Minggu, 7 Desember 2025

Silakan berlangganan untuk bisa membaca keseluruhan berita di Harian Batam Pos.

Baca Juga

Surabaya dan Kota Pembelajar

Oleh: IGAK SATRYA WIBAWA
Duta besar/wakil delegasi tetap Indonesia untuk UNESCO; dosen FISIP dan Sekolah Pascasarjana Unair

Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei selalu menjadi momen penting untuk merenungkan arah pendidikan kita. Pada 2025 ini, peringatan tersebut terasa makin relevan ketika riuhnya diskursus mengenai kurikulum pendidikan, nasib para guru, serta polemik ujian nasional berkecamuk di hampir semua level masyarakat. Di sisi lain, tidak banyak yang menyadari peran dan posisi Kota Surabaya dalam peta pendidikan global.

Sejak 2016, Surabaya tercatat sebagai satu-satunya kota di Indonesia yang tergabung dalam UNESCO Global Network of Learning Cities (GNLC), sebuah jejaring kota-kota dunia yang berkomitmen menjadikan pembelajaran sebagai bagian integral dari kehidupan warganya. Lalu, pada 2017, Surabaya mendapat penghargaan Learning Cities Award, Penghargaan Kota Pembelajar dari UNESCO.

Saat itu Surabaya dianggap berhasil membangun ekosistem pembelajaran yang inklusif, berkelanjutan, serta berorientasi pada pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) melalui program seperti Kampung Pendidikan, Broadband Learning Center, serta dukungan akses teknologi di ruang-ruang publik. Surabaya membuktikan bahwa pendidikan bisa hadir dan tumbuh di luar tembok sekolah. Pendekatan itu sejalan dengan prinsip-prinsip UNESCO tentang pendidikan untuk semua, pendidikan berbasis komunitas, dan transformasi digital yang adil.

Era Digital
Kini pengakuan tersebut juga membawa tanggung jawab besar. Saat dunia pendidikan bergerak menuju era digital dengan segala kompleksitasnya, tantangan yang dihadapi Surabaya sebagai kota pembelajar makin beragam. Pada tahun ajaran 2023/2024, Kota Surabaya memiliki lebih dari 400 ribu siswa yang tersebar di berbagai jenjang pendidikan, mulai PAUD hingga pendidikan menengah atas dan kejuruan. Tanpa mengabaikan mereka yang menempuh pendidikan tinggi, jumlah siswa itu dapat menjadi pijakan bahwa gen Z dan gen Alpha bergerak mendominasi demografi Surabaya.

Studi Bucata (2023) dan Stout (2023) menyatakan, generasi Z, yang kini mendominasi ruang-ruang belajar, memiliki karakteristik yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh dalam dunia yang hiper-konektif, akrab dengan algoritma, dan terbiasa belajar secara mandiri melalui media digital. Dalam konteks ini, pendekatan pendidikan tradisional tidak lagi cukup.

Tantangan itu menang tidak hanya dihadapi Surabaya semata. Namun, tanggung jawab moral Surabaya sebagai kota pembelajar dunia menempatkan posisi Surabaya bukan sekadar kota yang membangun sekolah, melainkan juga sebagai ruang hidup yang memfasilitasi pembelajaran lintas usia, sektor, serta ruang. Hal itu sepenuhnya sejalan dengan misi UNESCO dalam GNLC yang mendorong kota-kota anggotanya untuk mengembangkan sistem pendidikan yang tidak hanya berbasis institusi, tetapi juga berbasis komunitas, keadilan sosial, dan keberlanjutan.

Menjaga Inklusivitas
Namun, integrasi nilai-nilai UNESCO itu tidaklah mudah. Tantangan utama bagi Surabaya adalah bagaimana menjaga inklusivitas di tengah percepatan digitalisasi. Meski akses internet dan infrastruktur teknologi sudah diperluas, kesenjangan digital masih membayangi. Mereka yang memiliki akses dan literasi digital akan melesat, sedangkan kelompok rentan –seperti lansia, masyarakat berpenghasilan rendah, dan penyandang disabilitas– berisiko tertinggal. Dalam konteks ini, prinsip leave no one behind yang menjadi pilar dalam agenda pembangunan berkelanjutan UNESCO harus terus menjadi acuan kebijakan pendidikan kota.

Selain itu, relevansi Surabaya sebagai kota pembelajar di era global dapat diperkuat dengan mendorong pembelajaran yang berorientasi pada nilai-nilai keberlanjutan, kewargaan global, dan literasi ekologi. UNESCO, melalui program-program seperti Education for Sustainable Development (ESD) dan Global Citizenship Education (GCED), menekankan pentingnya pendidikan yang membekali warga dengan kemampuan untuk berpikir kritis, memahami isu-isu global, serta bertindak secara etis.

Surabaya memiliki potensi besar untuk mengintegrasikan nilai-nilai itu dalam program-program lokalnya. Misalnya, melalui edukasi lingkungan di sekolah, pelatihan keterampilan hijau bagi komunitas, serta ruang diskusi publik tentang hak digital dan etika teknologi.

Participatory Learning
Pengalaman Surabaya selama ini juga menunjukkan bahwa pembelajaran tidak harus bersifat top-down. Banyak inisiatif warga dan komunitas yang tumbuh organik, mulai komunitas belajar literasi di kampung-kampung hingga relawan digital. Inisiatif seperti itu merupakan contoh konkret dari apa yang disebut UNESCO sebagai participatory learning culture –budaya belajar yang melibatkan partisipasi aktif warga, berbasis empati dan solidaritas.

Dalam refleksi Hari Pendidikan Nasional tahun ini, Surabaya bisa menjadi cermin sekaligus laboratorium pendidikan urban di Indonesia. Di kota ini ada lima universitas negeri dan belasan universitas swasta yang akan menjadi mitra potensial dalam kolaborasi.

Kota ini telah diakui UNESCO sudah memulai langkah penting menuju transformasi pendidikan yang partisipatif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Namun, pada dinamika global saat ini, tentu Surabaya harus mulai melakukan refleksi. Bagaimana pembaruan strategi yang lebih responsif terhadap dinamika generasi muda, kompleksitas global, serta tantangan lokal yang terus berkembang.

Lebih dari sekadar mempertahankan status sebagai kota pembelajar UNESCO, Surabaya perlu menjadikan predikat tersebut sebagai pijakan untuk inovasi kebijakan pendidikan yang berorientasi masa depan. Pendidikan tidak boleh hanya dilihat sebagai urusan dinas pendidikan atau sektor formal semata, tetapi sebagai misi kolektif seluruh pemangku kepentingan kota. Sebab, dalam dunia yang terus berubah, satu-satunya kota yang akan bertahan adalah kota yang terus belajar. (*)