Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – Pemerintah Kota (Pemko) Batam memperbanyak operasi pasar dan pasar murah sebagai strategi utama menahan tekanan inflasi yang terus berlangsung sepanjang tahun. Langkah intervensi harga ini digencarkan di berbagai kecamatan demi menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok serta melindungi daya beli masyarakat menjelang akhir tahun.
Sekda Kota Batam, Firmansyah, menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak tinggal diam menghadapi dinamika harga komoditas yang sensitif. Menurutnya, operasi pasar menjadi instrumen penting dalam pengendalian inflasi di tingkat daerah.
“Disperindag rutin melaksanakan operasi pasar. Selain itu, Bagian Perekonomian Setdako Batam juga menggelar pasar murah menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru),” ujarnya, Senin (24/11).
Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Batam secara bulanan mencapai 0,43 persen, inflasi tahunan 2,26 persen, dan inflasi tahun kalender 3,19 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,14. Kenaikan ini terjadi di tengah melambungnya harga sejumlah komoditas pangan dan nonpangan.
Inflasi year on year (y-on-y) sebesar 3,19 persen dipengaruhi kenaikan harga pada sepuluh kelompok pengeluaran. Peningkatan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencapai 16,51 persen. Disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 5,35 persen; penyediaan makanan dan minuman/restoran 3,35 persen; serta kelompok pendidikan yang naik 1,26 persen.
Sementara itu, kelompok transportasi justru mencatatkan deflasi 0,99 persen dan menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami penurunan harga sepanjang periode pengamatan.
Sejumlah komoditas penyumbang inflasi y-on-y antara lain emas perhiasan, cabai merah, sewa rumah, sigaret kretek mesin (SKM), minyak goreng, biaya perguruan tinggi, telur ayam ras, daging sapi, dan pisang. Sedangkan komoditas seperti angkutan udara, bawang merah, bawang putih, hingga beberapa jenis ikan menjadi penekan inflasi.
Untuk inflasi month to month (m-to-m), pendorong inflasi berasal dari emas perhiasan,
cabai merah, angkutan udara, udang basah, sewa rumah, dan ikan tongkol/ambu-ambu. Sementara bayam, cabai rawit, kangkung, daging ayam ras, ketimun, dan buncis menjadi komoditas penahan inflasi.
Firmansyah yang juga menjabat Ketua Harian Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memastikan bahwa operasi pasar dan pasar murah akan terus diperluas, terutama pada komoditas pangan yang paling rentan mengalami lonjakan harga.
“Semoga program pemerintah ini mampu menjaga daya beli dan ketahanan ekonomi warga Batam,” tuturnya.
Secara nasional, inflasi Oktober 2025 tercatat 0,28 persen secara bulanan, 2,10 persen secara tahunan, dan 2,84 persen secara tahun kalender. Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, menyebut kenaikan harga emas yang melonjak 52,76 persen menjadi salah satu faktor utama pendorong inflasi nonmakanan. (*)
Reporter : ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO