Buka konten ini
Maraknya dugaan kasus bunuh diri di Batam dalam beberapa bulan terakhir memicu kekhawatiran banyak pihak. Psikolog Irfan Aulia menegaskan, pencegahan bisa dilakukan jika masyarakat dibekali edukasi mengenai kesehatan mental dan kemampuan menyelesaikan masalah.
“Orang yang sedang menghadapi tekanan hidup perlu diberi edukasi, bukan dihakimi. Tujuannya agar mereka bisa menyelesaikan masalah, bukan lari darinya,” ujarnya, Minggu (4/5).
Irfan menyebut, edukasi kesehatan mental berperan penting dalam membentuk ketahanan diri seseorang. Menurutnya, saat seseorang memiliki daya tahan mental yang baik, risiko mengambil keputusan ekstrem seperti bunuh diri bisa ditekan.
“Ini penting untuk cegah bunuh diri. Jangan diremehkan,” katanya.
Ia juga menyoroti peran media sosial (medsos) yang dinilai bisa memicu tindakan bunuh diri. Sebab, dalam sejumlah kasus, pelaku merasa akan mendapat pengakuan atau perhatian lewat tindakannya tersebut.
“Pemikirannya, menyakiti diri sendiri bisa membuat orang lain sadar atau simpati. Ini berbahaya,” ujarnya.
Irfan mengajak masyarakat untuk saling peduli terhadap kondisi psikologis orang di sekitar. Sekecil apapun, menurutnya, perhatian bisa menyelamatkan nyawa.
Sementara itu, salah satu kasus terbaru terjadi pada Rasman,warga Puri Asri, Nongsa. Ia ditemukan tewas dalam mobil dengan luka gorok di leher di wilayah Batam Center, Kamis (1/5) malam lalu. Polisi menduga korban mengalami depresi dan pernah dua kali mencoba bunuh diri sebelumnya.
Kapolsek Batam Kota, Kompol Anak Agung Made Winarta, mengimbau warga agar tidak memendam masalah sendirian. “Bicarakan dengan orang terdekat, seperti pasangan, saudara, atau teman,” pesannya.
Dokter Umum Terlatih Layani Kesehatan Jiwa di Puskesmas
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam memastikan seluruh puskesmas di Batam kini membuka layanan kesehatan jiwa. Meski belum memiliki psikolog di tiap fasilitas, namun setiap puskesmas sudah menempatkan dokter umum yang telah mendapatkan pelatihan untuk menangani gangguan kejiwaan.
”Setiap puskesmas sudah menjalankan deteksi dini kesehatan jiwa dan napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif) di masyarakat,” ujar Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, apabila ada pasien dengan gangguan jiwa yang tidak bisa ditangani di tingkat puskesmas, maka akan langsung dirujuk ke rumah sakit yang memiliki layanan kesehatan jiwa, seperti RSUD Embung Fatimah, RS Awal Bros, dan RS Bunda Halimah.
Langkah ini, kata Didi, merupakan bentuk respons atas meningkatnya kasus dugaan bunuh diri belakangan ini, yang diduga berkaitan dengan gangguan kesehatan mental.
“Meski belum tersedia psikolog di puskesmas, namun ke depan tidak menutup kemungkinan akan ada. Saat ini kami sedang fokus memperkuat layanan dasar,” ucapnya.
Upaya lain yang telah dilakukan, lanjut Didi, termasuk melakukan screening atau deteksi dini gangguan jiwa di sekolah-sekolah melalui puskesmas wilayah kerja masing-masing, kunjungan rumah bagi warga yang mengalami gangguan jiwa, hingga evakuasi dan rujukan pasien ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa) ke rumah sakit.
“Tujuan kami adalah mendekatkan akses layanan kesehatan jiwa ke masyarakat. Puskesmas bisa menjadi pintu pertama yang menjangkau lapisan masyarakat paling bawah,” ujarnya. (***)
Reporter : YOFI YUHENDRI / RENGGA YULIANDRA
Editor : RATNA IRTATIK