Minggu, 5 April 2026

Silakan berlangganan untuk bisa membaca keseluruhan berita di Harian Batam Pos.

Baca Juga

Kasus Sifilis di Kalangan Remaja Melonjak

Disebabkan Perilaku Seksual Berisiko hingga Rendahnya Edukasi Kesehatan Reproduksi

Didi Kusmarjadi . f. dokumentasi batam pos

SEKUPANG (BP) – Meningkatnya kasus infeksi menular seksual (IMS), khususnya sifilis, di kalangan remaja di Kota Batam menjadi sorotan serius berbagai pihak. Hingga Mei 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat 44 kasus sifilis, lima di antaranya dialami remaja berusia 15 hingga 19 tahun.

“Lima dari 44 kasus itu terdiri dari satu laki-laki dan empat perempuan,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, Minggu (29/6).

Jumlah tersebut menunjukkan tren yang patut diwaspadai. Sepanjang 2024 lalu, total kasus sifilis di Batam tercatat sebanyak 71 kasus, dengan sembilan kasus di antaranya menyerang kelompok remaja. Kini, dalam waktu kurang dari setengah tahun, jumlah kasus di kelompok usia yang sama hampir menyamai angka tahun sebelumnya.

“Jika dilihat dari kecenderungannya, tahun ini kemungkinan akan mengalami peningkatan,” ucap Didi.
Menurut Didi, melonjaknya kasus sifilis di kalangan remaja disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari rendahnya edukasi tentang kesehatan reproduksi, perilaku seksual berisiko, hingga akses layanan kesehatan yang belum sepenuhnya ramah bagi anak muda.

“Minimnya pengetahuan tentang seksualitas, komunikasi keluarga yang tertutup, dan layanan kesehatan yang belum akomodatif berkontribusi besar pada tingginya angka ini,” jelasnya.

Sebagai respons, Dinkes Batam telah menerapkan sejumlah strategi pencegahan, antara lain penyuluhan kesehatan reproduksi dan keterampilan hidup (life skills) di sekolah, pelatihan komunikasi efektif bagi orang tua, serta layanan konseling, skrining IMS, vaksinasi, dan jaminan kerahasiaan pasien di puskesmas.
Namun, Didi menekankan bahwa intervensi pemerintah daerah saja tidak cukup. Ia mengajak keluarga dan institusi pendidikan untuk lebih aktif dalam memberikan pemahaman dan perlindungan kepada remaja.

“Peran keluarga dan sekolah sangat menentukan. Edukasi harus dimulai dari rumah. Sayangnya, itu belum menjadi budaya umum di banyak keluarga kita,” ujarnya.
Senada dengan Didi, Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, menilai bahwa persoalan sifilis di kalangan remaja bukan hanya persoalan medis, melainkan cerminan lemahnya sistem perlindungan sosial terhadap generasi muda.

“Peningkatan kasus sifilis ini bukan semata persoalan kesehatan, tapi juga soal lemahnya sistem perlindungan terhadap remaja di lingkungan keluarga, masyarakat, dan negara,” ujar Netty, Minggu (22/6).

Ia mendesak negara agar hadir lebih kuat melalui pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif dan mudah dipahami oleh anak muda. Ia juga mendorong agar deteksi dini sifilis tersedia secara gratis dan rahasia di Puskesmas, agar remaja tak takut memeriksakan diri.

“Remaja harus merasa aman untuk bertanya dan mencari pertolongan. Kita juga perlu membangun ketahanan keluarga agar anak memiliki nilai dan pegangan moral yang kuat sejak dini,” tegasnya.
Secara nasional, Kementerian Kesehatan RI mencatat lebih dari 4.500 kasus IMS terjadi pada kelompok usia 15–19 tahun sepanjang 2024. Dari angka itu, sekitar 2.191 kasus atau hampir 48 persen merupakan sifilis.

Data ini menjadi alarm bahwa generasi Z berada dalam situasi rentan dan membutuhkan perlindungan dari berbagai lini. Kolaborasi aktif antara pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi mutlak agar remaja tidak terus menjadi kelompok yang paling rentan terhadap penyakit menular seksual. (***)

Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK