Buka konten ini

PECAHAN kaca ditemukan dalam makanan bergizi gratis (MBG) di SMA 04 Tiban, Kota Batam, Selasa (23/9). Peristiwa ini sempat mencuat di media sosial dan menimbulkan keresahan publik serta orang tua siswa.
Ketua Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batam, Jefri Renaldi, membenarkan kejadian tersebut. “Benar, ada insiden itu. Untuk konfirmasi lebih lanjut, bisa langsung ke kepala dan pengelola dapur SPPG Tiban,” ujarnya kepada Batam Pos, Kamis (25/9).
SPPG Tiban melayani empat sekolah, yakni SDN 02 Tiban, SD 011 Tiban, Sekolah Telkom, dan SMA 04 Tiban. Setiap hari, 47 karyawan dapur menyiapkan sekitar 3.500 porsi makanan bergizi gratis untuk dibagikan kepada siswa.
Ketua SPPG Tiban, Rafael, menjelaskan bahwa pecahan kaca itu berasal dari insiden di dapur saat persiapan memasak. Menurutnya, pada Selasa dini hari sekitar pukul 01.15, salah satu koki tidak sengaja memecahkan tutup teflon kaca ketika sedang merakit peralatan.
“Tutup teflon itu pecah karena bautnya terlalu kencang. Saudara Agung sampai terluka di tangannya, ada empat titik luka. Pecahan kaca sempat berhamburan,” kata Rafael.
Rifaldi, rekan Agung yang juga bertugas di dapur, mengaku terkejut saat melihat video beredar di media sosial yang memperlihatkan serpihan kaca berada di dalam nasi.
“Padahal waktu itu belum ada yang mulai memasak nasi. Kami masih persiapan, beras pun belum dikeluarkan dari ruang penyimpanan,” ujarnya.
Agung sendiri menegaskan kejadian itu murni kecelakaan. “Jarak pecahan kaca dengan tempat beras sekitar tiga sampai lima meter. Saya sudah membersihkan darah dan pecahan kaca dengan air dan busa. Kami sama sekali tidak berniat lalai atau main-main. Kejadian itu tidak disengaja,” katanya.
Menanggapi kejadian tersebut, Rafael menyampaikan permintaan maaf kepada pihak sekolah dan siswa.
“Saya selaku Ketua SPPG Tiban Indah Permai meminta maaf sebesar-besarnya atas insiden ini. Kami tegaskan, ini murni kecelakaan dan tidak ada unsur kesengajaan. Ke depan, kami akan lebih teliti serta memperketat standar kebersihan dan keamanan dapur agar kejadian serupa tidak terulang lagi,” kata dia.
Siswi SMP di Nongsa Dilarikan ke Puskesmas
Sementara itu, Rabu (24/9) lalu, seorang siswi SMP Negeri 8 Batam dilarikan orang tuanya ke Puskesmas Kampung Jabi karena muntah dan pusing. Namun hasil pemeriksaan menegaskan keluhannya bukan disebabkan makanan MBG.
Menurut informasi, siswi tersebut sempat mengalami pusing dan muntah-muntah, yang oleh orang tuanya diduga akibat keracunan. Kemudian anak tersebut dibawa ke Puskesmas Kampung Jabi. Di sana, ia langsung ditangani oleh dokter yang bertugas, dr. Erni Julita Indah.
“Pasien datang sekitar pukul 11.00 WIB bersama ibunya. Keluhan yang disampaikan sakit kepala dan sempat muntah malam sebelumnya,” kata Erni kepada Batam Pos, Kamis (25/9).
Menurutnya, kondisi siswi saat tiba di puskesmas sudah stabil. Ia tidak lagi muntah dan mampu berkomunikasi dengan baik. Pemeriksaan fisik juga menunjukkan hasil dalam batas normal.
“Jadi kondisinya tidak gawat darurat. Menurut orang tuanya, itu karena keracunan. Sebab makanan terakhir yang dimakan adalah MBG di sekolah,” jelasnya.
Meski orang tua menduga anaknya keracunan makanan dari program MBG, Erni menilai gejala yang dialami tidak mengarah ke keracunan.
“Kalau keracunan, biasanya cepat reaksinya. Ini justru baru dirasakan 12 jam setelah makan, jadi tidak cocok kalau disebut keracunan makanan massal,” ujarnya.
Erni lalu merujuk siswi itu ke konseling sanitasi untuk menelusuri faktor pemicu lainnya. Dari pemeriksaan sanitarian, ditemukan kemungkinan keluhan muncul karena anak tersebut memakan cabai, padahal sebelumnya tidak terbiasa mengonsumsi makanan pedas.
Selain faktor cabai, pola makan yang tidak teratur juga bisa menjadi penyebab. Diketahui, siswi itu tidak makan malam setelah pulang sekolah. “Lambung kosong bisa menimbulkan keluhan. Jadi ini lebih ke kondisi individu, bukan keracunan bersama-sama,” terang Erni.
Pihak sekolah juga membantah adanya kejadian keracunan. Kepala SMP Negeri 8 Batam, Rosmiati, memastikan tidak ada siswa lain yang mengeluhkan sakit pada hari yang sama.
“Sejak pagi sampai sore, semua siswa sehat. Tidak ada laporan keracunan. Menu yang disajikan juga terjaga kualitasnya,” katanya.
Rosmiati menyebut, menu makan siang di sekolah pada hari itu adalah ayam susu dan buah. “Dari 800 siswa, tidak ada yang sakit selain satu anak itu. Jadi jelas bukan keracunan massal,” tegasnya.
Klarifikasi juga datang dari pihak penyedia makanan bergizi (MBG), Yayasan Sinergi Inklusi Akses Pangan. Kepala Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) Summerland, Cyntia Yunica Putri, menegaskan distribusi makanan selalu melalui standar operasional prosedur (SOP) ketat.
