Buka konten ini

Dosen dan Sekretaris Departemen Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Kampus hari ini tampak gemerlap. Yang terbaru diberi slogan Kampus Berdampak. Namun, kebangkitan kampus berdampak tidak bisa diwujudkan hanya dengan slogan. Syarat utamanya, kampus harus sehat dan terbebas dari obesitas struktural. Kampus yang terlalu gemuk akan sulit bergerak, apalagi untuk menghasilkan dampak.
Kondisi itu bisa kita lihat dari banyaknya kampus yang struktur organisasinya membesar tidak proporsional. Jumlah pejabat bertambah, birokrasi memanjang, pelaporan menumpuk, dan energi dosen serta mahasiswa habis untuk urusan administratif. Sementara itu, karya ilmiah, inovasi sosial, dan dampak nyata ke masyarakat justru minim. Padahal, kampus telah lama diposisikan sebagai pilar peradaban dan tulang punggung kebangkitan bangsa.
Dalam konteks ini, analogi menteri kesehatan tentang celana jins ukuran 33 menjadi pengingat yang relevan. Jika tubuh kampus sudah terlalu besar karena beban birokrasi, lalu dipaksakan tampil ramping dan modern, yang terjadi bukan dampak positif, melainkan dampak negatif yang menyakitkan.
Celana yang terlalu sempit pada tubuh yang membesar akan membatasi gerak. Begitu pula kampus yang strukturnya diperbesar, tetapi ruang berpikir dan berkaryanya justru dipersempit. Apalagi, menjadi kampus berdampak ibarat mengikuti lari maraton. Menempuh perjalanan jarak jauh guna memberikan kebermanfaatan yang lebih luas.
Momentum
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional menjadi momentum untuk menyadarkan kita bahwa perubahan besar datang dari nyala keberanian dan kemauan berubah. Budi Utomo pada 1908 tidak lahir dari institusi gemuk. Ia lahir dari keberanian sekelompok pemuda terdidik dengan visi dan langkah yang tajam. Mereka tidak sibuk pencitraan karena yang mereka kejar adalah peradaban.
Lalu, bagaimana mewujudkan kebangkitan kampus berdampak secara nyata? Setidaknya, ada tiga proses yang harus dijalankan.
Pertama, inovasi yang lahir bukan dari seremoni. Inovasi tumbuh dari sikap kritis dan kreatif yang terbina secara organik dalam diri dosen dan mahasiswa. Kampus harus menyediakan ruang diskusi yang bebas dan produktif. Proyek kolaboratif lintas disiplin perlu didorong, komunitas riset perlu difasilitasi, dan mahasiswa diberi kepercayaan untuk mencoba, gagal, dan bangkit kembali. Inovasi selalu membutuhkan atmosfer yang mendukung keberanian berpikir dan bertindak.
Ibarat maraton, inovasi menuntut stamina jangka panjang. Jika tubuh kampus terlalu gemuk, larinya jadi lambat dan tersendat. Struktur yang terlalu birokratis akan membuat ide bagus gagal sebelum sempat diuji. Karena itu, dibutuhkan sistem yang ramping dan adaptif. Napas akademik harus teratur. Tidak terengah karena beban administratif. Inovasi membutuhkan ruang untuk bernapas, bukan tekanan untuk tampil di media.
Kedua, kuantifikasi kampus berdampak tidak cukup dinilai dari banyaknya MoU, jumlah mitra, atau bangunan baru. Yang lebih penting adalah berapa nilai royalti dari produk terkomersialisasi dan berapa besar investasi untuk program inkubasi dan akselerasi. Itu adalah ukuran dampak yang sebenarnya, bukan sekadar pencapaian administratif. Jika inovasi adalah lari maraton, kuantifikasi adalah catatan waktu, jarak, dan pace. Ia menunjukkan apakah kampus sedang bergerak maju atau hanya berputar di tempat.
Banyak kampus yang hari ini justru mengalami obesitas data. Laporan menumpuk, angka-angka dicantumkan untuk kepentingan formal, tetapi tidak mencerminkan transformasi nyata. Seperti pelari yang hanya sibuk tampil di depan kamera tanpa memperhatikan ritme larinya. Kuantifikasi yang sehat tentang seberapa berarti capaian itu untuk pertumbuhan ekonomi dan perubahan sosial di masyarakat.
Orkestrasi
Ketiga, harus ada yang melakukan orkestrasi. Kampus adalah ruang bersama untuk berlari maraton inovasi secara kolektif. Semua elemen –dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, mitra industri, pemerintah, dan masyarakat– harus dikoordinasi untuk bergerak dalam ritme yang sama.
Karena itu, kampus membutuhkan pemimpin yang berada di track lomba, bukan hanya di garis start dan finis. Pemimpin yang menjaga stamina tim dan mengatur porsi, memastikan tak ada yang berlatih melebihi batas atau kekurangan beban.
Jika tubuh kampus terlalu gemuk, tak boleh dipaksa lari cepat karena justru bisa cedera. Namun, apabila kampus terlalu ringan karena kekurangan tantangan, porsinya perlu dinaikkan agar tetap berkembang.
Kampus berdampak adalah hasil dari proses inovasi yang sadar kapasitas, disiplin dalam kuantifikasi ritme, dan terarah menuju garis tujuan bersama. Semua itu hanya mungkin terwujud jika ada orkestrasi pimpinan kampus. Kebangkitan kampus berdampak bukan sesuatu yang bisa diperoleh dengan slogan atau disulap lewat media. Kampus berdampak bukan yang paling viral, tetapi yang paling mampu menjadi pelita dalam perjalanan panjang menuju masa depan bangsanya. (*)