Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – Pemko Batam menetapkan status waspada menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Meski sebagian besar komoditas pangan tercatat stabil, dua komoditas strategis, cabai dan telur, masih berada dalam kondisi rawan dan membutuhkan perhatian khusus.
Indikasi ini mengemuka dalam rapat koordinasi Forkopimda yang dipimpin Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, di Aula Engku Hamidah, Kantor Wali Kota Batam, Rabu (3/12). Rapat tersebut menyoroti penguatan pengawasan terhadap 34 komoditas untuk mencegah lonjakan harga selama libur panjang.
Amsakar menegaskan kondisi pangan Batam secara umum aman. Namun, ia mengakui pasokan cabai dan telur masih menunjukkan gejala ketidakstabilan. “Secara keseluruhan terkendali, tetapi untuk dua komoditas ini kita perlu langkah ekstra,” ujarnya.
Kenaikan harga cabai terbilang paling signifikan. Pasokan dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tersendat akibat bencana, sehingga suplai ke Batam berkurang. Cabai merah keriting naik dari Rp70 ribu menjadi Rp75 ribu per kilogram hanya dalam tiga hari.
Lonjakan lebih tajam terjadi pada cabai rawit merah yang melejit dari Rp45 ribu menjadi Rp100 ribu per kilogram.
Cabai rawit hijau turut naik dari Rp33 ribu menjadi Rp70 ribu per kilogram, sedangkan cabai hijau besar naik dari Rp36 ribu menjadi Rp50 ribu per kilogram.
Situasi ini disebut Amsakar sebagai “alarm komoditas”, mengingat cabai kerap menjadi penyumbang inflasi tertinggi di penghujung tahun. Pemko, kata dia, tidak menunggu harga melambung lebih tinggi sebelum mengambil langkah intervensi.
Sebagai antisipasi, Pemko Batam menambah suplai dari Lombok dan mengandalkan panen petani lokal yang dijadwalkan berlangsung Desember ini. Dua sumber pasokan tersebut diharapkan mampu meredam kenaikan harga sekaligus memperlancar distribusi.
Selain cabai, telur juga masuk kategori komoditas yang membutuhkan pengawasan ketat. Permintaan dari rumah tangga hingga industri rumahan meningkat menjelang Natal dan Tahun Baru, sehingga berpotensi menekan persediaan di lapangan.
Sementara itu, pasokan beras dipastikan aman. Perum Bulog melaporkan stok 2.935 ton per 28 November, jumlah yang dinilai cukup untuk meredam potensi gejolak harga. Ketersediaan ini menjadi penopang utama stabilitas pangan Batam.
Meski demikian, Pemko sudah menyiapkan instrumen intervensi harga untuk mengantisipasi risiko lonjakan. Pasar Murah Bersubsidi dijadwalkan berlangsung pada 8–17 Desember di 45 lokasi, mencakup 52 kelurahan di 12 kecamatan.
Sebanyak 52.500 paket sembako akan disalurkan kepada masyarakat. Setiap paket berisi beras premium 10 kilogram, gula 1 kilogram, dan minyak goreng 2 liter. Harga ditekan dari Rp200 ribu menjadi Rp100 ribu melalui subsidi pemerintah.
Selain itu, Operasi Pasar akan digelar pada 23–24 Desember dengan melibatkan 60 distributor. Kegiatan dipusatkan di empat kecamatan dengan mobilitas penduduk tertinggi agar penyerapannya berlangsung cepat dan merata.
Amsakar meminta seluruh perangkat daerah, mulai dari OPD teknis hingga jajaran pengawas harga di lapangan, meningkatkan koordinasi.
“Kewaspadaan harus kolektif. Kita tidak ingin spekulan memanfaatkan momentum,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat tidak melakukan panic buying, karena Pemko telah memetakan kebutuhan komoditas selama Nataru dan memastikan suplai tetap terkendali. Ketenangan publik, kata dia, menjadi salah satu kunci menjaga stabilitas harga. (*)
Reporter : ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO