Buka konten ini
SEKUPANG (BP) – Pemerintah Kota (Pemko) Batam terus mendorong pemanfaatan Kelompok Wanita Tani (KWT) untuk meningkatkan produksi pangan lokal, terutama komoditas hortikultura seperti cabai dan aneka sayuran. Langkah ini menjadi strategi untuk menekan inflasi yang kerap dipicu oleh lonjakan harga kebutuhan pokok, seperti cabai, sayur, dan bawang.
Saat ini, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam membina sedikitnya 80 KWT dengan total anggota mencapai 2.400 orang. Setiap anggota dibekali keterampilan bercocok tanam, mulai dari pembibitan, pengendalian hama, hingga panen. Bantuan juga diberikan dalam bentuk bibit, polibek, pupuk, obat-obatan, dan tanah hitam.
“Kalau satu anggota KWT menanam 20 polibek, maka totalnya setara dengan kontribusi sekitar 4 hektare lahan. Ini sangat membantu menambah pasokan cabai lokal,” ujar Kepala DKPP Batam, Mardanis, Selasa (20/5).
Targetnya, 80 KWT yang aktif saat ini mampu memproduksi hingga 1 ton cabai merah per hari. Jumlah itu diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Batam terhadap pasokan cabai dari luar daerah. Selain cabai, anggota KWT juga menanam komoditas lain seperti tomat, bayam, kangkung, selada, terong, jahe, dan berbagai jenis sayuran lainnya.
Para ibu rumah tangga yang tergabung dalam KWT tidak hanya mendapatkan pelatihan dasar, tetapi juga pendampingan berkelanjutan dari penyuluh pertanian. “Misalnya, ketika ada anggota melapor melalui grup WhatsApp bahwa tanamannya diserang hama, tim kami langsung turun memberikan penanganan,” jelas Mardanis.
Program ini merupakan bagian dari prioritas Wali Kota Batam, Amsakar Ahmad dan Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis rumah tangga. Selain memanfaatkan pekarangan rumah, lahan fasilitas umum juga dimaksimalkan untuk kegiatan pertanian skala kecil.
“Dalam beberapa tahun ke depan, kami menargetkan jumlah anggota KWT bisa meningkat dua kali lipat. Ini menjadi salah satu cara membangun ketahanan pangan dari tingkat rumah tangga, terutama di tengah keterbatasan lahan akibat pembangunan dan alih fungsi,” tambahnya.
DKPP juga berencana menyalurkan bibit secara serentak kepada seluruh anggota KWT pada awal Juni mendatang. Hasil panen dari kelompok ini nantinya akan dipasarkan melalui kios pangan yang tersebar di setiap kelurahan untuk menjaga stabilitas harga di pasaran.
Untuk diketahui, selama ini Kota Batam memang sangat bergantung dengan pasokan bahan pangan dari luar daerah. Saat pengiriman terganggu atau produksi pertanian di daerah asal terkendala, misalnya karena faktor cuaca, maka suplai akan terganggu dan berimbas pada mahalnya komoditas bahan pangan. Karena itu, Pemko Batam mendorong warganya untuk turut berkontribusi menanam komoditas bahan pangan yang memungkinkan. Misalnya, cabai, tomat, hingga sayuran.
Hal ini sebenarnya disambut baik oleh sejumlah warga. Satu di antaranya, Murni, warga Batuampar. Ia mengaku pernah mencoba menanam sayuran dengan sistem hidroponik, meskipun hasilnya belum optimal.
“Tapi sebagai ibu rumah tangga, saya rasa bagus kalau bisa menghasilkan bumbu dapur dan sayuran dari pekaangan sendiri,” katanya. (***)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK