri kekuatan materialnya. Ia membangun rumah kos dua lantai sebagai proyek perdana. Di versi ketiga, ia naik kelas: Bambulogy Mansion, empat lantai berisi 52 kamar. Semua konstruksi menggunakan balok bambu—dari struktur utama, lantai, tangga, kusen, hingga atap. Sambungan-sambungan dipertegas dengan joint baja khusus.
“Hanya bilang kuat orang nggak percaya. Harus ada bangunannya,” katanya. Dan ternyata banyak yang tertarik. Bangunan empat lantai itu diklaim sebagai rumah bambu tertinggi di Indonesia.
Meski biaya totalnya sedikit lebih mahal dari bangunan beton, Rizal yakin harga akan turun jika diproduksi massal.
Struktur bambu juga lebih ringan. Bobotnya 1.200 kg/m2, jauh di bawah beton dan baja. Hasilnya, pondasi bisa lebih ringan. Rasio strength/weight bambu pun diklaim mengungguli baja. “Karena lebih elastis, bangunan bambu lebih tahan goyangan gempa,” terangnya.
Dibangun Lebih Cepat
Keunggulan lain: kecepatan. Bambulogy Mansion empat lantai itu selesai hanya dalam empat bulan dengan 10 tukang. Semua komponen dipabrikasi dulu, tinggal rakit tanpa alat berat. Materialnya sudah lulus uji Kementerian PUPR.
Rizal optimistis bambu bisa menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin membangun rumah secara swadaya. “Tinggal obeng dan tang. Selesai,” ujarnya. Harga baloknya saat ini Rp14–15 juta per meter kubik.
Tak Hanya Bangunan
Aplikasi bambu Bambulogy makin meluas: pintu, parket, ukiran, lembaran bambu lebar, furnitur, hingga aksesori interior. Bambu sisa olahan pun dimanfaatkan lagi. Bambulogy melayani pesanan satuan maupun proyek.
Ramah Lingkungan dan Bernilai Lokal
Selain ingin mempopulerkan teknologi bambu, Rizal membawa misi budaya: mengembalikan pamor bambu sebagai kearifan lokal yang ramah lingkungan, alami, dan mampu menyerap CO2.
Bambulogy kini menawarkan paket design & build untuk rumah, vila, hingga hotel dengan garansi lima tahun. “Secara hitungan, bambu bisa bertahan sampai 30 tahun,” katanya.
Ia juga tengah menyiapkan pelatihan from design to manufacture untuk generasi milenial. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO