Buka konten ini

2. Wisatawan mancanegara mengamati drone yang diterbangkan di area persawahan Desa Jatiluwih.
3. Pilot drone mengendalikan pesawatnya dengan remot saat pemupukan.
4. Drone menyemprotkan pupuk ke tanaman padi beras merah.
SUDAH hal biasa ketika petani ke sawah membawa cangkul, bajak, sabit dan sambil mengembala ternak. Namun kali ini pemandangan sedikit berbeda ketika tiga petani muda pergi ke sawah dengan membawa drone. Bahkan mereka tampak menggunakan mobil pikap untuk mengangkutnya karena ukurannya cukup besar.
Ketiga petani muda yang bertugas sebagai pilot drone itu dibentuk oleh Manajemen Operasional Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih untuk melayani 547 orang petani pemilik lahan dalam melakukan pemupukan padi. Petani pemilik lahan tersebut tergabung dalam tujuh kelompok Subak yakni Subak Telabah Gede, Besikalung, Kedamian, Gunungsari, Umakayu, Kesambi dan Umadatu.
Pagi itu mereka tampak bergegas dengan membawa sebuah drone DJI Agras T40 yang memiliki tangki berkapasitas menampung 40 liter cairan pupuk. I Gede Rizky Saputra seorang dari tiga petani muda yang bertugas sebagai pilot drone itu mengatakan timnya bertugas untuk menlakukan pemupukan di areal persawahan Desa Jatiluwih, Penebel, Tabanan, Bali.
Sebagai petani muda di desanya, dia berkomitmen untuk melestarikan sawah dan budaya pertanian Bali dengan memanfaatkan teknologi modern dalam pengelolaannya.
Setibanya di hamparan sawah seluas 227,41 hektare tersebut, ketiganya mulai memantau situasi, cuaca dan jalur yang akan dilintasi drone agar cairan pupuk tepat jatuh di tanaman padi yang sudah menjadi target penyemprotan.
Bahkan sehari sebelumnya mereka sudah melakukan pemetaan dan membuat jalur drone karena sawah di Jatiluwih berbentuk terasering sehingga dari awal mesti diketahui situasinya termasuk banyaknya pupuk yang digunakan.
Petani lainnya tampak membantu mempersiapkan pupuk organik cair dan air dan ada juga bertugas menyingkirkan bambu atau kayu yang dipasang sebelumnya untuk tambatan tali pengusir burung supaya tidak mengganggu proses penyemprotan.
Menurut pilot drone lainnya I Made Prasetiya Candra Andika penyemprotan pupuk dengan metode manual untuk satu hektare lahan memerlukan waktu sekitar 4-5 jam, sedangkan jika menggunakan drone hanya memerlukan sekitar 15-20 menit untuk satu hektare.
Perbedaan antara penyemprotan manual dan drone terletak pada viskositas atau kekentalan cairan. Sprinkler centrifugal pada drone menghasilkan semprotan cairan merata dan efisien dalam penyebaran cairan pupuk organik. Butiran semprotannya lebih halus dan tersebar luas dibanding dengan sistem penyemprotan konvensional. (Nyoman Hendra Wibowo)
Reporter : ANTARA
Editor : AGNES DhAMAYANTI