“Mulai dari persiapan bahan, proses memasak, hingga distribusi ke sekolah, semua dijaga higienitasnya. Makanan dipastikan masak sempurna, ruangan steril, dan distribusi maksimal empat jam setelah selesai dimasak,” jelasnya.
Menurut Cyntia, menu yang disalurkan ke SMP Negeri 8 sehari sebelum kejadian terdiri dari telur gulai, tempe, sayur toge, kacang, dan ikan teri. “Tidak ada sambal dalam menu tersebut. Jadi sangat kecil kemungkinan sakitnya anak itu disebabkan makanan MBG,” tambahnya.
Ia juga menegaskan, bila benar keracunan, seharusnya terjadi secara massal.
“Makanan didistribusikan untuk ratusan siswa. Kalau ada masalah pada makanan, tentu lebih dari satu anak yang sakit. Tapi ini hanya satu kasus,” kata Cyntia.
Pihaknya sempat mendapat laporan dari orang tua bahwa anak mengaku makan MBG. Namun setelah diverifikasi ke sekolah, ternyata siswi itu tidak makan menu MBG pada hari kejadian. “Artinya klaim keracunan dari MBG tidak terbukti,” tegasnya.
Cyntia mengakui pihaknya baru saja menambahkan sambal sebagai pelengkap menu setelah adanya permintaan dari siswa. Namun, sambal itu baru mulai dibagikan sehari sebelumnya.
Surat Perjanjian Beredar
Di tepat terpisah, surat perjanjian kerja sama antara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan penerima manfaat program makan bergizi gratis (MBG) di Kecamatan Seri Kuala Lobam, Bintan, beredar di media sosial. Perjanjian itu memuat tujuh poin kesepakatan, termasuk kewajiban penerima manfaat untuk mengganti atau membayar kerusakan atau kehilangan tempat makan seharga Rp80 ribu per tempat makan.
Dalam perjanjian tersebut juga ada kewajiban penerima manfaat untuk menjaga kerahasiaan informasi jika terjadi kejadian luar biasa (KLB), seperti keracunan atau ketidaklengkapan paket makanan, hingga pihak SPPG menemukan solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kedua belah pihak juga sepakat untuk saling berkomunikasi dan bekerja sama demi kelangsungan program ini.
Kepala SDN 006 Seri Kuala Lobam, Humam Mukti, membenarkan adanya surat perjanjian kerja sama antara SPPG dan penerima manfaat di Kecamatan Seri Kuala Lobam.
”Memang benar, MoU yang kami tandatangani dengan SPPG. Jika terjadi kejadian, kami diminta menghubungi SPPG terlebih dahulu,” ujar Humam sambil menunjukkan surat tersebut ketika ditemui, Kamis (25/9).
Sebagai kepala sekolah, ia merasa bingung karena tidak ada sosialisasi lebih lanjut terkait penanganan kejadian luar biasa seperti keracunan dan lainnya. ”Apakah SPPG itu orang kesehatan? Nanti telepon-telepon, menunggu lama, sementara anak-anak sudah kejang-kejang, misalnya. Bagaimana penanganan selanjutnya?” katanya.
Ia menyatakan siap mematuhi aturan untuk merahasiakan informasi dan menghubungi SPPG jika terjadi kejadian. ”Tapi jika orangtua mengetahui dan menyebarkan informasi, saya tidak bisa menghalangi,” katanya.
Sementara untuk mengantisipasi tempat makan rusak atau hilang, ia telah mengimbau siswanya untuk berhati-hati menggunakan tempat makan. Ia merasa bingung terkait petunjuk teknis apabila ada tempat makan MBG yang rusak atau hilang.
”Jika kami menggunakan anggaran sekolah untuk mengganti tempat makan yang rusak atau hilang, itu salah. Secara pribadi, kami juga tidak bisa menanggung biaya penggantinya,” katanya.
Ia juga mengatakan, pihak sekolah terpaksa membuat surat lanjutan kepada orang tua bahwa kerusakan atau kehilangan tempat makan wajib diganti atau dibayar seharga Rp80 ribu per tempat makan.
Lakukan Evaluasi
Sementara itu, pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus melaksanakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan lebih baik, pasca-kasus keracunan massal yang menimpa sejumlah penerima manfaat.
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sekaligus Menko Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, menyatakan peristiwa tersebut dijadikan pelajaran penting.
“Yang kena keracunan, yang sistemnya lamban, semua hal itu harus dijadikan pembenahan. Tentu saya minta kepada Badan Gizi Nasional (BGN) untuk benar-benar menuntaskan masalah-masalah yang nyata-nyata ada. Nanti kita tunggu hasilnya,” ujar Muhaimin di Jakarta, Kamis (25/9).
Ia menegaskan tidak ada rencana penghentian program. “Tidak ada, tidak ada rencana penyetopan. Saya belum mendengar,” tegasnya.
PKB, melalui Fraksinya di DPR, akan mengawal penuh agar pelaksanaan MBG berjalan aman dan tepat sasaran.
“Intinya kami mendukung perbaikan cepat atas semua masalah yang ada,” kata Muhaimin.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S. Deyang, mengakui saat ini regulasi teknis MBG masih menunggu penandatanganan Peraturan Presiden.
“Tinggal menunggu tanda tangan Presiden. Insya Allah akan ditandatangani,” jelasnya.
Dengan payung hukum yang lebih jelas, diharapkan tata kelola MBG akan semakin kuat dan transparan. (***)
Reporter : M Syaban – Yashinta – Slamet Nofasusanto – JP Group
Editor : RYAN AGUNG