Buka konten ini
DI tengah berlangsungnya perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, tokoh masyarakat sekaligus pengusaha Batam, Datok Amat Tantoso, menilai bahwa situasi global tersebut justru membuka peluang besar bagi Indonesia, khususnya Batam. Menurutnya, Batam memiliki potensi besar untuk menarik lebih banyak investasi asing.
Ia mengatakan bahwa meski banyak pihak menilai ketegangan tarif antara Amerika dan Tiongkok membawa dampak negatif terhadap perdagangan global, kondisi ini justru dapat menjadi momen penting bagi Indonesia untuk menunjukkan posisinya sebagai negara yang netral dan ramah investasi.
“Memang banyak yang memandang negatif soal perang tarif ini. Tapi menurut saya, Indonesia justru berada di posisi yang menguntungkan. Kita netral, tidak berpihak ke Amerika maupun Tiongkok. Pemerintah juga sedang berupaya agar ekspor dari Indonesia ke Amerika tidak terlalu terdampak,” ujar Amat, Kamis (24/4).
Menurutnya, ketegangan dagang yang menyebabkan masing-masing negara menaikkan tarif impor membuat banyak pabrik di Tiongkok kesulitan. Produk-produk Tiongkok menjadi kurang kompetitif di pasar Amerika karena tingginya bea masuk. Hal ini menyebabkan banyak pabrik berhenti beroperasi dan merumahkan karyawan.
“Akibat perang tarif, perusahaan-perusahaan di Tiongkok tak bisa ekspor. Produksi menumpuk, sementara biaya operasional tinggi. Itu sangat merugikan mereka. Tapi Indonesia diuntungkan karena investor Tiongkok mulai mencari lokasi baru yang lebih aman untuk relokasi, dan Indonesia jadi salah satu tujuan utama,” ungkapnya.
Datok Amat Tantoso menilai peluang tersebut sangat besar, terutama bagi kawasan industri di Batam yang dikenal sebagai daerah perdagangan bebas (free trade zone) dan memiliki kedekatan geografis dengan Singapura.
“Investor dari Tiongkok sudah mulai melirik Batam. Dalam sebulan terakhir, banyak yang datang ke Jakarta dan Batam. Hampir setiap hari saya dihubungi pengusaha asal Tiongkok yang ingin melihat langsung kondisi di sini. Mereka serius ingin relokasi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa ketertarikan investor tidak hanya karena posisi Batam yang strategis, tetapi juga karena fasilitas pendukung industri, akses pelabuhan, dan ketersediaan tenaga kerja yang memadai. “Jika peluang ini dimanfaatkan dengan baik, kita bisa menciptakan ribuan lapangan kerja baru, bukan hanya untuk Batam, tapi juga untuk Indonesia secara keseluruhan,” ucapnya.
Menurut Amat, peluang besar lainnya bisa muncul melalui kerja sama strategis dengan negara tetangga, Singapura. Ia menjelaskan bahwa perbedaan tarif bea masuk antara Indonesia dan Singapura bisa dimanfaatkan.
“Saat ini, tarif bea masuk barang dari Indonesia ke Amerika sekitar 32 persen, sementara dari Singapura hanya 10 persen. Ini bisa dimanfaatkan melalui kolaborasi. Produksi tetap dilakukan di Batam, tapi atas nama perusahaan Singapura, sehingga ekspor ke Amerika hanya dikenakan pajak 10 persen,” jelasnya.
Ia menuturkan bahwa sejumlah perusahaan telah mulai menerapkan strategi tersebut. Produksi tetap dilakukan di Batam, namun dokumen ekspor menggunakan nama perusahaan yang berbasis di Singapura.
“Sudah ada indikasi perusahaan di Indonesia mendirikan perusahaan di Singapura untuk tujuan ini. Jadi barang tetap diproduksi di Batam, tapi di atas kertas itu adalah ekspor dari Singapura. Ini sah dan menguntungkan kedua pihak,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Datok Amat Tantoso juga mengajak Pemerintah Kota Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam untuk lebih aktif mempromosikan Batam sebagai destinasi investasi yang aman dan menjanjikan di tengah ketidakpastian global.
“Sekarang saat yang tepat bagi pemerintah dan pengusaha untuk berkolaborasi. Jangan tunggu, harus jemput bola. Batam punya kawasan industri yang luas, tinggal dimaksimalkan,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa jika momentum ini dilewatkan, Indonesia bisa kehilangan peluang besar. “Pengusaha itu ibarat burung. Mereka akan terbang dan berteduh di pohon yang rindang. Kita harus buat Batam jadi pohon rindang itu,” tuturnya.
Menanggapi kekhawatiran soal nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS, Tantoso menilai hal tersebut sebagai bagian dari dinamika politik dan ekonomi global yang bersifat sementara.
“Naiknya dolar ini lebih kepada politik dagang. Donald Trump itu juga pengusaha, jadi kebijakannya sangat bernuansa bisnis. Menurut saya, ini hanya sementara. Ekonomi Indonesia masih kuat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dalam situasi nilai tukar dolar yang tinggi, para eksportir justru mendapat keuntungan. “Dolar naik, eksportir malah senang. Mereka dapat selisih kurs yang besar. Ini justru harus dimanfaatkan,” pungkasnya.
Realiasi Investasi Kuartal Pertama Capai Rp465,2 Triliun
Sementara itu, realisasi investasi kuartal pertama tahun ini menunjukkan angka yang positif. Dalam paparan di Istana Kepresidenan RI, Rabu (23/4), Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menyebut total investasi yang masuk mencapai Rp465,2 triliun.
“Angka tersebut 24,4 persen dari target tahun ini sebesar Rp1.905,6 triliun,” kata Rosan.
Dia memerinci penanaman modal asing sebesar Rp230,4 triliun atau kontribusinya 49,5 persen, sementara penanaman modal dalam negeri Rp234,8 trilun (50,5 persen). Kemudian dari sebaran, investasi di Pulau Jawa masih mendominasi dengan Rp229,3 Triliun (49,3 persen), sedangkan luar Jawa secara akumulasi ada di angka Rp235,9 triliun (50,7 persen).
“Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu ada kenaikan 15,9 persen yang senilai Rp401,5 triliun. Atau naik 2,7 persen dibandingkan kuartal IV 2024 yang sebesar Rp452,8 triliun,” tuturnya.
Rosan mengklaim, meningkatnya investasi mengindikasikan kepercayaan investor terhadap Indonesia. Hal itu dipengaruhi stabilitas yang bisa diwujudkan pemerintah. “Di tengah tensi geopolitik yang meningkat, Alhamdulillah kita masih bisa mencapai target investasi,” katanya. (***)
Reporter : RENGGA YULIANDRA – JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG